Thursday, February 17, 2011
Sunday, January 30, 2011
maaf untuk seorang kawan
aku jadi mikir, sepertinya saya adalah orang yang kau maksud dalam setiap kebencian pada status dan note-mu. terus terang, aku jadi mikir. jika memang bukan aku, aku berarti salah. apa yang saya lakukan selama ini seperti menelpon kamu, sms, chatting, dll, adalah sebuah perbuatan yang berlebihan? maaf, kalo jawabannya adalah ya. terus terang, saya jadi nggak enak. pasalnya, aku sudah terbiasa bergaul dengan temen2 cewek, dan semuanya tak ada masalah. aku sudah merasa curiga ketika kamu berterus terang. mungkin, kamu menganggap saya sebagai pria single, seperti tertera di status fb. aku memang single. tapi, saya bukan open relationship. saya suka single, karena saya udah punya pilihan. maaf, jika obrolan saya selama ini memberikan kamu sebuah harapan. aku menolak ajak kamu untuk datang ke rumahmu, itu berarti aku tidak mau dibilangi tetanggamu sebagai "special man". saya sudah menjaga jarak. jika saya sering menelponmu, karena memang saya butuh kawan. maaf, jika ada harapan di hatimu. sumpah aku minta maaf. aku merasa nggak enak dengan banyaknya tulisan di facebook yang menyatakan kekesalan hati dan kekecewaan dengan seorang pria. jika pria itu adalah saya, maka saya minta maaf. jika kamu tetap mengeluh terus yang menjurus ke arah permasalahmu denganku, maka saya pun bisa bersikap. terima kasih
mohon maaf, saya juga sering menulis cerpen, novel, skenario, mengedit roman, dll. saya sedikit paham mengenai bahasa perempuan. mohon maaf jika saya menganggu hidupmu.
versi website bisa dilihat di nyongandikahendra.blogspot.com
mohon maaf, saya juga sering menulis cerpen, novel, skenario, mengedit roman, dll. saya sedikit paham mengenai bahasa perempuan. mohon maaf jika saya menganggu hidupmu.
versi website bisa dilihat di nyongandikahendra.blogspot.com
Wednesday, January 26, 2011
Mahfudzot
UMUR KECANTIKAN
Kehidupan paling sengsara bagi seorang wanita ialah yang ketika mudanya terkenal sangat cantik. Hal itu karena umur kecantikan sangat pendek.
Sementara itu, masa perbedaan antara wanita cantik dengan wanita yang tidak cantik hanyalah beberapa tahun.
EMPAT LARANGAN
Waspadalah terhadap empat macam keburukan : Sombong, dengki, marah (emosional) dan syahwat yang tidak terkendali.
* Angkuh dan sombong mencegah orang untuk mematuhi dan menaati perintah dan larangan syariat.
* Hasud (dengki) mencegah orang untuk menerima nasehat atau memberi nasehat.
* Marah (emosional) mencegah orang untuk berbuat adil.
* Mengikuti nafsu syahwat dapat mencegah orang menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allh SWT.
HAK YANG HARUS ANDA LAKSANAKAN
1. Hak Allah : Mengagungkan-Nya dan mensyukuri segala nikmat-Nya serta manjauhi syirik.
2. Hak Penguasa (Pemerintah) : Ketaatan dan kesetiaan anda.
3. Hak Diri : Giat dan semangat beribada, serta menjauhi perbutan dosa.
4. Hak Umat : Menjauhi gangguan dan perusakan, serta bergaul dengan baik.
5. Hak Suami-Istri : Menjaga dalam cinta dan kasih saying serta bergaul dengan ma`ruf.
TIGA MACAM KAWAN
1. Kawan yang selalu menerima kebaikan anda, sedangkan dia tidak member anda kebaikan.
2. Kawan yang selalu berhitung, yaitu dia berbuat baik kepada anda sesuai dengan kebaikan anda kepadanya.
3. Kawan yang senang berhubungan dengan anda tanpa pamrih.
HIDUP TAK TENTRAM
Tiga sifat yang menyebabkan penyandangnya tidak tentram dalam hidupnya :
1. Iri,
2. Dengki dan
3. Akhlak buruk.
BISIKAN-BISIKAN NAFSU BIRAHI, KEHENDAK, MAKSIAT DAN KEBIASAAN
Ukema` besar Ibnul Qayyim, berkata : “Pertahankanlah bisikan yang berdetak agar tetap dihatimu, kalau tidak hal itu akan berubah menjadi buah pikiran. Bila telah berubah, pertahankanlah semampumu agar ia tetap berada dalam pikiranmu. Dan kalau tidak mampu, ia akan menjadi nafsu birahi.
Kendalikan nafsu agar ia tertundukkan dan jika tidak akan lahir rencana buruk dalam bentuk kehendak. Jagalah kehendak itu karena kalau tidak sijaga niscaya akan menjadi perbuatan maksiat.
Kalau perbuatan maksiat tidak di cegah ia akan menjadi temanmu sebagai suatu kebiasaan dan adalah sulit bagi manusia meninggalkan suatu kebiasaan.”
DUA MACAM PENCURI
Seorang Ulama` besar Umar bin Ubaid melewatkan kerumunan orang-orang yang sedang berdiri.
Dia bertanya : “Apa maksud kerumunan orang-orang itu?”
Mereka menjawaab : “Sultan sedang melaksanakan hukukman potong tangan terehadap seoarang pencuri.”
Umar berkata lagi dengan suara lantang : “Laa Illaha Illallah. Pencuri terang-ternagan memotong tangan pencuri yang sembunyi-sembunyi.”
SEPULUH SIFAT KEBURUKAN
1. Penguasa yang menindas (Dzalim).
2. Kecurangan kaum bangsawan.
3. Hakim-hakim yang tidak jujur.
4. Para Ulama` yang menipu.
5. Orang-orang baik yang emosional (pemarah).
6. Orang-orang kaya yang kikir.
7. Kaum tua yang berbuat maksiat.
8. Para dokter yang sakit.
9. Orang fakir yang sombong.
10. Para qari Al-Qur`an yang menyombongkan diri.
MANUSIA TERBAGI MENJADI TIGA GOLONGAN
Al Hasan –Al Bashri berkata : “Manusia terbagi atas tiga golongan :
- Mereka yang mempunyai pendapat dan dimusyawarahkan.
- Mereka yang mempunyai pendapat, tetapi tidak suka dimusyawarahkan.
- Mereka yang tidak mempunyai pendapat dan tidak suka bermusyawarah.
EMPAT MACAM MANUSIA
1. Seseorang yang tahu dan mengetahui bahwa dia tahu. Itulah orang alim, maka ikutilah dia.
2. Seseorang yang tahu dan tidak mengetahu bahwa dia tahu. Itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah dia.
3. Seseorang yang tidak tahu dan mengetahu bahwa dia tidak tahu. Itulah orang yang membutuhkan petunjuk, maka ajarilah dia.
4. Seseorang yang tidak tahu dan tidak mengetahu bahwa dia tidak tahu. Itulah orang jahil (bodoh), maka jauhilah dia.
TIGA JENIS MATA YANG BAIK
Ada tiga jenis mata yang tidak akan menangis pada hari kiamat:
1. Mata yang selalu berjaga-jaga dan bersiaga bertempur dalam jihad di jalan Allah.
2. Mata yang selalu berpaling dari apa yang diharamkan Allah.
3. Mata yang selalu menangis di dunia karena takut kepada Allah dan menghaarapkan rahmat pengampunan dan ridho-Nya.
MENGUNCI LIDAH
Kuncilah lidahmu, kecuali dalam empat perkara:
- Menjelaskan yang hak.
- Menumbangkan yang bathil.
- Mensyukuri nikmat Allah.
- Mengutarakan hikmah kebijaksanaan.
MENYEPELKAN PERBUATAN MAKSIAT
Ulama’ besar ibnu Al-Jauzi berkata: “Mungkin orang yang berbuat maksiat selalu beranggapan positif dan tidak memikirkan dampak negative yang akan menimpanya, karena ia mengandalkan kondisinya yang sehat dan uangnya yang banyak. Padahal, cepat atau lambat perbuatan maksiat itu pasti akan mendatangkan akibat terhadap kesehatan badan dan harta kekayaan.
MENINGKATKAN KEMULIAAN
Ada tiga hal yang meningkatkan kemuliaan seseorang:
1. Memaafkan orang lain dan menghilangkan kesalahannya.
2. Memberi sesuatu kepada orang lain yang tidak member sesuatu kepadanya.
3. Menghubungkan silahturahmi dengan orang yang memutuskannya.
Ikhlas – Riya’ – Keserakahan
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang sifat ikhlas, gila pujian (riya’) dan serakah, kecuali seperti berkumpulnya air api atau berkumpulnya biawak dengan ikan.
Apabila anda ingin memiliki sifat ikhlas yang pertama kali anda lakukan ialah melenyapkan sifat serakah, kemudian menghindari sifat riya’ seperti sifat yang dimiliki pecinta dunia yang tidak memperdulikan kehidupkan akherat.
Apabila anda sudah melakukannya, mudahlah bagi anda memperoleh sifat ikhlas.
BUKTI KETAKWAAN
Bukti ketakwaan seorang muslim itu ada tiga:
1. Bertawakal dengan baik terhadap apa yang belum dicapainya.
2. Merasa ridho terhadap apa yang diperolehnya.
3. Bersikap sabar terhadap apa yang liput dari perolehannya.
INGIN MATI SAHID DAN MASUK SURGA
Seorang sahabat Rasulullah SAW. Yang baru masuk Islam ikut berperang bersama beliau. Seusai memenagkan peperangan, Rasulullah SAW. membagi-bagikan harta rampasan kepada para pejuang.
Orang itu memperoleh bagiannya dan dengan perasaan terheran-heran, dia bertanya kepada Rasulullah SAW.: “Mengapa aku harus menerima bagian harta ini? Bukan untuk ini aku berjihad, melainkan aku ingin sebuah anak panah menembus leherku ini (sambil menunuk bawah tenggorokannya) lalu aku mati sahid dan masuk surga”
Dalam peperangan berikutnya dia juga ikut serta. Seusai perang Rasulullah SAW. bertanya-tanya tentang orang itu yang ternyata telah gugur. Kemudian Rasulullah SW. mendatangi mayitnya dan melihat sebuah anak panah menembus persis di bagian leher yang pernah ditunjukkannya kepada beliau.
Dengan sangat terharu, Rasulullah SAW. bersabda:”Berbahagialah dia yang telah menginginkan mati sahid dan masuk surge dan kini dia telah memperolehnya.
FIQIH DAN HATI
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihyaa ‘ulumuddin berkata:
“Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqih. Jika fiqih mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqih. Sama halnya jika fiqih ikut campur dalam perkata teologi atau kedokteran, berarti ia telah keluar dari disiplin ilmu tersebut.”
EMPAT WAKTU
Sebagian ulama yang arif mengatakan:
“Setiap hamba Allah mempunyai empat waktu dan tidak ada kelimanya.
Keempat waktu itu ialah:
1. Waktu mendapatkan nikmat.
2. Waktu mendapat ujian dan cobaan.
3. Waktu melakukan ketaatan.
4. Waktu melakukan maksiat.
Pada setiap waktu tersebut, terdapat hak Allah sebagai Rabmu, yakni waktu beribadah kepada-Nya.
Barang siapa waktunya digunakan untuk mendapatkan kenikmatan Allah, jalannya ialah bersyukur kepada-Nya. Barang siapa waktunya mendapat ujian dan cobaan, jalannya ialah ridho dan sabar. Barang siapa waktunya untuk melakukan ketaatan,jalannya ialah anugrah Allah yang member petunjuk. Dan barang siapa waktunya untk melakukan maksiat, jalannya adalah bertaubat dan beristighfar.
SANDANG DAN PANGAN
Allah SWT. menyuruh manusia untuk menikmati, memanfaatan, membelanjakan rezeki (harta) yang baik yang telah dianugrahi-Nya kepada mereka.
Firman Allah ta’ala dalam hadist qudsi: “Makanlah sesukamu dan berpakainlah sesukamu. Ada dua hal yang termasuk kesalahanmu, yaitu berlebih-lebihan dan tertipu oleh kebanggaan diri sendiri.”
ADAB BERBICARA
Ibnul Muqaffa’ berkata kepada anaknya: “Belajarlah menyimak pembicaran orang dengan baik, sebagaimana engkau belajar berbicara dengan baik.”
Diantara menyimak pembicaraan orang dengan baik adalah membiarkannya berbicara sampai selesai, berilah sedikit komentar, tidak memalingkan muka, memandang kepada orang yang berbicara, dan menyadari apa yang diucapkannya.
SAUDARA DAN KAWAN
Seorang arif dan bijak bertanya: “Apakah anda mencintai saudara anda?”
Dijawabnya: “Saya tidak mencintai saudaraku kalau dia bukan kawanku.”
Memang benar kadangkala kawan, teman, atau sahabat lebih dicintai dari pada saudara sendiri meskipun sekandung.
AKHLAK MAJIKAN DAN AKHLAK BUDAK
Abdullah bin Thahir bercerita:
“Pada suatu hari Abu berada di sisi Amirul Mukmin Al-Ma’mun, putra Harun ar-Rasyid. Dia kemudian memanggil pembantunya seorang anak remaja Turki: “Ya ghulam!”
Anak itu datang dan berkata: “Tiap kali saya keluar dari sini, engkau selalu berteriak memanggil-manggil ‘Ya ghulam’. Sampai kapan panggilan ‘Ya ghulam’ kau serukan? Tidaklah seharusnya bagi seorang ghulam saat ini waktu makan dan minum?”
AL-Ma’mun hanya diam dan menunduk kepalanya. Aku mengira anak itu bakal dikenakan hukuman, tetapi ternyata tidak.
Al-Ma’mun kemudian mengangkat kepalanya dan berkata budaknya itu: “Kamu mulai sekarang bebas (merdeka) karena Allah..”
Kemudian Al-Ma’mun berkata: “Wahai Abdullah, jika seorang majikan berakhlak baik, maka akhlak pembantunya menjadi buruk. Dan bila ia berakhlak buruk, maka akhlaknya pembantunya menjadi baik. Namun, tidak sepatutnya kita memperburuk akhlak kita agar akhlak pembantu kita jadi baik.
SULTAN DAN DUA ORANG GILA
Seorang sultan atau raja ingin menghibur dirinya dan tertawa. Lalu dia mengharikan dua orang gila.
Setelah keduanya berbicara, sultan berlagak marah dan minta dibawakan pedang untuk memenggal leher mereka.
Mendengar niat sultan itu, salah seorang dari orang gila itu berkata kepada temannya: “Sebelumnya kita hanya dua orang, tetapi kini kita bertambah menjadi tiga orang.”
Mendengar ucapan itu sultan tertawa terbahak-bahak.
HIJRAH DARI AL-QUR’AN
Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang hijrah dari Al-Qur’an ialah:
1. Yang tidak mau mendengar dan mengimani Al-Qur’an.
2. Yang tidak mengamalkan isi Al-Qur’an meskipun dia membaca dan mangimaninya.
3. Yang tidak mau berhukum dan bertahkim dengan Al-Qur’an.
4. Yang tidak mau mendalami dan memahami arti-artinya.
KEIMANAN SA’AD YANG KOKOH
Sa’ad bin Abu Waqash bercerita: “Aku seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibuku. Setelah aku masuk Islam, ibuku bertanya: “Agama apakah yang kamu anuti, wahai Sa’ad?” Aku hanya diam dan tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, ibu menyuruhku meninggalkan Islam seraya mengancam: “Kalau kamu tidak meninggalkan agamamu yang baru, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati dan orang-orang akan mencelamu sebagai pembunuh ibumu.”
Sehari semalam ibuku tidak makan dan minum. Pada hari kedua, keluargaku menyuruhku menjenguk ibu yang sedang kepayahan.
Aku temui ibuku dan berkata kepadanya: “Demi Allah wahai ibu, andai kata ibu mempunyai seratus nyawa dan keluar satu demi satu sampai habis, aku tidak akan meninggalkan agama Islam. Terserah ibu mau makan atau minum.
Setelah menyadari kekokohan pendirianku, ibu pun akhirnya makan dan minum.”
KEKUATAN
Kekuatan materi atau fisik meliputi tubuh dan sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Kekuatan moral atau jiwa merupakan sifat-sifat mental yang selalu dan ingin dimiliki setiap orang.
Kekuatan rohani terbentuk dengan adanya kesadaran dan perasaan akan adanya hubungan dengan Allah atau dengan menghayati hubungan tersebut.
Kita wajib menjadikan kekuatan rihani sebagai harta simpanan yang takkan habis dan sirna, serta sebagai rahasia untuk meraih keberhasilan dan kemenangan.
MEMPEROLEH HIKMAH
Ibnul Qayyim berkata: “Jika hati seseorang telah diberi makanan berupa dzikir dan diberi minum berupa tafakur, serta bersih dari penyakit duniawi, akan tampak berbagai keajaiban dan ia akan memperoleh hikmah.”
DAKWAH ISLAMIYAH
Dakwah Islamiyah mengajarkan si bodoh agar mengeti, mengingat mereka yang lupa, dan memperingatkan yang sombong agar rendah diri dan rendah hati. Kemudian memberi petunjuk kepada yang kafir agar beriman dan yang musrik agar bertauhid, yang maksiat agar bertaubat dan menjadi ahli ibadah, dan yang ahli ibadah agar menjadi ahli sunnah. Dakwah Islamiyah juga membendung arus dakwah jahiliyah modern yang agresif dan destruktif, dengan mempertahankan dan menyebarkan kebenaran.
Karena itu, puncak Dakwah Islamiyah ialah memindahkan manusia dari neraka ke surga.
MATA UANG DARI BATU
Abu Mu’awiyah berkata: “Dari pagi hingga akhir hari aku bekerja memecah batu dengan palu godam.”
Dia ditanya: “Kalau demikian, anda pasti sangat lelah.”
Abu Mu’awiyah menjawab: “Ya, benar. Aku minta uang dari tangan orang-orang dan dari batu-batu, ternyata dari batu lebih mudah.
RESEP KEKAYAAN
Rockfeller adalah orang kaya sedunia pada masanya, dia ditanya oleh salah seorang kawannya: “Bagaimana cara anda dapat meraih kekayaan yang demikian melimpahnya?”
Rockfeller menjawab: “Aku meraihnya dengan empat cara. Yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyimpan harta, yaitu:
1. Jangan membeli barang apa-pun kecuali yang darurat (sangat dibutuhkan).
2. Menabungkan sebagian dari uang hasil usahanya.
3. Harus selalu berlaku jujur, terpercaya, dan teliti serta cermat dalam pekerjaan.
4. Membuang jauh-jauh segala adat-istiadat (kebiasaan) yang buruk.
AKAL – SYAHWAT – NAFSU
Dalam diri anda terhimpun akal dan budi malaikat, syahwat hewan, dan hawa nadsu setan.
Jika anda mampu mengendalikan dan menguasai syahwat maupun hawa nasfu, anda berkedudukan lebih tinggi dari pada malaikat. Namun, jika anda dikuasai oleh syahwat dan hawa nafsu, anda berkedudukan lebih rendah dari pada hewan dan setan.
Bayangkan, anjing pemburu yang terdidik behkan mampu menahan nafsu seleranya untuk tidak memakan hewan yang ditangkapnya. Dia mengharamkan bagi dirinya binatang tangkapan itu, kemudian ia serahkan kepada majikannya untuk dinikmati.
DUNIA
Tujuan utama sebagian besar umat manusia kini adalah meraih kesuksesan duniawi tanpa memperdulikan dari sumber manapun datangnya. Hati, lidah, dan seluruh anggota tubuh mereka sibuk siang-malam mencari kepentingan duniawi.
Karena ursan duniawi itulah, mendurhakai kedua orang tuanya dan memutuskan hubungan persaudaraan meskipun dengan saudara kandungnya. Karena urusan duniawi pula, seseorang rebut dengan tetangganya dan orang-orang yagn memiliki kaitan dengannya.
Urusan dan kepentingan duniawi juga menyebabkan umat manusia kini hidup dalam kegelisahan, ketakutan, dan ancaman mala-petaka. Kepentingan duniawi kini telah melenakan manusia dari mengingat Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rizki. Apabila mereka shalat, jasad-jasmaninya hadir, tetapi hatinya hanyut dalam urusan dan kepentingan duniawi.
Sebagai contoh nyata, kunjungilah pengadilan-pengadilan, anda akan menyaksikan keganjilan dan keanehan perilaku manusia. Penyebab yang paling utama ialah cinta duniawi yang belebih-lebihan sehingga mereka terjerumus dan hanyut kedalamnya.
INFAK
Nabi Isa Alaihissalam melewati kerumunan orang-orang Yahudi yang ketika melihatnya, melontarkan kata-kata kotor dak keji. Akan tetapi, Nabi Isa justru membalasnya dengan kata-kata yang baik.
Sesudah itu, Nabi Isa ditanya: “Mereka melontarkan kata-kata yang buruk dan keji, mengapa engkau membalasnya dengan kata-kata yang baik?”
Nabi Isa a.s. menjawab: “Masing-masing menginfakkan dari apa yang dimilikinya.”
http://giggsowen.student.umm.ac.id/islam/mahfudzot/
Kehidupan paling sengsara bagi seorang wanita ialah yang ketika mudanya terkenal sangat cantik. Hal itu karena umur kecantikan sangat pendek.
Sementara itu, masa perbedaan antara wanita cantik dengan wanita yang tidak cantik hanyalah beberapa tahun.
EMPAT LARANGAN
Waspadalah terhadap empat macam keburukan : Sombong, dengki, marah (emosional) dan syahwat yang tidak terkendali.
* Angkuh dan sombong mencegah orang untuk mematuhi dan menaati perintah dan larangan syariat.
* Hasud (dengki) mencegah orang untuk menerima nasehat atau memberi nasehat.
* Marah (emosional) mencegah orang untuk berbuat adil.
* Mengikuti nafsu syahwat dapat mencegah orang menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allh SWT.
HAK YANG HARUS ANDA LAKSANAKAN
1. Hak Allah : Mengagungkan-Nya dan mensyukuri segala nikmat-Nya serta manjauhi syirik.
2. Hak Penguasa (Pemerintah) : Ketaatan dan kesetiaan anda.
3. Hak Diri : Giat dan semangat beribada, serta menjauhi perbutan dosa.
4. Hak Umat : Menjauhi gangguan dan perusakan, serta bergaul dengan baik.
5. Hak Suami-Istri : Menjaga dalam cinta dan kasih saying serta bergaul dengan ma`ruf.
TIGA MACAM KAWAN
1. Kawan yang selalu menerima kebaikan anda, sedangkan dia tidak member anda kebaikan.
2. Kawan yang selalu berhitung, yaitu dia berbuat baik kepada anda sesuai dengan kebaikan anda kepadanya.
3. Kawan yang senang berhubungan dengan anda tanpa pamrih.
HIDUP TAK TENTRAM
Tiga sifat yang menyebabkan penyandangnya tidak tentram dalam hidupnya :
1. Iri,
2. Dengki dan
3. Akhlak buruk.
BISIKAN-BISIKAN NAFSU BIRAHI, KEHENDAK, MAKSIAT DAN KEBIASAAN
Ukema` besar Ibnul Qayyim, berkata : “Pertahankanlah bisikan yang berdetak agar tetap dihatimu, kalau tidak hal itu akan berubah menjadi buah pikiran. Bila telah berubah, pertahankanlah semampumu agar ia tetap berada dalam pikiranmu. Dan kalau tidak mampu, ia akan menjadi nafsu birahi.
Kendalikan nafsu agar ia tertundukkan dan jika tidak akan lahir rencana buruk dalam bentuk kehendak. Jagalah kehendak itu karena kalau tidak sijaga niscaya akan menjadi perbuatan maksiat.
Kalau perbuatan maksiat tidak di cegah ia akan menjadi temanmu sebagai suatu kebiasaan dan adalah sulit bagi manusia meninggalkan suatu kebiasaan.”
DUA MACAM PENCURI
Seorang Ulama` besar Umar bin Ubaid melewatkan kerumunan orang-orang yang sedang berdiri.
Dia bertanya : “Apa maksud kerumunan orang-orang itu?”
Mereka menjawaab : “Sultan sedang melaksanakan hukukman potong tangan terehadap seoarang pencuri.”
Umar berkata lagi dengan suara lantang : “Laa Illaha Illallah. Pencuri terang-ternagan memotong tangan pencuri yang sembunyi-sembunyi.”
SEPULUH SIFAT KEBURUKAN
1. Penguasa yang menindas (Dzalim).
2. Kecurangan kaum bangsawan.
3. Hakim-hakim yang tidak jujur.
4. Para Ulama` yang menipu.
5. Orang-orang baik yang emosional (pemarah).
6. Orang-orang kaya yang kikir.
7. Kaum tua yang berbuat maksiat.
8. Para dokter yang sakit.
9. Orang fakir yang sombong.
10. Para qari Al-Qur`an yang menyombongkan diri.
MANUSIA TERBAGI MENJADI TIGA GOLONGAN
Al Hasan –Al Bashri berkata : “Manusia terbagi atas tiga golongan :
- Mereka yang mempunyai pendapat dan dimusyawarahkan.
- Mereka yang mempunyai pendapat, tetapi tidak suka dimusyawarahkan.
- Mereka yang tidak mempunyai pendapat dan tidak suka bermusyawarah.
EMPAT MACAM MANUSIA
1. Seseorang yang tahu dan mengetahui bahwa dia tahu. Itulah orang alim, maka ikutilah dia.
2. Seseorang yang tahu dan tidak mengetahu bahwa dia tahu. Itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah dia.
3. Seseorang yang tidak tahu dan mengetahu bahwa dia tidak tahu. Itulah orang yang membutuhkan petunjuk, maka ajarilah dia.
4. Seseorang yang tidak tahu dan tidak mengetahu bahwa dia tidak tahu. Itulah orang jahil (bodoh), maka jauhilah dia.
TIGA JENIS MATA YANG BAIK
Ada tiga jenis mata yang tidak akan menangis pada hari kiamat:
1. Mata yang selalu berjaga-jaga dan bersiaga bertempur dalam jihad di jalan Allah.
2. Mata yang selalu berpaling dari apa yang diharamkan Allah.
3. Mata yang selalu menangis di dunia karena takut kepada Allah dan menghaarapkan rahmat pengampunan dan ridho-Nya.
MENGUNCI LIDAH
Kuncilah lidahmu, kecuali dalam empat perkara:
- Menjelaskan yang hak.
- Menumbangkan yang bathil.
- Mensyukuri nikmat Allah.
- Mengutarakan hikmah kebijaksanaan.
MENYEPELKAN PERBUATAN MAKSIAT
Ulama’ besar ibnu Al-Jauzi berkata: “Mungkin orang yang berbuat maksiat selalu beranggapan positif dan tidak memikirkan dampak negative yang akan menimpanya, karena ia mengandalkan kondisinya yang sehat dan uangnya yang banyak. Padahal, cepat atau lambat perbuatan maksiat itu pasti akan mendatangkan akibat terhadap kesehatan badan dan harta kekayaan.
MENINGKATKAN KEMULIAAN
Ada tiga hal yang meningkatkan kemuliaan seseorang:
1. Memaafkan orang lain dan menghilangkan kesalahannya.
2. Memberi sesuatu kepada orang lain yang tidak member sesuatu kepadanya.
3. Menghubungkan silahturahmi dengan orang yang memutuskannya.
Ikhlas – Riya’ – Keserakahan
Imam Ibnul Qayyim berkata:
“Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang sifat ikhlas, gila pujian (riya’) dan serakah, kecuali seperti berkumpulnya air api atau berkumpulnya biawak dengan ikan.
Apabila anda ingin memiliki sifat ikhlas yang pertama kali anda lakukan ialah melenyapkan sifat serakah, kemudian menghindari sifat riya’ seperti sifat yang dimiliki pecinta dunia yang tidak memperdulikan kehidupkan akherat.
Apabila anda sudah melakukannya, mudahlah bagi anda memperoleh sifat ikhlas.
BUKTI KETAKWAAN
Bukti ketakwaan seorang muslim itu ada tiga:
1. Bertawakal dengan baik terhadap apa yang belum dicapainya.
2. Merasa ridho terhadap apa yang diperolehnya.
3. Bersikap sabar terhadap apa yang liput dari perolehannya.
INGIN MATI SAHID DAN MASUK SURGA
Seorang sahabat Rasulullah SAW. Yang baru masuk Islam ikut berperang bersama beliau. Seusai memenagkan peperangan, Rasulullah SAW. membagi-bagikan harta rampasan kepada para pejuang.
Orang itu memperoleh bagiannya dan dengan perasaan terheran-heran, dia bertanya kepada Rasulullah SAW.: “Mengapa aku harus menerima bagian harta ini? Bukan untuk ini aku berjihad, melainkan aku ingin sebuah anak panah menembus leherku ini (sambil menunuk bawah tenggorokannya) lalu aku mati sahid dan masuk surga”
Dalam peperangan berikutnya dia juga ikut serta. Seusai perang Rasulullah SAW. bertanya-tanya tentang orang itu yang ternyata telah gugur. Kemudian Rasulullah SW. mendatangi mayitnya dan melihat sebuah anak panah menembus persis di bagian leher yang pernah ditunjukkannya kepada beliau.
Dengan sangat terharu, Rasulullah SAW. bersabda:”Berbahagialah dia yang telah menginginkan mati sahid dan masuk surge dan kini dia telah memperolehnya.
FIQIH DAN HATI
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihyaa ‘ulumuddin berkata:
“Sesungguhnya masalah hati berada di luar wilayah fiqih. Jika fiqih mencampuri urusan hati, tidak lagi dapat disebut fiqih. Sama halnya jika fiqih ikut campur dalam perkata teologi atau kedokteran, berarti ia telah keluar dari disiplin ilmu tersebut.”
EMPAT WAKTU
Sebagian ulama yang arif mengatakan:
“Setiap hamba Allah mempunyai empat waktu dan tidak ada kelimanya.
Keempat waktu itu ialah:
1. Waktu mendapatkan nikmat.
2. Waktu mendapat ujian dan cobaan.
3. Waktu melakukan ketaatan.
4. Waktu melakukan maksiat.
Pada setiap waktu tersebut, terdapat hak Allah sebagai Rabmu, yakni waktu beribadah kepada-Nya.
Barang siapa waktunya digunakan untuk mendapatkan kenikmatan Allah, jalannya ialah bersyukur kepada-Nya. Barang siapa waktunya mendapat ujian dan cobaan, jalannya ialah ridho dan sabar. Barang siapa waktunya untuk melakukan ketaatan,jalannya ialah anugrah Allah yang member petunjuk. Dan barang siapa waktunya untk melakukan maksiat, jalannya adalah bertaubat dan beristighfar.
SANDANG DAN PANGAN
Allah SWT. menyuruh manusia untuk menikmati, memanfaatan, membelanjakan rezeki (harta) yang baik yang telah dianugrahi-Nya kepada mereka.
Firman Allah ta’ala dalam hadist qudsi: “Makanlah sesukamu dan berpakainlah sesukamu. Ada dua hal yang termasuk kesalahanmu, yaitu berlebih-lebihan dan tertipu oleh kebanggaan diri sendiri.”
ADAB BERBICARA
Ibnul Muqaffa’ berkata kepada anaknya: “Belajarlah menyimak pembicaran orang dengan baik, sebagaimana engkau belajar berbicara dengan baik.”
Diantara menyimak pembicaraan orang dengan baik adalah membiarkannya berbicara sampai selesai, berilah sedikit komentar, tidak memalingkan muka, memandang kepada orang yang berbicara, dan menyadari apa yang diucapkannya.
SAUDARA DAN KAWAN
Seorang arif dan bijak bertanya: “Apakah anda mencintai saudara anda?”
Dijawabnya: “Saya tidak mencintai saudaraku kalau dia bukan kawanku.”
Memang benar kadangkala kawan, teman, atau sahabat lebih dicintai dari pada saudara sendiri meskipun sekandung.
AKHLAK MAJIKAN DAN AKHLAK BUDAK
Abdullah bin Thahir bercerita:
“Pada suatu hari Abu berada di sisi Amirul Mukmin Al-Ma’mun, putra Harun ar-Rasyid. Dia kemudian memanggil pembantunya seorang anak remaja Turki: “Ya ghulam!”
Anak itu datang dan berkata: “Tiap kali saya keluar dari sini, engkau selalu berteriak memanggil-manggil ‘Ya ghulam’. Sampai kapan panggilan ‘Ya ghulam’ kau serukan? Tidaklah seharusnya bagi seorang ghulam saat ini waktu makan dan minum?”
AL-Ma’mun hanya diam dan menunduk kepalanya. Aku mengira anak itu bakal dikenakan hukuman, tetapi ternyata tidak.
Al-Ma’mun kemudian mengangkat kepalanya dan berkata budaknya itu: “Kamu mulai sekarang bebas (merdeka) karena Allah..”
Kemudian Al-Ma’mun berkata: “Wahai Abdullah, jika seorang majikan berakhlak baik, maka akhlak pembantunya menjadi buruk. Dan bila ia berakhlak buruk, maka akhlaknya pembantunya menjadi baik. Namun, tidak sepatutnya kita memperburuk akhlak kita agar akhlak pembantu kita jadi baik.
SULTAN DAN DUA ORANG GILA
Seorang sultan atau raja ingin menghibur dirinya dan tertawa. Lalu dia mengharikan dua orang gila.
Setelah keduanya berbicara, sultan berlagak marah dan minta dibawakan pedang untuk memenggal leher mereka.
Mendengar niat sultan itu, salah seorang dari orang gila itu berkata kepada temannya: “Sebelumnya kita hanya dua orang, tetapi kini kita bertambah menjadi tiga orang.”
Mendengar ucapan itu sultan tertawa terbahak-bahak.
HIJRAH DARI AL-QUR’AN
Ibnul Qayyim berkata: “Orang yang hijrah dari Al-Qur’an ialah:
1. Yang tidak mau mendengar dan mengimani Al-Qur’an.
2. Yang tidak mengamalkan isi Al-Qur’an meskipun dia membaca dan mangimaninya.
3. Yang tidak mau berhukum dan bertahkim dengan Al-Qur’an.
4. Yang tidak mau mendalami dan memahami arti-artinya.
KEIMANAN SA’AD YANG KOKOH
Sa’ad bin Abu Waqash bercerita: “Aku seorang pemuda yang sangat berbakti kepada ibuku. Setelah aku masuk Islam, ibuku bertanya: “Agama apakah yang kamu anuti, wahai Sa’ad?” Aku hanya diam dan tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian, ibu menyuruhku meninggalkan Islam seraya mengancam: “Kalau kamu tidak meninggalkan agamamu yang baru, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati dan orang-orang akan mencelamu sebagai pembunuh ibumu.”
Sehari semalam ibuku tidak makan dan minum. Pada hari kedua, keluargaku menyuruhku menjenguk ibu yang sedang kepayahan.
Aku temui ibuku dan berkata kepadanya: “Demi Allah wahai ibu, andai kata ibu mempunyai seratus nyawa dan keluar satu demi satu sampai habis, aku tidak akan meninggalkan agama Islam. Terserah ibu mau makan atau minum.
Setelah menyadari kekokohan pendirianku, ibu pun akhirnya makan dan minum.”
KEKUATAN
Kekuatan materi atau fisik meliputi tubuh dan sarana-sarana yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Kekuatan moral atau jiwa merupakan sifat-sifat mental yang selalu dan ingin dimiliki setiap orang.
Kekuatan rohani terbentuk dengan adanya kesadaran dan perasaan akan adanya hubungan dengan Allah atau dengan menghayati hubungan tersebut.
Kita wajib menjadikan kekuatan rihani sebagai harta simpanan yang takkan habis dan sirna, serta sebagai rahasia untuk meraih keberhasilan dan kemenangan.
MEMPEROLEH HIKMAH
Ibnul Qayyim berkata: “Jika hati seseorang telah diberi makanan berupa dzikir dan diberi minum berupa tafakur, serta bersih dari penyakit duniawi, akan tampak berbagai keajaiban dan ia akan memperoleh hikmah.”
DAKWAH ISLAMIYAH
Dakwah Islamiyah mengajarkan si bodoh agar mengeti, mengingat mereka yang lupa, dan memperingatkan yang sombong agar rendah diri dan rendah hati. Kemudian memberi petunjuk kepada yang kafir agar beriman dan yang musrik agar bertauhid, yang maksiat agar bertaubat dan menjadi ahli ibadah, dan yang ahli ibadah agar menjadi ahli sunnah. Dakwah Islamiyah juga membendung arus dakwah jahiliyah modern yang agresif dan destruktif, dengan mempertahankan dan menyebarkan kebenaran.
Karena itu, puncak Dakwah Islamiyah ialah memindahkan manusia dari neraka ke surga.
MATA UANG DARI BATU
Abu Mu’awiyah berkata: “Dari pagi hingga akhir hari aku bekerja memecah batu dengan palu godam.”
Dia ditanya: “Kalau demikian, anda pasti sangat lelah.”
Abu Mu’awiyah menjawab: “Ya, benar. Aku minta uang dari tangan orang-orang dan dari batu-batu, ternyata dari batu lebih mudah.
RESEP KEKAYAAN
Rockfeller adalah orang kaya sedunia pada masanya, dia ditanya oleh salah seorang kawannya: “Bagaimana cara anda dapat meraih kekayaan yang demikian melimpahnya?”
Rockfeller menjawab: “Aku meraihnya dengan empat cara. Yang harus dilakukan oleh orang yang ingin menyimpan harta, yaitu:
1. Jangan membeli barang apa-pun kecuali yang darurat (sangat dibutuhkan).
2. Menabungkan sebagian dari uang hasil usahanya.
3. Harus selalu berlaku jujur, terpercaya, dan teliti serta cermat dalam pekerjaan.
4. Membuang jauh-jauh segala adat-istiadat (kebiasaan) yang buruk.
AKAL – SYAHWAT – NAFSU
Dalam diri anda terhimpun akal dan budi malaikat, syahwat hewan, dan hawa nadsu setan.
Jika anda mampu mengendalikan dan menguasai syahwat maupun hawa nasfu, anda berkedudukan lebih tinggi dari pada malaikat. Namun, jika anda dikuasai oleh syahwat dan hawa nafsu, anda berkedudukan lebih rendah dari pada hewan dan setan.
Bayangkan, anjing pemburu yang terdidik behkan mampu menahan nafsu seleranya untuk tidak memakan hewan yang ditangkapnya. Dia mengharamkan bagi dirinya binatang tangkapan itu, kemudian ia serahkan kepada majikannya untuk dinikmati.
DUNIA
Tujuan utama sebagian besar umat manusia kini adalah meraih kesuksesan duniawi tanpa memperdulikan dari sumber manapun datangnya. Hati, lidah, dan seluruh anggota tubuh mereka sibuk siang-malam mencari kepentingan duniawi.
Karena ursan duniawi itulah, mendurhakai kedua orang tuanya dan memutuskan hubungan persaudaraan meskipun dengan saudara kandungnya. Karena urusan duniawi pula, seseorang rebut dengan tetangganya dan orang-orang yagn memiliki kaitan dengannya.
Urusan dan kepentingan duniawi juga menyebabkan umat manusia kini hidup dalam kegelisahan, ketakutan, dan ancaman mala-petaka. Kepentingan duniawi kini telah melenakan manusia dari mengingat Sang Maha Pencipta dan Maha Pemberi Rizki. Apabila mereka shalat, jasad-jasmaninya hadir, tetapi hatinya hanyut dalam urusan dan kepentingan duniawi.
Sebagai contoh nyata, kunjungilah pengadilan-pengadilan, anda akan menyaksikan keganjilan dan keanehan perilaku manusia. Penyebab yang paling utama ialah cinta duniawi yang belebih-lebihan sehingga mereka terjerumus dan hanyut kedalamnya.
INFAK
Nabi Isa Alaihissalam melewati kerumunan orang-orang Yahudi yang ketika melihatnya, melontarkan kata-kata kotor dak keji. Akan tetapi, Nabi Isa justru membalasnya dengan kata-kata yang baik.
Sesudah itu, Nabi Isa ditanya: “Mereka melontarkan kata-kata yang buruk dan keji, mengapa engkau membalasnya dengan kata-kata yang baik?”
Nabi Isa a.s. menjawab: “Masing-masing menginfakkan dari apa yang dimilikinya.”
http://giggsowen.student.umm.ac.id/islam/mahfudzot/
Mahfudzot (Belajar Majas Arab)
1. مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
1. Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia
2. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia.
3. مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
3. Barang siapa sabar beruntunglah ia.
4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
4. Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ
5. Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.
6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
6. Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
7. Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.
8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ
8. Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
9. Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.
10. اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
10. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
11. Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
12. Waktu itu lebih mahal daripada emas.
13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسِْم السَّلِيْمِ
13. Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat.
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
14. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
15. Barang siapa menanam pasti akan memetik (mengetam).
16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ
16. Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan.
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ
17. Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.
18. العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ
18. Ilmu pengetahuan diwaktu kecil itu, bagaikan ukiran di atas batu.
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ
19. Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
20. Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar.
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَر
21. Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah.
22. الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
22. Bersatu adalah pangkal keberhasilan.
23. لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً
23. Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya.
24. الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ
24. Kemuliaan itu dengan adab kesopanan, (budi pekerti) bukan dengan keturunan.
25. سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
25. Keselamatan manusia itu dalam menjaga lidahnya (perkataannya).
26. آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
26. Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي
27. Kerusakan budi pekerti/akhlaq itu menular.
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْياَنُ
28. Bencana ilmu itu adalah lupa.
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
29. Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya.
30. لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ
30. Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai kelebihan.
31. أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
31. Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya orang-orang lain akan baik padamu.
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
32. Berpikirlah dahulu sebelum kamu berkemauan (merencanakan).
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
33. Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia.
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
34. Barang siapa menggali lobang, akan terperosoklah ia di dalamnya.
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
35. Musuh yang pandai, lebih baik daripada
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
36. Barang siapa banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya.
37. اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermala-malas dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu bagi orang yang bermalas-malas.
38. لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلىَ الغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
38. Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari, yang kamu dapat mengejakannya hari ini.
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
39. Tinggalkanlah kejahatan, niscaya ia (kejahatan itu) akan meninggalkanmu.
40. خَيْرُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَأَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
40. Sebaik-baik manusia itu, adalah yang terlebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia.
41. فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
41. Di dalam hati-hati itu adanya keselamatan, dan di dalam tergesa-gesa itu adanya penyesalan.
42. ثَمْرَةُ التَّفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَّلاَمَةُ
42. Buah sembrono/lengah itu penyesalan, dan buah cermat itu keselamatan.
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
43. Berlemah lembut kepada orang yang lemah itu, adalah suatu perangai orang yang mulia (terhormat).
44. فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
44. Pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama dengannya.
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ
45. Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya.
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
46. Barang siapa manir tutur katanya (perkataannya) banyaklah temannya.
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ
47. Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya.
48. مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ
48. Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai teman.
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
49. Katakanlah yang benar itu, walaupun pahit.
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu.
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا
51. Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahanya (yang sedang saja).
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
52. Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.
53. إِذاَ لمَ ْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
53. Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu (apa yang engkau kehendaki).
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلاً
54. Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir.
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
55. Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti.
56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ
56. Setiap pekerjaan itu ada upahnya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya.
57. وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُ دَائِماً
57. Dan pergaulilah manusia itu dengan apa-apa yang engkau sukai daripada mereka semuanya.
58. هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
58. Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
59.Pokok dosa itu, adalah kebohongan
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
60. Barang siapa menganiaya niscaya akan dianiaya.
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
61. Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan kesopanan.
62. لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
62. Janganlah engkau bersikap lemah, sehingga kamu akan diperas, dan janganlah kamu bersikap keras, sehingga kamu akan dipatahkan.
63. مَنْ أَعاَنَكَ عَلىَ الشَّرِّ ظَلَمَكَ
63. Barang siapa menolongmu dalam kejahatan maka ia telah menyiksamu.
64. أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
64. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas :
1). Kecerdasan
2). Kethoma’an (terhadap ilmu)
3). Kesungguhan
4). Harta benda (bekal)
5). Mempergauli guru
6). Waktu yang panjang
65. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلاً
65. Bekerja itu membuat yang sukar menjadi mudah.
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
66. Barang siapa berhati-hati niscaya mendapatkan apa-apa yang ia cita-citakan.
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصَّيْنِ
67. Carilah/tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.
68. النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ
68. Kebersihan itu sebagian dari iman.
69. إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المُسَاعِدُ
69. Kalau besar permintaannya maka sedikitlah penolongnya.
70. لاَ خَيْرَ فيِ لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَماً
70. Tidak ada baiknya sesuatu keenakan yang diiringi (oleh) penyesalan.
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
71. Pengaturan pekerjaan itu menabung sebanyak separohnya waktu.
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
72. Berapa banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh satu ibu.
73. دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam
74. الكَلاَمُ يَنْفُذُ مَالاَ تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
74. Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَباً
75. Bukan setiap yang mengkilat itu emas.
76. سِيْرَةُ المَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
76. Gerak-gerik seseorang itu menunjukkan rahasianya.
77. قِيْمِةُ المَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
77. Harga seseorang itu sebesar (sama nilainya) kebaikan yang telah diperbuatnya.
78. صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ
78. Temannmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa.
79. عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
79. Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah.
80. خَيْرُ الكَلاَمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
80. Sebaik-baik perkataan itu ialah yang sedikit dan memberi penjelasannya/jelas.
81. كُلُّ شَيْئٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلاَّ الأَدَبَ
81. Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti.
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
82. Permulaan marah itu adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan.
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ تَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
83. Hamba sahaya itu harus dipukul dengan tongkat, dan orang yang merdeka (bukan budak) cukuplah dengan isyarat.
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
84. Perhatikanlah apa-apa yang dikatakan (diucapkan) dan janganlah meperhatikan siapa yang mengatakan.
85. الحَسُوْدُ لاَ يَسُوْدُ
85. Orang yang pendengki itu tidak akan menjadi mulia.
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا
86. Tiap-tiap pekerjaan itu dengan penyelesaiannya.
87. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
sumber: http://nitigama.wordpress.com/2010/02/12/mahfudzot-kelas-1/
1. Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia
2. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia.
3. مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
3. Barang siapa sabar beruntunglah ia.
4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
4. Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.
5. جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ
5. Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.
6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
6. Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.
7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
7. Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.
8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ
8. Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.
9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
9. Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.
10. اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
10. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.
11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
11. Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.
12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
12. Waktu itu lebih mahal daripada emas.
13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسِْم السَّلِيْمِ
13. Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat.
14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
14. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.
15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
15. Barang siapa menanam pasti akan memetik (mengetam).
16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ
16. Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan.
17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ
17. Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.
18. العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ
18. Ilmu pengetahuan diwaktu kecil itu, bagaikan ukiran di atas batu.
19. لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ
19. Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.
20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
20. Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar.
21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَر
21. Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah.
22. الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
22. Bersatu adalah pangkal keberhasilan.
23. لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً
23. Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya.
24. الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ
24. Kemuliaan itu dengan adab kesopanan, (budi pekerti) bukan dengan keturunan.
25. سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
25. Keselamatan manusia itu dalam menjaga lidahnya (perkataannya).
26. آدَابُ المَرْءِ خَيْرٌ مِنْ ذَهَبِهِ
26. Adab seseorang itu lebih baik (lebih berharga) daripada emasnya.
27. سُوْءُ الخُلُقِ يُعْدِي
27. Kerusakan budi pekerti/akhlaq itu menular.
28. آفَةُ العِلْمِ النِّسْياَنُ
28. Bencana ilmu itu adalah lupa.
29. إِذَا صَدَقَ العَزْمُ وَضَحَ السَّبِيْلُ
29. Jika benar kemauannya niscaya terbukalah jalannya.
30. لاَ تَحْتَقِرْ مَنْ دُوْنَكَ فَلِكُلِّ شَيْئٍ مَزِيَّةٌ
30. Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai kelebihan.
31. أَصْلِحْ نَفْسَكَ يَصْلُحْ لَكَ النَّاسُ
31. Perbaikilah dirimu sendiri, niscaya orang-orang lain akan baik padamu.
32. فَكِّرْ قَبْلَ أَنْ تَعْزِمَ
32. Berpikirlah dahulu sebelum kamu berkemauan (merencanakan).
33. مَنْ عَرَفَ بُعْدَ السَّفَرِ اِسْتَعَدَّ
33. Barang siapa tahu jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia.
34. مَنْ حَفَرَ حُفْرَةً وَقَعَ فِيْهَا
34. Barang siapa menggali lobang, akan terperosoklah ia di dalamnya.
35. عَدُوٌّ عَاقِلٌ خَيْرٌ مِنْ صَدِيْقٍ جَاهِلٍ
35. Musuh yang pandai, lebih baik daripada
36. مَنْ كَثُرَ إِحْسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
36. Barang siapa banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya.
37. اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً فَنَدَامَةُ العُقْبىَ لِمَنْ يَتَكاَسَلُ
37. Bersungguh-sungguhlah dan jangan bermala-malas dan jangan pula lengah, karena penyesalan itu bagi orang yang bermalas-malas.
38. لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَكَ إِلىَ الغَدِ مَا تَقْدِرُ أَنْ تَعْمَلَهُ اليَوْمَ
38. Janganlah mengakhirkan pekerjaanmu hingga esok hari, yang kamu dapat mengejakannya hari ini.
39. اُتْرُكِ الشَّرَّ يَتْرُكْكَ
39. Tinggalkanlah kejahatan, niscaya ia (kejahatan itu) akan meninggalkanmu.
40. خَيْرُ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَأَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
40. Sebaik-baik manusia itu, adalah yang terlebih baik budi pekertinya dan yang lebih bermanfaat bagi manusia.
41. فيِ التَّأَنِّي السَّلاَمَةُ وَفيِ العَجَلَةِ النَّدَامَةُ
41. Di dalam hati-hati itu adanya keselamatan, dan di dalam tergesa-gesa itu adanya penyesalan.
42. ثَمْرَةُ التَّفْرِيْطِ النَّدَامَةُ وَثَمْرَةُ الحَزْمِ السَّلاَمَةُ
42. Buah sembrono/lengah itu penyesalan, dan buah cermat itu keselamatan.
43. الرِّفْقُ بِالضَّعِيْفِ مِنْ خُلُقِ الشَّرِيْفِ
43. Berlemah lembut kepada orang yang lemah itu, adalah suatu perangai orang yang mulia (terhormat).
44. فَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا
44. Pahala/imbalan suatu kejahatan itu adalah kejahatan yang sama dengannya.
45. تَرْكُ الجَوَابِ عَلىَ الجَاهِلِ جَوَابٌ
45. Tidak menjawab terhadap orang yang bodoh itu adalah jawabannya.
46. مَنْ عَذُبَ لِسَانُهُ كَثُرَ إِخْوَانُهُ
46. Barang siapa manir tutur katanya (perkataannya) banyaklah temannya.
47. إِذَا تَمَّ العَقْلُ قَلَّ الكَلاَمُ
47. Apabila akal seseorang telah sempurna maka sedikitlah bicaranya.
48. مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخٍ
48. Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai teman.
49. قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
49. Katakanlah yang benar itu, walaupun pahit.
50. خَيْرُ مَالِكَ مَا نَفَعَكَ
50. Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu.
51. خَيْرُ الأُمُوْرِ أَوْسَاطُهَا
51. Sebaik-baik perkara itu adalah pertengahanya (yang sedang saja).
52. لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
52. Tiap-tiap tempat ada kata-katanya yang tepat, dan pada setiap kata ada tempatnya yang tepat.
53. إِذاَ لمَ ْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
53. Apabila engkau tidak malu, maka berbuatlah sekehendakmu (apa yang engkau kehendaki).
54. لَيْسَ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ فَقِيْرًا بَلِ العَيْبُ لِمَنْ كَانَ بَخِيْلاً
54. Bukanlah cela itu bagi orang yang miskin, tapi cela itu terletak pada orang yang kikir.
55. لَيْسَ اليَتِيْمُ الَّذِي قَدْ مَاتَ وَالِدُهُ بَلِ اليَتِيْمُ يَتِيْمُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
55. Bukanlah anak yatim itu yang telah meninggal orang tuanya, tapi (sebenarnya) yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti.
56. لِكُلِّ عَمَلٍ ثَوَابٌ وَلِكُلِّ كَلاَمٍ جَوَابٌ
56. Setiap pekerjaan itu ada upahnya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya.
57. وَعَامِلِ النَّاسَ بِمَا تُحِبُّ مِنْهُ دَائِماً
57. Dan pergaulilah manusia itu dengan apa-apa yang engkau sukai daripada mereka semuanya.
58. هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ
58. Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.
59. رَأْسُ الذُّنُوْبِ الكَذِبُ
59.Pokok dosa itu, adalah kebohongan
60. مَنْ ظَلَمَ ظُلِمَ
60. Barang siapa menganiaya niscaya akan dianiaya.
61. لَيْسَ الجَمَالُ بِأَثْوَابٍ تُزَيِّنُنُا إِنَّ الجَمَالَ جمَاَلُ العِلْمِ وَالأَدَبِ
61. Bukanlah kecantikan itu dengan pakaian yang menghias kita, sesungguhnya kecantikan itu ialah kecantikan dengan ilmu dan kesopanan.
62. لاَ تَكُنْ رَطْباً فَتُعْصَرَ وَلاَ يَابِسًا فَتُكَسَّرَ
62. Janganlah engkau bersikap lemah, sehingga kamu akan diperas, dan janganlah kamu bersikap keras, sehingga kamu akan dipatahkan.
63. مَنْ أَعاَنَكَ عَلىَ الشَّرِّ ظَلَمَكَ
63. Barang siapa menolongmu dalam kejahatan maka ia telah menyiksamu.
64. أَخِي لَنْ تَنَالَ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيْكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَدِرْهَمٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُوْلُ زَمَانٍ
64. Saudaraku! Kamu tidak akan mendapatkan ilmu, kecuali dengan enam perkara, akan aku beritahukan perinciannya dengan jelas :
1). Kecerdasan
2). Kethoma’an (terhadap ilmu)
3). Kesungguhan
4). Harta benda (bekal)
5). Mempergauli guru
6). Waktu yang panjang
65. العَمَلُ يَجْعَلُ الصَّعْبَ سَهْلاً
65. Bekerja itu membuat yang sukar menjadi mudah.
66. مَنْ تَأَنَّى نَالَ مَا تَمَنَّى
66. Barang siapa berhati-hati niscaya mendapatkan apa-apa yang ia cita-citakan.
67. اُطْلُبِ العِلْمَ وَلَوْ بِالصَّيْنِ
67. Carilah/tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.
68. النَّظَافَةُ مِنَ الإِيْمَانِ
68. Kebersihan itu sebagian dari iman.
69. إِذَا كَبُرَ المَطْلُوْبُ قَلَّ المُسَاعِدُ
69. Kalau besar permintaannya maka sedikitlah penolongnya.
70. لاَ خَيْرَ فيِ لَذَّةٍ تَعْقِبُ نَدَماً
70. Tidak ada baiknya sesuatu keenakan yang diiringi (oleh) penyesalan.
71. تَنْظِيْمُ العَمَلِ يُوَفِّرُ نِصْفَ الوَقْتِ
71. Pengaturan pekerjaan itu menabung sebanyak separohnya waktu.
72. رُبَّ أَخٍ لَمْ تَلِدْهُ وَالِدَةٌ
72. Berapa banyak saudara yang tidak dilahirkan oleh satu ibu.
73. دَاوُوْا الغَضَبَ بِالصُّمْتِ
73. Obatilah kemarahan itu dengan diam
74. الكَلاَمُ يَنْفُذُ مَالاَ تَنْفُذُهُ الإِبَرُ
74. Perkataan itu dapat menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.
75. لَيْسَ كُلُّ مَا يَلْمَعُ ذَهَباً
75. Bukan setiap yang mengkilat itu emas.
76. سِيْرَةُ المَرْءِ تُنْبِئُ عَنْ سَرِيْرَتِهِ
76. Gerak-gerik seseorang itu menunjukkan rahasianya.
77. قِيْمِةُ المَرْءِ بِقَدْرِ مَا يُحْسِنُهُ
77. Harga seseorang itu sebesar (sama nilainya) kebaikan yang telah diperbuatnya.
78. صَدِيْقُكَ مَنْ أَبْكَاكَ لاَ مَنْ أَضْحَكَكَ
78. Temannmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa.
79. عَثْرَةُ القَدَمِ أَسْلَمُ مِنْ عَثْرَةِ اللِّسَانِ
79. Tergelincirnya kaki itu lebih selamat daripada tergelincirnya lidah.
80. خَيْرُ الكَلاَمِ مَا قَلَّ وَدَلَّ
80. Sebaik-baik perkataan itu ialah yang sedikit dan memberi penjelasannya/jelas.
81. كُلُّ شَيْئٍ إِذَا كَثُرَ رَخُصَ إِلاَّ الأَدَبَ
81. Segala sesuatu apabila banyak menjadi murah, kecuali budi pekerti.
82. أَوَّلُ الغَضَبِ جُنُوْنٌ وَآخِرُهُ نَدَمٌ
82. Permulaan marah itu adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan.
83. العَبْدُ يُضْرَبُ بِالعَصَا وَالحُرُّ تَكْفِيْهِ بِالإِشَارَةِ
83. Hamba sahaya itu harus dipukul dengan tongkat, dan orang yang merdeka (bukan budak) cukuplah dengan isyarat.
84. اُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
84. Perhatikanlah apa-apa yang dikatakan (diucapkan) dan janganlah meperhatikan siapa yang mengatakan.
85. الحَسُوْدُ لاَ يَسُوْدُ
85. Orang yang pendengki itu tidak akan menjadi mulia.
86. الأَعْمَالُ بِخَوَاتِمِهَا
86. Tiap-tiap pekerjaan itu dengan penyelesaiannya.
87. إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka.
فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar.
ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan.
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya.
إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu.
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun.
Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?
sumber: http://nitigama.wordpress.com/2010/02/12/mahfudzot-kelas-1/
Sunday, January 23, 2011
Thursday, January 20, 2011
Makna dan Bentuk Penerjemahan
We define meaning as the total network of relation s entered into by any linguistic form- text, item-in-text, structure, element of structure, class, term in system – or whatever it may be.
(Catford, 1980:35)
Makna merupakan bagian sentral sebuah aktifitas penerjemahan. Sebagian besar pakar penerjemahan melibatkan unsur makna (meaning) atau pesan (message) dalam definisinya tentang penerjemahan. Larson, misalnya, dalam bukunya menyatakan bahwa penerjemahan merupakan proses memindahkan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Secara explicit Larson menyatakan bahwa inti dari penerjemahan adalah pemindahan pesan. Pada bagian lain bukunya Larson juga menyebutkan bahwa penerjemahan pada dasarnya merupakan perubahan bentuk. Dari dua pernyataannya kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada yang berubah dalam proses penerjemahan tapi ada juga yang harus tetap dipertahankan.
Proses penerjemahan diawali dengan mengidentifikasi leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi dan konteks struktural teks bahasa sumber. Tahap selanjutnya adalah menganalisa untuk mendapatkan makna teks tersebut, baru kemudian merekonstruksi makna yang sama ini dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatika yang sesuai dengan bentuknya yang berterima dalam bahasa sasaran (Larson, 1984:2).
(dikutip dari Larson, 1984)
Dengan kata lain dalam prosesnya, seorang penerjemah mengubah struktur permukaan (surface structure) sebuah teks yaitu kata frasa klausa dan kalimat dalam rangka menyampaikan semirip mungkin struktur dalam (deep structure) teks bahasa sumber, yaitu makna, pesan atau informasi. Artinya, yang berubah dalam penerjemahan adalah struktur permukaan sementara struktur dalam yaitu makna justru dipertahankan semaksimal mungkin. It is meaning which is being transferred and must be constant (Larson, 1984:3).
Yang harus diketahui seorang penerjemah dalam proses rekonstruksi bentuk bahasa sumber ke bentuk bahasa sasaran adalah bahwa setiap bahasa punya cara yang berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan yang sama. Perbedaan itu bisa pada tataran leksis maupun tataran gramatika. Untuk menyatakan informasi yang sama, misalnya bahwa si pembicara menderita pusing, seorang pembicara bahasa Inggris akan mengatakan, “I have a dizzy”. Orang Indonesia mungkin akan mengatakan, “Kepala saya pusing”. Sementara orang Jawa mengatakan, “Sirahku mumet”. Artinya apabila kita menerjemahkan kalimat bahasa Inggris di atas dengan terjemahan literal, “Saya mempunyai rasa pusing” atau “aku nduwe rasa mumet” maka penutur bahasa Indonesia dan Jawa akan merasa kalimat itu tidak lazim bahkan mungkin pada kasus-kasus tertentu akan terjadi kesalahpahaman. Pengunaan leksis mempunyai untuk menyatakan rasa sakit tentu tidak lazim atau tidak berterima dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Pada tataran gramatika, sintaksis, jelas bahasa Inggris menggunakan struktur kalimat verbal sementara bahasa Indonesia dan Jawa memilih menggunakan kalimat nominal. Pilihan ini sama skali bersifat arbriter. Seorang penerjemah tidak bisa selalu terikat oleh bentuk leksikal maupun gramatikal bahasa sumbernya. Bila ia gagal melakukannya maka hasil terjemahan akan terdengar tidak wajar menurut penutur bahasa sasaran.
Pada tataran leksis kata merupakan sebuah paket komponen makna yang di kombinasikan pada elemen leksis. Sementara komponen makna dikemas secara berbeda pada setiap bahasa (Larson, 1984:55). Proses penerjemahan juga menjadi rumit mengingat tidak ada kata yang mempunyai mempunyai komponen makna persis dari satu bahasa ke bahasa lain. There is no one-to-one correspondence between orthobraphic words and elements of meaning within or across language. (Baker, 1992:11) Jadi seorang penerjemah harus mengurai komponen makna sebuah kata BSU sebelum dia merepresentasikannya kembali kedalam BSA. Kata stallion misalnya mengandung komponen makna kuda dan jantan. ketika kita menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak memiliki sebuah kata yang mengandungi kedua komponen makna tersebut, kita ‘terpaksa’ menggunakan dua kata yaitu ‘kuda jantan’ untuk merepresentasikan kata stallion. Ini terjadi mungkin karena kultur bahasa Inggris berkecimpung banyak dalam bidang perkudaan sehingga mereka mempunyai leksis yang kaya dalam bidang ini. Palmer dalam Baker menyatakan bahwa kata-kata pada sebuah bahasa tidak merefleksikan realitas dunia, melainkan merupakan cerminan ketertarikan orang-orang pemakai bahasa tersebut. (Baker, 1992:18)
Pada kasus-kasus yang lebih kompleks, seorang penerjemah harus sangat berhati-hati ketika beurusan dengan makna.Mengalihkan bentuk sebuah bahasa secara literal kedalam bentuknya pada bahasa lain sering akan mengubah maknanya sama sekali (Larson, 1984:19) Ini juga yang membuat peroses penerjemahan menjadi kompleks, terutama ketika seorang penerjemah berhadapan dengan bentuk-bentuk metafora atau makna konotatif. Kalimat ‘He is like a dog’ secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti ‘Dia seperti anjing’. Pernerjemahan di atas jelas menimbulkan bias makna yang fatal. Makna ‘dia orang yang sangat setia’ menjadi hilang, tidak tersampaikan, karena penerjemah tidak berhasil menangkap makna dan pesan dari kalimat tersebut. Mestinya seorang penerjemah akan berusaha mencari maksud dari ungkapan itu dengan cara memahami budaya teks bahasa sumber. Makna yang menggambarkan kesetiaan tertangkap bila kita memahami bahwa anjing merupakan symbol kesetiaan dari kultur barat.
Pada kasus lain, misalnya, seperti yang dicotohkan Suryawinata (2003) sebuah ungkapan pada kitab injil dalam versi bahasa Inggris terdapat sebuah ungkapan “lamb of God” yang dalam bahasa Indonesia bias diartikan “domba Allah. Penerjemahan kata “lamb” menjadi “domba’ dalam bahasa Indonesia tidak menjadi masalah karena dalam metafora bahasa Indonesia kata “domba” mengandung pesan suatu gambaran ketidakberdosaan. Ketika ungkapan ini diterjemahkan ke dalam bahasa orang Eskimo, penerjemahan “lamb” menjadi domba dalam bahasa mereka menjadi bermasalah karena dalam keseharian mereka tidak mengenal domba. Seorang penerjemah, oleh karena itu, harus mencari kata, dalam bahasa mereka, yang bisa merepresentasikan makna “ketidakberdosaan”. Kata “anjing laut” dipilih untuk padanan kata”lamb” karena dianggap bias merepresentasikan makna di atas sehingga bentuk terjemahan dalam bahasa orang Eskimo ungkapan “lamb of God” menjadi “anjing laut Tuhan”
Perbedaan pilihan bentuk leksis maupun gramatika dari satu bahasa dan bahasa lainnya menyadarkan seorang penerjemah untuk slalu berhati-hati dalam memindahkan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran. Jelaslah kiranya bahwa kesamaan bentuk dan makna yang sepenuhnya sejajar sulit dijumpai dalam penerjemahan. (Machali, 2000:144)
(Catford, 1980:35)
Makna merupakan bagian sentral sebuah aktifitas penerjemahan. Sebagian besar pakar penerjemahan melibatkan unsur makna (meaning) atau pesan (message) dalam definisinya tentang penerjemahan. Larson, misalnya, dalam bukunya menyatakan bahwa penerjemahan merupakan proses memindahkan makna dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Secara explicit Larson menyatakan bahwa inti dari penerjemahan adalah pemindahan pesan. Pada bagian lain bukunya Larson juga menyebutkan bahwa penerjemahan pada dasarnya merupakan perubahan bentuk. Dari dua pernyataannya kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada yang berubah dalam proses penerjemahan tapi ada juga yang harus tetap dipertahankan.
Proses penerjemahan diawali dengan mengidentifikasi leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi dan konteks struktural teks bahasa sumber. Tahap selanjutnya adalah menganalisa untuk mendapatkan makna teks tersebut, baru kemudian merekonstruksi makna yang sama ini dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatika yang sesuai dengan bentuknya yang berterima dalam bahasa sasaran (Larson, 1984:2).
(dikutip dari Larson, 1984)
Dengan kata lain dalam prosesnya, seorang penerjemah mengubah struktur permukaan (surface structure) sebuah teks yaitu kata frasa klausa dan kalimat dalam rangka menyampaikan semirip mungkin struktur dalam (deep structure) teks bahasa sumber, yaitu makna, pesan atau informasi. Artinya, yang berubah dalam penerjemahan adalah struktur permukaan sementara struktur dalam yaitu makna justru dipertahankan semaksimal mungkin. It is meaning which is being transferred and must be constant (Larson, 1984:3).
Yang harus diketahui seorang penerjemah dalam proses rekonstruksi bentuk bahasa sumber ke bentuk bahasa sasaran adalah bahwa setiap bahasa punya cara yang berbeda dalam menyampaikan sebuah pesan yang sama. Perbedaan itu bisa pada tataran leksis maupun tataran gramatika. Untuk menyatakan informasi yang sama, misalnya bahwa si pembicara menderita pusing, seorang pembicara bahasa Inggris akan mengatakan, “I have a dizzy”. Orang Indonesia mungkin akan mengatakan, “Kepala saya pusing”. Sementara orang Jawa mengatakan, “Sirahku mumet”. Artinya apabila kita menerjemahkan kalimat bahasa Inggris di atas dengan terjemahan literal, “Saya mempunyai rasa pusing” atau “aku nduwe rasa mumet” maka penutur bahasa Indonesia dan Jawa akan merasa kalimat itu tidak lazim bahkan mungkin pada kasus-kasus tertentu akan terjadi kesalahpahaman. Pengunaan leksis mempunyai untuk menyatakan rasa sakit tentu tidak lazim atau tidak berterima dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Pada tataran gramatika, sintaksis, jelas bahasa Inggris menggunakan struktur kalimat verbal sementara bahasa Indonesia dan Jawa memilih menggunakan kalimat nominal. Pilihan ini sama skali bersifat arbriter. Seorang penerjemah tidak bisa selalu terikat oleh bentuk leksikal maupun gramatikal bahasa sumbernya. Bila ia gagal melakukannya maka hasil terjemahan akan terdengar tidak wajar menurut penutur bahasa sasaran.
Pada tataran leksis kata merupakan sebuah paket komponen makna yang di kombinasikan pada elemen leksis. Sementara komponen makna dikemas secara berbeda pada setiap bahasa (Larson, 1984:55). Proses penerjemahan juga menjadi rumit mengingat tidak ada kata yang mempunyai mempunyai komponen makna persis dari satu bahasa ke bahasa lain. There is no one-to-one correspondence between orthobraphic words and elements of meaning within or across language. (Baker, 1992:11) Jadi seorang penerjemah harus mengurai komponen makna sebuah kata BSU sebelum dia merepresentasikannya kembali kedalam BSA. Kata stallion misalnya mengandung komponen makna kuda dan jantan. ketika kita menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak memiliki sebuah kata yang mengandungi kedua komponen makna tersebut, kita ‘terpaksa’ menggunakan dua kata yaitu ‘kuda jantan’ untuk merepresentasikan kata stallion. Ini terjadi mungkin karena kultur bahasa Inggris berkecimpung banyak dalam bidang perkudaan sehingga mereka mempunyai leksis yang kaya dalam bidang ini. Palmer dalam Baker menyatakan bahwa kata-kata pada sebuah bahasa tidak merefleksikan realitas dunia, melainkan merupakan cerminan ketertarikan orang-orang pemakai bahasa tersebut. (Baker, 1992:18)
Pada kasus-kasus yang lebih kompleks, seorang penerjemah harus sangat berhati-hati ketika beurusan dengan makna.Mengalihkan bentuk sebuah bahasa secara literal kedalam bentuknya pada bahasa lain sering akan mengubah maknanya sama sekali (Larson, 1984:19) Ini juga yang membuat peroses penerjemahan menjadi kompleks, terutama ketika seorang penerjemah berhadapan dengan bentuk-bentuk metafora atau makna konotatif. Kalimat ‘He is like a dog’ secara harfiah dalam bahasa Indonesia berarti ‘Dia seperti anjing’. Pernerjemahan di atas jelas menimbulkan bias makna yang fatal. Makna ‘dia orang yang sangat setia’ menjadi hilang, tidak tersampaikan, karena penerjemah tidak berhasil menangkap makna dan pesan dari kalimat tersebut. Mestinya seorang penerjemah akan berusaha mencari maksud dari ungkapan itu dengan cara memahami budaya teks bahasa sumber. Makna yang menggambarkan kesetiaan tertangkap bila kita memahami bahwa anjing merupakan symbol kesetiaan dari kultur barat.
Pada kasus lain, misalnya, seperti yang dicotohkan Suryawinata (2003) sebuah ungkapan pada kitab injil dalam versi bahasa Inggris terdapat sebuah ungkapan “lamb of God” yang dalam bahasa Indonesia bias diartikan “domba Allah. Penerjemahan kata “lamb” menjadi “domba’ dalam bahasa Indonesia tidak menjadi masalah karena dalam metafora bahasa Indonesia kata “domba” mengandung pesan suatu gambaran ketidakberdosaan. Ketika ungkapan ini diterjemahkan ke dalam bahasa orang Eskimo, penerjemahan “lamb” menjadi domba dalam bahasa mereka menjadi bermasalah karena dalam keseharian mereka tidak mengenal domba. Seorang penerjemah, oleh karena itu, harus mencari kata, dalam bahasa mereka, yang bisa merepresentasikan makna “ketidakberdosaan”. Kata “anjing laut” dipilih untuk padanan kata”lamb” karena dianggap bias merepresentasikan makna di atas sehingga bentuk terjemahan dalam bahasa orang Eskimo ungkapan “lamb of God” menjadi “anjing laut Tuhan”
Perbedaan pilihan bentuk leksis maupun gramatika dari satu bahasa dan bahasa lainnya menyadarkan seorang penerjemah untuk slalu berhati-hati dalam memindahkan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran. Jelaslah kiranya bahwa kesamaan bentuk dan makna yang sepenuhnya sejajar sulit dijumpai dalam penerjemahan. (Machali, 2000:144)
Makna Referensial dan Makna Organisasional dalam Penerjemahan
Ketika kita mendengar kata kursi, yang terbayang dalam pikiran kita adalah sebuah tempat untuk duduk, terbuat dari kayu atau lainnya. Kita menyebut benda itu kursi karena orang orang mengatakannya demikian. Kata kursi mengacu pada benda pada pengalaman sehari-hari kita, maka dari itu kita sebut makna acuan/referensial. Ini merupakan jenis makna yang paling pokok dan menjadi acuan sebuah kata sebelum kita menghubungkannya dengan makna-makna yang lain. Beberapa pakar lain, seperti Nababan dan suryawinata, menyebut ini dengan nama makna leksikal atau makna seperti yang tertera di dalam kamus. Makna referensial atau leksikal bersifat mandiri. Artinya, makna referensial atau leksikal bersifat individual yang membedakannya dengan kata lain seperti yang disampaikan Zgusta dalam Baker (1992:12) bahwa setiap kata atau unit leksikal mempunyai sesuatu yang bersifat individual yang membuatnya berbeda dengan kata lain dan makna leksikallah yang merupakan perangkat individual yang paling outstanding dari sebuah kata.
Makna referensial disusun kedalam sebuah struktur semantic. Bundelan informasi ini dikemas dan kemudian bersama dengan unsure-unsur leksikal lain disusun untum membentuk sebuah struktur yang lebih besar. Ini bisa dari sebuah kata monomorphemic menjadi kata lain yang polymorphemic misalnya ‘besar’ menjadi membesar atau dari sebuah kata menjadi frasa, klause kalimat dan seterusnya. Ketika sebuah unit leksikal kemudian diletakan kedalam sebuah struktur gramatikal yang lebih besar maka timbulah makna gramatikal atau makna organisasional. Sperti yang di sampaikan oleh suryawnata (2003) bahwa makna gramatikal adalah makna yang yang diperoleh dari bentukan, atau susunan atau urutan kata dalam frasa atau kalimat.
Makna gramatikal atau organisasional juga menentukan acuan sebuah kata pada sebuah kalimat. Makna ini bisa ditandai denga deictic, pengulangan, pengelompokan atau perangkat lain pada struktur gramatikal sebuah tekx (Larson, 1982: 37). Dari dua proposisi Marry peeled an apple dan Marry ate an apple, kita bias membuat beberapa pernyataan sekaligus. Bila yang kita maksud hanya ada satu Marry dan satu apel, kita akan menyusunya menjadi: Marry peeled an apple and then she ate it. Penggunaan pronominal she dan it menunjukan bahwa hanya ada satu Marry dan satu apel. Tapi bila yang kita maksud ada satu Marry dan dua apel yang berbeda kita myesunnya sebagai berikut; Marry peeled an apple but she ate another one. Demikian juga apabila yang kita maksud ada dua Marry dan satu apel, maka kita menyusunnya menjadi: Marry peeled an apple and then the other Marry ate it. (Larson, 1984:37)
Makna referensial disusun kedalam sebuah struktur semantic. Bundelan informasi ini dikemas dan kemudian bersama dengan unsure-unsur leksikal lain disusun untum membentuk sebuah struktur yang lebih besar. Ini bisa dari sebuah kata monomorphemic menjadi kata lain yang polymorphemic misalnya ‘besar’ menjadi membesar atau dari sebuah kata menjadi frasa, klause kalimat dan seterusnya. Ketika sebuah unit leksikal kemudian diletakan kedalam sebuah struktur gramatikal yang lebih besar maka timbulah makna gramatikal atau makna organisasional. Sperti yang di sampaikan oleh suryawnata (2003) bahwa makna gramatikal adalah makna yang yang diperoleh dari bentukan, atau susunan atau urutan kata dalam frasa atau kalimat.
Makna gramatikal atau organisasional juga menentukan acuan sebuah kata pada sebuah kalimat. Makna ini bisa ditandai denga deictic, pengulangan, pengelompokan atau perangkat lain pada struktur gramatikal sebuah tekx (Larson, 1982: 37). Dari dua proposisi Marry peeled an apple dan Marry ate an apple, kita bias membuat beberapa pernyataan sekaligus. Bila yang kita maksud hanya ada satu Marry dan satu apel, kita akan menyusunya menjadi: Marry peeled an apple and then she ate it. Penggunaan pronominal she dan it menunjukan bahwa hanya ada satu Marry dan satu apel. Tapi bila yang kita maksud ada satu Marry dan dua apel yang berbeda kita myesunnya sebagai berikut; Marry peeled an apple but she ate another one. Demikian juga apabila yang kita maksud ada dua Marry dan satu apel, maka kita menyusunnya menjadi: Marry peeled an apple and then the other Marry ate it. (Larson, 1984:37)
Makna Situasional/Kontekstual dan Makna Tekstual dalam Penerjemahan
Ketika memahami sebuah teks pemahaman kita tidak mungkin hanya berhenti pada makna referensial dan organisasional karena pesan sebuah teks lahir dari suatu situasi kemunikasi yang spesifik. Larson (1984) mengatakan bahwa situasi di mana sebuah kata digunakan juga sangat penting terhadap makna keseluruhan sebuah kata.
Makna juga kemudian muncul secara berbeda tergantung siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara dan dalam situasi seperti apa teks itu muncul.
Kemudian lebih jauh makna sebuah teks maupun ujaran juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural serta status sosial masing-masing yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Ungkapan “White as a snow” akan sulit di pahami oleh seseorang yang hidup di wilayah yang tidak mengenal salju. Seorang penerjemah harus berpikir keras mencari sifat apa yang disimbolkan dari kata salju dan kemudian mencari padanannya yang sedekat mungkin sesuai dengan kultur bahasa target. “Putih seputih kapas” mungkin padanan yang paling mendekati untuk bahasa di mana masyarakatnya mempunyai basis kultur agraris. Untuk bahasa dengan basis kultur yang berbeda mungkin “putih seputih awan” menjadi padanan yang tepat. Seorang penerjemah harus menyadari sebuah kata atau ungkapan oleh konteks situasi atau budaya (Larson, 1984:131)
Makna sebuah kata juga ditentukan oleh hubungannya dengan unit-unit lain pada sebuah teks. Suryawinata (2003) mangatakan bahwa makna tekstual adalah makna yang timbul dari stuasi atau konteks di mana frasa, kalimat atau ungkapan tersebut dipakai. Bahkan perbedaan genre suatu teks pun ikut menentukan makna seperti yang dikatakan Nababan (2003) bahwa makna tekstual berkaitan dengan isi suatu teks atau wacana dan perbedaan jenis teks dapat pula menimbulkan makna suatu kata menjadi berbeda.
Kata bear, misalkan, ketika muncul pada teks yang berbeda akan memperoleh makna yang berbeda pula. Seperti yang dicontohkan oleh Machali (2000):
1) I can’t bear it anymore
2) She can’t bear children, since her womb was removed during a cancer operation.
3) He shot a bear among the trees.
Pada contoh nomer satu di atas nampak kata ‘bear’ berarti ‘tahan’ atau lengkapnya ‘Saya tidak tahan lagi’. Sementara pada kalimat kedua ‘bear’ berarti ‘melahirkan’, dalam konteks melahirkan bayi. Bahkan pada kalimat ketiga kata yang sama ‘bear’ berfungsi sebagai kata benda yang berarti ‘beruang’. Seorang penerjemah yang tidak memperhatikan bagaimana sebuah kata muncul bersama kata-kata lainnya di dalam teks akan mengalami kesulitan untuk menentukan makna yang tepat sebuah kata. Bahkan pada kasus-kasus tertentu bisa berakibat fatal bagi proses penerjemahan.
Makna juga kemudian muncul secara berbeda tergantung siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara dan dalam situasi seperti apa teks itu muncul.
Kemudian lebih jauh makna sebuah teks maupun ujaran juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural serta status sosial masing-masing yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Ungkapan “White as a snow” akan sulit di pahami oleh seseorang yang hidup di wilayah yang tidak mengenal salju. Seorang penerjemah harus berpikir keras mencari sifat apa yang disimbolkan dari kata salju dan kemudian mencari padanannya yang sedekat mungkin sesuai dengan kultur bahasa target. “Putih seputih kapas” mungkin padanan yang paling mendekati untuk bahasa di mana masyarakatnya mempunyai basis kultur agraris. Untuk bahasa dengan basis kultur yang berbeda mungkin “putih seputih awan” menjadi padanan yang tepat. Seorang penerjemah harus menyadari sebuah kata atau ungkapan oleh konteks situasi atau budaya (Larson, 1984:131)
Makna sebuah kata juga ditentukan oleh hubungannya dengan unit-unit lain pada sebuah teks. Suryawinata (2003) mangatakan bahwa makna tekstual adalah makna yang timbul dari stuasi atau konteks di mana frasa, kalimat atau ungkapan tersebut dipakai. Bahkan perbedaan genre suatu teks pun ikut menentukan makna seperti yang dikatakan Nababan (2003) bahwa makna tekstual berkaitan dengan isi suatu teks atau wacana dan perbedaan jenis teks dapat pula menimbulkan makna suatu kata menjadi berbeda.
Kata bear, misalkan, ketika muncul pada teks yang berbeda akan memperoleh makna yang berbeda pula. Seperti yang dicontohkan oleh Machali (2000):
1) I can’t bear it anymore
2) She can’t bear children, since her womb was removed during a cancer operation.
3) He shot a bear among the trees.
Pada contoh nomer satu di atas nampak kata ‘bear’ berarti ‘tahan’ atau lengkapnya ‘Saya tidak tahan lagi’. Sementara pada kalimat kedua ‘bear’ berarti ‘melahirkan’, dalam konteks melahirkan bayi. Bahkan pada kalimat ketiga kata yang sama ‘bear’ berfungsi sebagai kata benda yang berarti ‘beruang’. Seorang penerjemah yang tidak memperhatikan bagaimana sebuah kata muncul bersama kata-kata lainnya di dalam teks akan mengalami kesulitan untuk menentukan makna yang tepat sebuah kata. Bahkan pada kasus-kasus tertentu bisa berakibat fatal bagi proses penerjemahan.
Metode dan Teknik Penerjemahan
Terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada, setiap pakar penerjemahan mengelompokkan penerjemahan-penerjemahan di bawah ini ke dalam jenis, metode atau teknik. Peneliti, dalam hal ini, mengadopsi pendapat Newmark (1988) dalam pengelompokan metode penerjemahan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah metode diartikan sebagai cara yang teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan (2005:740).
Berkaitan dengan batasan istilah metode penerjemahan (Translation Method), Molina dan Albir (2002:507) menyatakan bahwa ”Translation method refers to the way of a particular translation process that is carried out in terms of the translator’s objective, i’e., a global option that affects the whole texts”. Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penerjemahan lebih cenderung pada sebuah cara yang digunakan oleh penerjemah dalam proses penerjemahan sesuai dengan tujuannya, misalnya sebuah opsi global penerjemah yang mempengaruhi keseluruhan teks. Jadi metode penerjemahan sangat mempengaruhi hasil terjemahan. Artinya hasil terjemahan teks sangat ditentukan oleh metode penerjemahan yang dianut oleh penerjemah karena maksud, tujuan dan kehendak penerjemah akan berpengaruh terhadap hasil terjemahan teks secara keseluruhan. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Newmark dalam Ordudary (2007:1) yang menyatakan: “[w]hile translation methods relate to whole texts, translation procedures are used for sentences and the smaller units of language”. Selanjutnya Newmark (1988:45) telah mengelompokkan metode-metode penerjemahan berikut ke dalam dua kelompok besar. Empat metode pertama lebih ditekankan pada Bsu, yaitu Word-for-word translation, Literal translation, Faithful translation, dan Semantic translation dan empat metode kedua lebih ditekankan pada Bsa, Adaptation, Free translation, Idiomatic translation, dan Communicative translation.
1. Penerjemahan Kata-demi-kata
Dalam metode penerjemahan kata-demi-kata (word-for-word translation), biasanya kata-kata Tsa langsung diletakkan di bawah versi Tsu atau disebut dengan interlinear translation. Metode penerjemahan ini sangat terikat pada tataran kata, sehingga susunan kata sangat dipertahankan. Dalam melakukan tugasnya, penerjemah hanya mencari padanan kata Bsu dalam Bsa. Susunan kata dalam kalimat terjemahan sama persis dengan susunan kata dalam kalimat Bsu. Setiap kata diterjemahkan satu-satu berdasarkan makna umum atau di luar konteks, sedangkan kata-kata yang berkaitan dengan budaya diterjemahkan secara harfiah. Umumnya metode ini digunakan pada tahapan prapenerjemahan pada saat penerjemah menerjemahkan teks yang sukar atau untuk memahami mekanisme Bsu. Jadi metode ini digunakan pada tahap analisis atau tahap awal pengalihan. Biasanya metode ini digunakan untuk penerjemahan tujuan khusus, namun tidak lazim digunakan untuk penerjemahan yang umum. Kecuali jika struktur kalimat bahasa Inggris sama dengan struktur kalimat bahasa Indonesia (lihat contoh nomor 3 dan 4 di bawah ini) (Catford, 1978:25; Soemarno, 1983:25; Newmark, 1988:45-46; Machali, 2000:50-51; Nababan, 2003:30).
Berikut adalah beberapa contoh hasil terjemahan yang menggunakan contoh metode penerjemahan kata-demi-kata menurut beberapa pakar tersebut di atas:
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : *Lihat, kecil anak, kamu semua harus tidak melakukan ini.
Berdasarkan hasil terjemahan tersebut, kalimat Tsu yang dihasilkan sangatlah rancu dan janggal karena susunan frase “kecil anak” tidak berterima dalam tatabahasa Indonesia dan makna frase “harus tidak” itu kurang tepat. Seharusnya kedua frase tersebut menjadi “anak kecil” dan “seharusnya tidak”. Demikian pula dengan kata “that” yang sebaiknya diterjemahkan menjadi “itu” bukan “ini”. Sehingga alternative terjemahan dari kalimat tersebut menjadi:
‘Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak melakukan itu.’
2. Tsu : I like that clever student.
Tsa : *Saya menyukai itu pintar anak.
Hasil terjemahannya tidak berterima dalam bahasa Indonesia karena susunan kata yang benar bukan ’itu pintar anak’ tetapi ’anak pintar itu’, sehingga kalimat yang benar seharusnya: ”Saya menyukai anak pintar itu.”
3. Tsu : I will go to New York tomorrow.
Tsa : Saya akan pergi ke New York besok.
4. Tsu : Joanne gave me two tickects yesterday.
Tsa : Joanne memberi saya dua tiket kemarin.
Hasil terjemahan kalimat ke-3 dan ke-4 tidak separah hasil terjemahan kalimat ke-1 dan ke-2 karena struktur kalimat dari kedua teks tersebut hampir sama. Artinya bahwa hasil terjemahan kedua kalimat tersebut masih dalam kategori berterima walaupun masih terasa janggal. Walaupun demikian ada beberapa alternatif hasil terjemahan yang tampak lebih alamiah dan berterima misalnya:
3. ‘Besok pagi saya akan pergi ke New York.’
4. ‘Kemarin Joanne memberiku dua buah tiket.’
2. Penerjemahan Harfiah
Penerjemahan harfiah (literal translation) atau disebut juga penerjemahan lurus (linear translation) berada di antara penerjemahan kata-demi-kata dan penerjemahan bebas (free translation). Dalam proses penerjemahannya, penerjamah mencari konstruksi gramatikal Bsu yang sepadan atau dekat dengan Bsa. Penerjemahan harfiah ini terlepas dari konteks. Penerjemahan ini mula-mula dilakukan seperti penerjemahan kata-demi-kata, tetapi penerjemah kemudian menyesuaikan susunan kata-katanya sesuai dengan gramatikal Bsa (Soemarno, 1983:25; Newmark, 1988:46; Machali, 2000: 51; Nababan, 2003:33; Moentaha, 2006:48). Perhatikan beberapa contoh berikut:
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak berbuat seperti itu.
2. Tsu : It’s raining cats and dogs.
Tsa : Hujan kucing dan anjing.
3. Tsu : His hearth is in the right place.
Tsa : Hatinya berada di tempat yang benar.
4. Tsu : The Sooner or the later the weather will change.
Tsa : Lebih cepat atau lebih lambat cuaca akan berubah.
Jika dilihat dari hasil terjemahannya, beberapa kalimat-kalimat yang diterjemahkan secara harfiah masih terasa janggal, misalnya kalimat ke-2 sebaiknya diterjemahkan “Hujan lebat” atau “Hujan deras”. Kalimat ke-3 sebaiknya diterjemahkan menjadi “Hatinya tenteram”. Namun jika demikian hasil terjemahannya, memang lebih condong pada penerjemahan bebas. Demikian pula dengan kalimat ke-4 sebaiknya diterjemahkan menjadi “Cepat atau lambat cuacanya akan berubah”.
3. Penerjemahan Setia
Dalam penerjemahan setia (faithful translation), penerjemah berupaya mereproduksi makna kontekstual dari teks asli dengan tepat dalam batasan-batasan struktur gramatikal teks sasaran. Di sini kata-kata yang bermuatan budaya diterjemahkan, tetapi penyimpangan tata bahasa dan pilihan kata masih tetap ada atau dibiarkan. Penerjemahan ini berpegang teguh pada maksud dan tujuan Tsu, sehingga hasil terjemahan kadang-kadang masih terasa kaku dan seringkali asing (Newmark, 1988:46; Machali, 2000:51). Perhatikan contoh terjemahan berikut ini:
1. Tsu : Ben is too well aware that he is naughty.
Tsa : Ben menyadari terlalu baik bahwa ia nakal.
2. Tsu : I have quite a few friends.
Tsa : Saya mempunyai samasekali tidak banyak teman.
4. Penerjemahan Semantis
Penerjemahan semantis (semantic translation) lebih luwes daripada penerjemahan setia. Penerjemahan setia lebih kaku dan tidak kompromi dengan kaidah Bsa atau lebih terikat dengan Bsu, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel dengan Bsa. Berbeda dengan penerjemahan setia, penerjemahan semantis harus mempertimbangkan unsur estetika teks Bsu dengan cara mengkompromikan makna selama masih dalam batas kewajaran (Newmark, 1988:46; Machali, 2000:52). Perhatikan contoh berikut:
Tsu : He is a book-worm.
Tsa : *Dia (laki-laki) adalah seorang yang suka sekali membaca.
Frase book-worm diterjemahkan secara fleksibel sesuai dengan konteks budaya dan batasan fungsional yang berterima dalam Bsa. Tetapi terjemahan di atas kurang tepat dan seharusnya diterjemahkan menjadi: ’Dia seorang kutu buku.’
5. Adaptasi (Saduran)
Adaptasi (adaptation) oleh Newmark (1988:46) disebut dengan metode penerjemahan yang paling bebas (the freest form of translation) dan paling dekat dengan Bsa. Istilah ”saduran” dapat diterima di sini, asalkan penyadurannya tidak mengorbankan tema, karakter atau alur dalam Tsu. Memang penerjemahan adaptasi ini banyak digunakan untuk menerjemahkan puisi dan drama. Di sini terjadi peralihan budaya Bsa ke Bsu dan teks asli ditulis kembali serta diadaptasikan ke dalam Tsa. Jika seorang penyair menyadur atau mengadaptasi sebuah naskah drama untuk dimainkan, maka ia harus tetap mempertahankan semua karakter dalam naskah asli dan alur cerita juga tetap dipertahankan, namun dialog Tsu sudah disadur dan disesuaikan dengan budaya Bsa.
Berikut adalah contoh lirik lagu dari sebuah yang disadur dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia (http://anotherfool.wordpress.com):
Tsu : Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better
(Hey Jude-The Beatles, 196)
Tsa : Kasih, dimanakahMengapa kau tinggalkan aku
Ingatlah-ingatlah kau padaku
Janji setiamu tak kan kulupa
6. Penerjemahan Bebas
Penerjemahan bebas (free translation) merupakan penerjemahan yang lebih mengutamakan isi dari pada bentuk teks Bsu. Biasanya metode ini berbentuk parafrase yang lebih panjang daripada bentuk aslinya, dimaksudkan agar isi atau pesan lebih jelas diterima oleh pengguna Bsa. Terjemahannya bersifat bertele-tele dan panjang lebar, bahkan hasil terjemahannya tampak seperti bukan terjemahan (Newmark, 1988:46; Machali, 2003:53). Soemarno (2001:33-37) memberi contoh sebagai berikut:
1. Tsu : The flowers in the garden.
Tsa : Bunga-bunga yang tumbuh di kebun.
2. Tsu : How they live on what he makes?
Tsa : Bagaimana mereka dapat hidup dengan penghasilannya?
Dalam contoh nomor 1 terjadi pergeseran yang disebut dengan shunt up (langsir ke atas), karena dari frase preposisi in the garden menjadi klausa ’yang tumbuh di kebun’. Sedangkan pada nomor 2 terjadi pergeseran yang disebut dengan shunt down (langsir ke bawah), karena klausa on what he makes menjadi frase ’dengan penghasilannya’. Contoh-contoh lainnya adalah:
3. Tsu : Tatik is growing with happiness.
Tsa : Tati, hatinya berbunga-bunga.
4. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing this.
Tsa : Dengar nak, mengapa kamu semua melakukan hal-
hal seperti ini. Ini tidak baik.
Berikut adalah sebuah contoh terjemahan bebas yang tampak sangat ekstrim yang dikemukakan oleh Moentaha (2006:52):
5. Tsu : I kissed her.
Tsa : Saya telah mencetak sebuah ciuman pada bibirnya yang merah.
Terjemahan di atas tampak lebih radikal, sekalipun tetap mempertahankan isi atau pesan. Padahal terjemahannya bisa saja menjadi ’Saya telah menciumnya’.
7. Penerjemahan Idiomatik
Larson dalam Choliludin (2006:23) mengatakan bahwa terjemahan idiomatik (idiomatic translation) menggunakan bentuk alamiah dalam teks Bsa-nya, sesuai dengan konstruksi gramatikalnya dan pilihan leksikalnya. Terjemahan yang benar-benar idiomatik tidak tampak seperti hasil terjemahan. Hasil terjemahannya seolah-olah seperti hasil tulisan langsung dari penutur asli. Maka seorang penerjemah yang baik akan mencoba menerjemahkan teks secara idiomatik. Newmark (1988:47) menambahkan bahwa penerjemahan idiomatik mereproduksi pesan dalam teks Bsa dengan ungkapan yang lebih alamiah dan akrab daripada teks Bsu.
Choliludin (2006:222-225) memberi beberapa contoh terjemahan idiomatik sebagai berikut:
1. Tsu : Salina!, Excuse me, Salina!
Tsa : Salina!, Permisi, Salina!
2. Tsu : I can relate to that.
Tsa : Aku mengerti maksudnya.
3. Tsu : You’re cheery mood.
Tsa : Kamu kelihatan ceria.
4. Tsu : Tell me, I am not in a cage now.
Tsa : Ayo, berilah aku semangat bahwa aku orang bebas.
5. Tsu : Excuse me?
Tsa : Maaf, apa maksud Anda?
8. Penerjemahan Komunikatif
Menurut Newmark (1988:47), penerjemahan komunikatif (communicative translation) berupaya untuk menerjemahkan makna kontekstual dalam teks Bsu, baik aspek kebahasaan maupun aspek isinya, agar dapat diterima dan dimengerti oleh pembaca. Machali (2000:55) menambahkan bahwa metode ini memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi, yaitu mimbar pembaca dan tujuan penerjemahan. Contoh dari metode penerjemahan ini adalah penerjemahan kata spine dalam frase thorns spines in old reef sediments. Jika kata tersebut diterjemahkan oleh seorang ahli biologi, maka padanannya adalah spina (istilah teknis Latin), tetapi jika diterjemahkan untuk mimbar pembaca yang lebih umum, maka kata itu diterjemahkan menjadi ’duri’.
Di samping itu Nababan (2003:41) menjelaskan bahwa penerjemahan komunikatif pada dasarnya menekankan pengalihan pesan. Metode ini sangat memperhatikan pembaca atau pendengar Bsa yang tidak mengharapkan adanya kesulitan-kesulitan dan ketidakjelasan dalam teks terjemahan. Metode ini juga sangat memperhatikan keefektifan bahasa terjemahan. Kalimat ’Awas Anjing Galak’ dapat diterjemahkan menjadi Beware of the dog! daripada Beware of the vicious dog! Karena bagaimanapun juga kalimat terjemahan ke-1 sudah mengisyaratkan bahwa anjing itu galak (vicious).
Berdasarkan pengamatan peneliti, setiap penerjemah memiliki gaya masing-masing dalam menerjemahkan suatu karya. Gaya yang dia pakai akan sangat berkaitan erat, misalnya, dengan metode penerjemahkaan yang dia gunakan bergantung tujuan penerjemahan yang dia lakukan. Di antara para penerjemah ada yang menggunakan metode penerjemahan setia, seperti yang telah dilakukan oleh penerjemah novel Harry Potter and the Phylosopher’s Stone. Alasannya adalah bahwa dia tidak mau melepaskan makna kontekstual dalam Tsu-nya. Dia berusaha mempertahankan istilah-istilah yang berkaitan dengan sosio-budaya dan latar dari Bsu, misalnya mempertahankan kata Mr dan Mrs serta nama-nama diri para karakter dalam novel itu. Dia tidak melakukan suatu adaptasi atau domestikasi tetapi mempertahankan ideology forenisasinya. Ini dilakukan demi menjaga keaslian unsur-unsur ceritera dan nilai-nilai budaya yang melatari ceritera tersebut sehingga pembaca diajak untuk mengenali tema, karakter, latar dan atmosfir budaya asing. Para penerjemah novel lainnya masing-masing berbeda dalam memilih metode penerjemahan. Di antaranya ada yang menggunakan penerjemahan bebas, semantis, idiomatik, dan adaptasi. Hal tersebut dilakukan bergantung kepada kebiasaan serta gaya yang menjadi ciri khas mereka. Mungkin pula bergantung pada tujuan penerjemahan itu sendiri.
http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/12/metode-penerjemahan-bahasa-ala-newmark/
Berkaitan dengan batasan istilah metode penerjemahan (Translation Method), Molina dan Albir (2002:507) menyatakan bahwa ”Translation method refers to the way of a particular translation process that is carried out in terms of the translator’s objective, i’e., a global option that affects the whole texts”. Dari batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode penerjemahan lebih cenderung pada sebuah cara yang digunakan oleh penerjemah dalam proses penerjemahan sesuai dengan tujuannya, misalnya sebuah opsi global penerjemah yang mempengaruhi keseluruhan teks. Jadi metode penerjemahan sangat mempengaruhi hasil terjemahan. Artinya hasil terjemahan teks sangat ditentukan oleh metode penerjemahan yang dianut oleh penerjemah karena maksud, tujuan dan kehendak penerjemah akan berpengaruh terhadap hasil terjemahan teks secara keseluruhan. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Newmark dalam Ordudary (2007:1) yang menyatakan: “[w]hile translation methods relate to whole texts, translation procedures are used for sentences and the smaller units of language”. Selanjutnya Newmark (1988:45) telah mengelompokkan metode-metode penerjemahan berikut ke dalam dua kelompok besar. Empat metode pertama lebih ditekankan pada Bsu, yaitu Word-for-word translation, Literal translation, Faithful translation, dan Semantic translation dan empat metode kedua lebih ditekankan pada Bsa, Adaptation, Free translation, Idiomatic translation, dan Communicative translation.
1. Penerjemahan Kata-demi-kata
Dalam metode penerjemahan kata-demi-kata (word-for-word translation), biasanya kata-kata Tsa langsung diletakkan di bawah versi Tsu atau disebut dengan interlinear translation. Metode penerjemahan ini sangat terikat pada tataran kata, sehingga susunan kata sangat dipertahankan. Dalam melakukan tugasnya, penerjemah hanya mencari padanan kata Bsu dalam Bsa. Susunan kata dalam kalimat terjemahan sama persis dengan susunan kata dalam kalimat Bsu. Setiap kata diterjemahkan satu-satu berdasarkan makna umum atau di luar konteks, sedangkan kata-kata yang berkaitan dengan budaya diterjemahkan secara harfiah. Umumnya metode ini digunakan pada tahapan prapenerjemahan pada saat penerjemah menerjemahkan teks yang sukar atau untuk memahami mekanisme Bsu. Jadi metode ini digunakan pada tahap analisis atau tahap awal pengalihan. Biasanya metode ini digunakan untuk penerjemahan tujuan khusus, namun tidak lazim digunakan untuk penerjemahan yang umum. Kecuali jika struktur kalimat bahasa Inggris sama dengan struktur kalimat bahasa Indonesia (lihat contoh nomor 3 dan 4 di bawah ini) (Catford, 1978:25; Soemarno, 1983:25; Newmark, 1988:45-46; Machali, 2000:50-51; Nababan, 2003:30).
Berikut adalah beberapa contoh hasil terjemahan yang menggunakan contoh metode penerjemahan kata-demi-kata menurut beberapa pakar tersebut di atas:
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : *Lihat, kecil anak, kamu semua harus tidak melakukan ini.
Berdasarkan hasil terjemahan tersebut, kalimat Tsu yang dihasilkan sangatlah rancu dan janggal karena susunan frase “kecil anak” tidak berterima dalam tatabahasa Indonesia dan makna frase “harus tidak” itu kurang tepat. Seharusnya kedua frase tersebut menjadi “anak kecil” dan “seharusnya tidak”. Demikian pula dengan kata “that” yang sebaiknya diterjemahkan menjadi “itu” bukan “ini”. Sehingga alternative terjemahan dari kalimat tersebut menjadi:
‘Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak melakukan itu.’
2. Tsu : I like that clever student.
Tsa : *Saya menyukai itu pintar anak.
Hasil terjemahannya tidak berterima dalam bahasa Indonesia karena susunan kata yang benar bukan ’itu pintar anak’ tetapi ’anak pintar itu’, sehingga kalimat yang benar seharusnya: ”Saya menyukai anak pintar itu.”
3. Tsu : I will go to New York tomorrow.
Tsa : Saya akan pergi ke New York besok.
4. Tsu : Joanne gave me two tickects yesterday.
Tsa : Joanne memberi saya dua tiket kemarin.
Hasil terjemahan kalimat ke-3 dan ke-4 tidak separah hasil terjemahan kalimat ke-1 dan ke-2 karena struktur kalimat dari kedua teks tersebut hampir sama. Artinya bahwa hasil terjemahan kedua kalimat tersebut masih dalam kategori berterima walaupun masih terasa janggal. Walaupun demikian ada beberapa alternatif hasil terjemahan yang tampak lebih alamiah dan berterima misalnya:
3. ‘Besok pagi saya akan pergi ke New York.’
4. ‘Kemarin Joanne memberiku dua buah tiket.’
2. Penerjemahan Harfiah
Penerjemahan harfiah (literal translation) atau disebut juga penerjemahan lurus (linear translation) berada di antara penerjemahan kata-demi-kata dan penerjemahan bebas (free translation). Dalam proses penerjemahannya, penerjamah mencari konstruksi gramatikal Bsu yang sepadan atau dekat dengan Bsa. Penerjemahan harfiah ini terlepas dari konteks. Penerjemahan ini mula-mula dilakukan seperti penerjemahan kata-demi-kata, tetapi penerjemah kemudian menyesuaikan susunan kata-katanya sesuai dengan gramatikal Bsa (Soemarno, 1983:25; Newmark, 1988:46; Machali, 2000: 51; Nababan, 2003:33; Moentaha, 2006:48). Perhatikan beberapa contoh berikut:
1. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing that.
Tsa : Lihat, anak kecil, kamu semua seharusnya tidak berbuat seperti itu.
2. Tsu : It’s raining cats and dogs.
Tsa : Hujan kucing dan anjing.
3. Tsu : His hearth is in the right place.
Tsa : Hatinya berada di tempat yang benar.
4. Tsu : The Sooner or the later the weather will change.
Tsa : Lebih cepat atau lebih lambat cuaca akan berubah.
Jika dilihat dari hasil terjemahannya, beberapa kalimat-kalimat yang diterjemahkan secara harfiah masih terasa janggal, misalnya kalimat ke-2 sebaiknya diterjemahkan “Hujan lebat” atau “Hujan deras”. Kalimat ke-3 sebaiknya diterjemahkan menjadi “Hatinya tenteram”. Namun jika demikian hasil terjemahannya, memang lebih condong pada penerjemahan bebas. Demikian pula dengan kalimat ke-4 sebaiknya diterjemahkan menjadi “Cepat atau lambat cuacanya akan berubah”.
3. Penerjemahan Setia
Dalam penerjemahan setia (faithful translation), penerjemah berupaya mereproduksi makna kontekstual dari teks asli dengan tepat dalam batasan-batasan struktur gramatikal teks sasaran. Di sini kata-kata yang bermuatan budaya diterjemahkan, tetapi penyimpangan tata bahasa dan pilihan kata masih tetap ada atau dibiarkan. Penerjemahan ini berpegang teguh pada maksud dan tujuan Tsu, sehingga hasil terjemahan kadang-kadang masih terasa kaku dan seringkali asing (Newmark, 1988:46; Machali, 2000:51). Perhatikan contoh terjemahan berikut ini:
1. Tsu : Ben is too well aware that he is naughty.
Tsa : Ben menyadari terlalu baik bahwa ia nakal.
2. Tsu : I have quite a few friends.
Tsa : Saya mempunyai samasekali tidak banyak teman.
4. Penerjemahan Semantis
Penerjemahan semantis (semantic translation) lebih luwes daripada penerjemahan setia. Penerjemahan setia lebih kaku dan tidak kompromi dengan kaidah Bsa atau lebih terikat dengan Bsu, sedangkan penerjemahan semantis lebih fleksibel dengan Bsa. Berbeda dengan penerjemahan setia, penerjemahan semantis harus mempertimbangkan unsur estetika teks Bsu dengan cara mengkompromikan makna selama masih dalam batas kewajaran (Newmark, 1988:46; Machali, 2000:52). Perhatikan contoh berikut:
Tsu : He is a book-worm.
Tsa : *Dia (laki-laki) adalah seorang yang suka sekali membaca.
Frase book-worm diterjemahkan secara fleksibel sesuai dengan konteks budaya dan batasan fungsional yang berterima dalam Bsa. Tetapi terjemahan di atas kurang tepat dan seharusnya diterjemahkan menjadi: ’Dia seorang kutu buku.’
5. Adaptasi (Saduran)
Adaptasi (adaptation) oleh Newmark (1988:46) disebut dengan metode penerjemahan yang paling bebas (the freest form of translation) dan paling dekat dengan Bsa. Istilah ”saduran” dapat diterima di sini, asalkan penyadurannya tidak mengorbankan tema, karakter atau alur dalam Tsu. Memang penerjemahan adaptasi ini banyak digunakan untuk menerjemahkan puisi dan drama. Di sini terjadi peralihan budaya Bsa ke Bsu dan teks asli ditulis kembali serta diadaptasikan ke dalam Tsa. Jika seorang penyair menyadur atau mengadaptasi sebuah naskah drama untuk dimainkan, maka ia harus tetap mempertahankan semua karakter dalam naskah asli dan alur cerita juga tetap dipertahankan, namun dialog Tsu sudah disadur dan disesuaikan dengan budaya Bsa.
Berikut adalah contoh lirik lagu dari sebuah yang disadur dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia (http://anotherfool.wordpress.com):
Tsu : Hey Jude, don’t make it bad
Take a sad song and make it better
Remember to let her into your heart
Then you can start to make it better
(Hey Jude-The Beatles, 196)
Tsa : Kasih, dimanakahMengapa kau tinggalkan aku
Ingatlah-ingatlah kau padaku
Janji setiamu tak kan kulupa
6. Penerjemahan Bebas
Penerjemahan bebas (free translation) merupakan penerjemahan yang lebih mengutamakan isi dari pada bentuk teks Bsu. Biasanya metode ini berbentuk parafrase yang lebih panjang daripada bentuk aslinya, dimaksudkan agar isi atau pesan lebih jelas diterima oleh pengguna Bsa. Terjemahannya bersifat bertele-tele dan panjang lebar, bahkan hasil terjemahannya tampak seperti bukan terjemahan (Newmark, 1988:46; Machali, 2003:53). Soemarno (2001:33-37) memberi contoh sebagai berikut:
1. Tsu : The flowers in the garden.
Tsa : Bunga-bunga yang tumbuh di kebun.
2. Tsu : How they live on what he makes?
Tsa : Bagaimana mereka dapat hidup dengan penghasilannya?
Dalam contoh nomor 1 terjadi pergeseran yang disebut dengan shunt up (langsir ke atas), karena dari frase preposisi in the garden menjadi klausa ’yang tumbuh di kebun’. Sedangkan pada nomor 2 terjadi pergeseran yang disebut dengan shunt down (langsir ke bawah), karena klausa on what he makes menjadi frase ’dengan penghasilannya’. Contoh-contoh lainnya adalah:
3. Tsu : Tatik is growing with happiness.
Tsa : Tati, hatinya berbunga-bunga.
4. Tsu : Look, little guy, you-all shouldn’t be doing this.
Tsa : Dengar nak, mengapa kamu semua melakukan hal-
hal seperti ini. Ini tidak baik.
Berikut adalah sebuah contoh terjemahan bebas yang tampak sangat ekstrim yang dikemukakan oleh Moentaha (2006:52):
5. Tsu : I kissed her.
Tsa : Saya telah mencetak sebuah ciuman pada bibirnya yang merah.
Terjemahan di atas tampak lebih radikal, sekalipun tetap mempertahankan isi atau pesan. Padahal terjemahannya bisa saja menjadi ’Saya telah menciumnya’.
7. Penerjemahan Idiomatik
Larson dalam Choliludin (2006:23) mengatakan bahwa terjemahan idiomatik (idiomatic translation) menggunakan bentuk alamiah dalam teks Bsa-nya, sesuai dengan konstruksi gramatikalnya dan pilihan leksikalnya. Terjemahan yang benar-benar idiomatik tidak tampak seperti hasil terjemahan. Hasil terjemahannya seolah-olah seperti hasil tulisan langsung dari penutur asli. Maka seorang penerjemah yang baik akan mencoba menerjemahkan teks secara idiomatik. Newmark (1988:47) menambahkan bahwa penerjemahan idiomatik mereproduksi pesan dalam teks Bsa dengan ungkapan yang lebih alamiah dan akrab daripada teks Bsu.
Choliludin (2006:222-225) memberi beberapa contoh terjemahan idiomatik sebagai berikut:
1. Tsu : Salina!, Excuse me, Salina!
Tsa : Salina!, Permisi, Salina!
2. Tsu : I can relate to that.
Tsa : Aku mengerti maksudnya.
3. Tsu : You’re cheery mood.
Tsa : Kamu kelihatan ceria.
4. Tsu : Tell me, I am not in a cage now.
Tsa : Ayo, berilah aku semangat bahwa aku orang bebas.
5. Tsu : Excuse me?
Tsa : Maaf, apa maksud Anda?
8. Penerjemahan Komunikatif
Menurut Newmark (1988:47), penerjemahan komunikatif (communicative translation) berupaya untuk menerjemahkan makna kontekstual dalam teks Bsu, baik aspek kebahasaan maupun aspek isinya, agar dapat diterima dan dimengerti oleh pembaca. Machali (2000:55) menambahkan bahwa metode ini memperhatikan prinsip-prinsip komunikasi, yaitu mimbar pembaca dan tujuan penerjemahan. Contoh dari metode penerjemahan ini adalah penerjemahan kata spine dalam frase thorns spines in old reef sediments. Jika kata tersebut diterjemahkan oleh seorang ahli biologi, maka padanannya adalah spina (istilah teknis Latin), tetapi jika diterjemahkan untuk mimbar pembaca yang lebih umum, maka kata itu diterjemahkan menjadi ’duri’.
Di samping itu Nababan (2003:41) menjelaskan bahwa penerjemahan komunikatif pada dasarnya menekankan pengalihan pesan. Metode ini sangat memperhatikan pembaca atau pendengar Bsa yang tidak mengharapkan adanya kesulitan-kesulitan dan ketidakjelasan dalam teks terjemahan. Metode ini juga sangat memperhatikan keefektifan bahasa terjemahan. Kalimat ’Awas Anjing Galak’ dapat diterjemahkan menjadi Beware of the dog! daripada Beware of the vicious dog! Karena bagaimanapun juga kalimat terjemahan ke-1 sudah mengisyaratkan bahwa anjing itu galak (vicious).
Berdasarkan pengamatan peneliti, setiap penerjemah memiliki gaya masing-masing dalam menerjemahkan suatu karya. Gaya yang dia pakai akan sangat berkaitan erat, misalnya, dengan metode penerjemahkaan yang dia gunakan bergantung tujuan penerjemahan yang dia lakukan. Di antara para penerjemah ada yang menggunakan metode penerjemahan setia, seperti yang telah dilakukan oleh penerjemah novel Harry Potter and the Phylosopher’s Stone. Alasannya adalah bahwa dia tidak mau melepaskan makna kontekstual dalam Tsu-nya. Dia berusaha mempertahankan istilah-istilah yang berkaitan dengan sosio-budaya dan latar dari Bsu, misalnya mempertahankan kata Mr dan Mrs serta nama-nama diri para karakter dalam novel itu. Dia tidak melakukan suatu adaptasi atau domestikasi tetapi mempertahankan ideology forenisasinya. Ini dilakukan demi menjaga keaslian unsur-unsur ceritera dan nilai-nilai budaya yang melatari ceritera tersebut sehingga pembaca diajak untuk mengenali tema, karakter, latar dan atmosfir budaya asing. Para penerjemah novel lainnya masing-masing berbeda dalam memilih metode penerjemahan. Di antaranya ada yang menggunakan penerjemahan bebas, semantis, idiomatik, dan adaptasi. Hal tersebut dilakukan bergantung kepada kebiasaan serta gaya yang menjadi ciri khas mereka. Mungkin pula bergantung pada tujuan penerjemahan itu sendiri.
http://kiflipaputungan.wordpress.com/2010/06/12/metode-penerjemahan-bahasa-ala-newmark/
Friday, January 07, 2011
Manage Your Blog
1. Maintain a Diary : Keep a diary where you can write your daily things I.e things to do, random ideas, quick notes. This will help you to save a lot of time and you will never scratch your head to think what you were thinking before.
2. Make a Schedule : When it comes to manage more than one thing, a smart schedule is the only way. Decide how much time you need to give to a particular thing and stick to it. It might be difficult initially but once you get into the flow, your productivity will increase.
3. Be Flexible: Sticking to a schedule does not mean you cant spare another minute extra. If you need to give some more time for a particular project go ahead. I had to change my timings depending on what kind of article I have to write and balance it out the other day.
4. Read More than staring at your blog stats: This is one of biggest mistake many bloggers are still making. Checking your stats is a good thing but looking at it every 10 minutes is pretty bad. I realized this 3 months back. Read more articles and good blogs to understand what and how they do.Here is What I used to do every 20 minutes and spent 3 hrs , PLEASE DONT DO IT
1. Checking My Adsense Account.
2. Checking Analytics/ 103 Bees Stats.
3. Checking feedburner to see how many live hits I have.
4. Admiring how much money others are making and again checking my Adsense earnings
5. First Write Then Read what others wrote : If you get to learn something which is new to you , don’t try to find what others have written. There are 2 reasons why I am saying this, First if you read others article you will loose your creative thinking, Secondly you might drop the idea of even writing it thinking it will be considered as copying. NOPE, you are wrong there. There is always a chance that you will come up with better explanations. So write at least a draft post and then go for exploring more. This will always give you a boost. Research only if you are very doubtful.
6. Make Your own Bloggers Toolkit : There are many plugins, firefox extensions, feed readers and writing applications which an help you write or manage your posts faster. Find out more about them, make a list which can be useful to you and use it.This can not only save a lot of time but also allow you to more productive.
7. Have a Blog Management Day: Nobody wants you to keep writing articles everyday and neither you will loose if you don’t write one day. Set aside one day like Sunday or Saturday where you can give a thought on
1. What I had been doing this week.?
2. Do I need to optimize or re-check my articles.?
3. Do I have any pending emails to be answered.?
4. How is my site stats doing ? Have I improved ?
5. Do I need to read more about SEO and Designs ?
6. What is my plan for the coming week ?
8. Have some time separate for Social Networks: Blogging is not just writing article , its like a life where you need to communicate. Participate in social network sites like Digg, stumble, delicious and others. This will not only increase your points on them but also allow you to see what kind of articles are selling hot.
9. Don’t waste your time on useless chatting : Networking is important but then nobody has time to waste. Its a bad habit of many people to waste time on chatting. Chat for fun but see what is important to you. Many people have suggested to at least turn your IM’s off when you are writing an article. It really helps
10. Don’t answer comments immediately unless… Its not necessary that you need to answer a comment immediately unless its really important. Readers are always important but then your are not always siting there 24 hrs. Best is to answer them together after you get some comments or may be after a day.
11. Make you own set of Time Management Scheme: What worked for me might work for you partially. So have your own set of rules which suits your work and environment but make it for sure. It will allow you to follow a self guideline of YES or NO.
compiled from other blogs
Thursday, December 30, 2010
Wednesday, December 29, 2010
Sunday, December 05, 2010
Ringkasan Filsafat Ilmu Karya Jujun S. Suriasumantri
I. ILMU DAN FILSAFAT
Pengetahuan dimulai denga rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang ita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: apakah sebenarnya yang asaya ketahui tentang ilmu? Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mempelajari ilmu? Apakah kegunaannya sebenarnya?
Demikian juga berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui: Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini? Dibatas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti? Kemanakah saya harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kegunaan ilmu?
Apakah Filsafat?
Ada tiga karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Yang kedua adalah sifat mendasar. Yang ketiga adalah sifat spekulatif.
Bidang Telaah Filsafat
Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya menjawab sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok: terjawab masalah yang satu, diapun mulai merambah pertanyaan lain.
Cabang-Cabang Filsafat
Cabang-cabang filsafat antara lain: Epistemologi ( filsafat pengetahuan ). 2. Etika ( fisalfat moral ). 3. Estetika ( Filsafat seni ). 4. Metafisika. 5.Politik ( filsafat pemerintahan ). 6 Filsafat Agama. 7. Filsafat ilmu 8. Filsafat pendidikan. 9 Filsafat Hukum. 10. Filsafat sejarah. 11. Filsafat matematika.
Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology ( filsafat pengetahuan ) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu ( pengetahuan ilmiah ). Filsafat ilmu merupakan telaah scara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:
Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera yang membuahkan pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan landasan ontologism
II. DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai kegiatan berpikir, penalaran mempunyai irri-ciri tertentu yaitu: pertama, adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Atau dapat juga dikatakan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Ciri yang kedua adalah proses berpikirnya bersifat analitik.
Perasaan adalah suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
Intuisi adalah suatu kegiatan berpikir yang nonanalitik yang tidak mendasarkan diri pada pola pikir tertentu.
3. Logika
Logika dapat di defenisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Logika ada dua yaitu: logika induksi dan logika deduksi. Logika Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus yang bersifat individual. Sedangkan logika deduksi merupakan cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Disusun dari dua buah pertanyaan dan sebuah kesimpulan.
4. Sumber pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.
Kaum rasionalis beranggapan bahwa pengetahuan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak sedangkan kaum empirisme pengetahuan manusia didapatkan lewat bukti konkret. Selain rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yaitu intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Suatu masalah dalam pikiran namun menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya dan kita merasa yakin bahwa itulah jawabannya namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai kesana. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Wahyu pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul-rasulnya.
5. Kriteria Kebenaran
Paham Koherensi.
Sesuatu yang dianggap benar apabila pernyataan dan kesimpulan konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan yang terdahulu yang telah dianggap benar. Teori ini disebut teori koherensi. Atau dapat disimpulkan bahwa teori koherensi adalah suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar
Paham Korespondensi ( Bertrand Russell ( 1872-1970 )
Bagi penganut teori korespondensi, suatu pernyataan benar adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi ( berhubungan ) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Paham Pragmatisme ( Charles S. Peirce 1839-1914 ).
Bagi kaum pragmatisme kebenaran adalah suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
III. ONTOLOGI : HAKIKAT APA YANG DIKAJI
6. Metafisika
Apakah hakikat kenyataan ini yang sebenar-benarnya? Metafisika dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki apa hakikat dibalik alam nyata ini. Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.
7. Asumsi
Determinisme, probabilistik dan pilihan bebas merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini akan sulit bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton ( 1788-1856 ) dari doktrin Thomas Hobbes ( 1588-1679 ) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang menyatakn bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang ditetapkan lebih dahulu.
8. Peluang
Berdasarkan teori keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian. Yang ada adalah kesimpulan yang probabilistik.
9. Beberapa asumsi dalam ilmu
Suatu permasalahan kehidupan tidak bisa dianalisis secara cermat dan saksama hanya oleh satu disiplin keilmuan saja. Dalam mengembangkan asumsi kita harus perhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keaadaan yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan asumsi yang kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral.
10. Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Ilmu memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahanya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.
IV. EPISTEMOLOGI : CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
11. Jarum Sejarah Pengetahuan
Konsep dasar pengetahuan waktu dulu adalah kriteria kesamaan bukan perbedaan. Tetapi setelah berkembangnya abad penalaran pada pertengahan abad ke 17 konsep dasarnya berubah dari kesamaan kepada perbedaan berbagai pengetahuan yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan berdasarkan apa yang diketahuai, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
12. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Termasuk didalamnya adalah ilmu. Setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri yang spesifik mengenai apa ( ontologi ), bagaimana gaimana ( epistemologi ) dan untuk apa ( aksiologi ). Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman kita. Usaha untuk mengetahui gejala ualam sudah dimulai sejak dulu kala melalui mitos. Tahap selanjutnya yaitu dengan mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis dan berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat yang didukung oleh metode mencoba-coba. Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahan yang disebut seni terapan. Akal sehat dan coba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempertanyakan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Lalu berkembang lagi kearah empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didasarkan kepada kenyataan pengalaman.
13. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah adalah sebagai berikut yaitu: pertama, perumusan masalah, Kedua, Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi permasalahan, ketiga. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Keempat, pengujian hipotesis. Kelima. Penarikan kesimpulan.
14. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang di proses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan dan dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pada hakikatnya pengetahuan ilmiah mempunyai tiga fungsi yakni menjelaskan, merencanakan dan mengontrol. Sebuah teori pada umumnya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. Makin tinggi keumuman konsep maka makin tinggi teoritis konsep tersebut. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi atau secara idealnya harus bersifat universal. Dalam ilmu sosial untuk meramalkan menggunakan metode proyeksi, pendekatan struktural, analisis kelembagaan atau tahap-tahap perkembangan. Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitan murni atau penelitian dasar. Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidpan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan.
15. V. SARANA BERPIKIR ILMIAH
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan melakukan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, statistika.
16. Bahasa
Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi, lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Rangkaian bunyi ini yang kita kenal sebagai kata melambangkan suatu obyek tertentu. Bahasa mengalami perkembangan oleh karena disebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga berkembang. Dengan bahasa manusia dapat berpikir secara teratur namun juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang ia pikirkan kepada orang lain. Tanpa bahasa maka mustahil bisa berpikir secara teratur dan dengan bahasa kita bisa melanjutkan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Berbahasa dengan jelas adalah makna yang terkandung dalam kata-kata harus diungkapkan secara tersurat untuk mencegah pemberian makna yang lain. Berbahasa dengan jelas artinya juga mengungkapkan pendapat atau pikiran secara jelas.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut
17. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika hanya kumpulan rumus-rumus yang mati. Matematika mempunyai kelebihan dari bahasa verbal karena matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan bahasa verbal hanya bisa mengemukakan peryataan yang bersifat kualitatif. Sifat kuantitatif dari matematika meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika berfungsi sebagai alat berpikir. Matematika secara garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif.
Ada beberapa aliran dalam Filsafat Matematika antara lain: Aliran Logistik ( Immanuel Kant ) Aliran Intusionis ( Jan Brouwer ) dan Aliran Formalis ( David Hilbert ).
18. Statistika
Yang menjadi dasar teori statistika adalah peluang. Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni semakin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atua lebih bersifat kebetulan atau benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan secara kebetulan.
VI. AKSIOLOGI : NILAI KEGUNAAN ILMU
19. Ilmu dan Moral
Untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Kearah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Sejak pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perpektif yang berbeda. Sejak Copernikus ( 1473-1543 ) mengajukan teori tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya seperti apa yang diajarkan oleh ajaran agama maka disinilah timbul interaksi antara ilmu dan moral ( yang bersumbe dari ajaran agama ). Para ilmuan berusaha untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana semboyan : ilmu yang bebas nilai.
20. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan\
Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui. Raja Charles II dari Inggris mendirikan the Royal Society yang bertindak selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat waktu itu. Para ilmuwan pada waktu itu bersuara mengenai toleransi beragama dan pembakaran tukang-tukan sihir. Sikap sosial seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuwan yang dilakukan. Ilmu terbebas dari nilai. Ilmu itu sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberikan nilai. Dalam menghadapi masalah social, seorang ilmuwan yang mempunyai latarbelakang pengetahuan yang cukup harus menempatkan masalah tersebut pada proporsi ang sebenarnya dan menjelaskanya lepada masyarakat dalam bahasa yang dapat dicerna. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang ilmuwan maka harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogiyanya mereka safari. Dibidang etika, tanggungjawab seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi tetapi memberikan contoh.
21. Nuklir dan Pilihan Moralnya.
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuanya untuk menindas bangsa lain meskipun yang menggunakan itu adalah bangsanya sendiri. Einstein waktu itu memihak Sekutu karena anggapanya bahwa sekutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Jika sekutu kalah maka yang akan muncul adalah rezim Nazi yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpaku tangan. Dia harus memilih sikap: berpihak kepada kemanusiaan atau tetap bungkam?. Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikan penemuwannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun diatas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.
22.Revolusi Genética
Revolusi genética merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri. Memperlakukan manusia sebagai kelinci pencobaan adalah sikap yang tidak bermoral dan bertentangan dengan hakikat ilmu.
VII. ILMU DAN KEBUDAYAAN
23. Manusia dan Kebudayaan
Kebudayaan didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor pada tahun 1871 dimana dalam bukunya primitive culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Yang menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Disamping nilai ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh pancaindera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Disamping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan.
24. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
Ilmu merupakan pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dalam rangka pengembangan kebudayaan ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terlenggaranya pengembangan kebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Dua dasar moral bagi kaum ilmuwan adalah meninggikan kebenara dan pengabdian secara universal. Tujuh nilai ilmiah yang terpancar dari hakikat keilmuwan yakni: kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Peranan ketujuh nilai ini adalah dalam hal bangsa mengahadapi permasalahan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan membutuhkan pemecahan permasalahan secara kritis, rasional, logis dan terbuka. Sedangkan sifat menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akan merupakan aktor yang penting dalam pembinaan bangsa dimana seseorang lebih menitikberatkan kebenaran untuk kepentingan golongan dibandingkan kepetingan golongan. Bukan saja seni namun ilmu dalam hakikatnya yang murni bersifat mempersatukan.
25. Dua Pola Kebudayaan.
Ada dua pola kebudayaan yang terbagi kedalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Raiso de’etre yang menjadi argumentasi pembagian jurusan ini adalah asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangakan pola pendidikan yang berbeda pula. Asumsi yang kedua adalah yang menganggap bahwa ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan matematika. Asumsi kedua ini sekarang ini tidak relevan lagi karena pengembangan ilmu sosial membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikanya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.
VIII. ILMU DAN BAHASA
26. Tentang Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetauan dan Sains
Seluruh bentuk dapat digolongkan dalam kategori ketahuan ( knowledge ) di mana masing-masing bentuk dapat di cirikan oleh karakter obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologi masing-masing. Salah satu bentuk knowledge ditandai dengan: 1. Obyek Ontologis yaitu pengalaman manusia yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat pancaindra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra; 2. Landasan epistemologis yaitu metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hyphotetico-verifikasi; 3. Landasa aksiologi: kemaslahatan manusia artina segenap ujud ketahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
27. Quo Vadis?
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Secara defacto dalam kalangan dunia keilmuwan terminology ilmu sudah sering dipergunakan seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu social atau ilmu-ilmu alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan kata ilmu pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim science dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge
28. Politik Bahasa Nasional
Bahasa mempunyai dua fungsi yang pertama sebaga sarana komunikasi dan kedua sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi pertama dapat disebut sebagai fungsi komunikatif dan fungsi kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dengan alasan utama yaitu fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana yang mengintegrasikaan berbagai suku kedalam satu bangsa yakni Indonesia
IX. PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
29. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Langkah pertama dalam penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah yang berisi: latarbelakang dari suatu masalah. Kemudian melakukan identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Langkah kedua yaitu : pengajuan Hipotesis. Dalam hipotesis mengkaji mengenai teori-teori ilmiah yang dipergunakan dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan, penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premis-premis dan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan, lalu merumuskan hipotesis. Setelah melakukan perumusan hipotesis maka langkah berikutnya menguji hipotesis secara empiris melalui penelitian dan kemudian hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan sebagai berikut: 1. menyatakan variabel-variabel yang diteliti. 2. Menyatakan teknik analisa data. 3. Mendeskripsikan hasil analisis data. 4. memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data. 5. Menyimpulkan pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima. Langkah selanjutnya setalah kegiatan laporan hasil penelitian adalah Ringkasan dan Kesimpulan. Kesimpulan pengujian hipotesis dikembangkan menjadi kesimpulan penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri. Kesimpulan penelitian ini merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Seluruh laporan penelitian disarikan dalam sebuah ringkasan yang disebut abstrak. Dalam laporan penelitian dilampirkan daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti.
30. Teknik Penulisan Ilmiah
Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan serta teknik notasi. Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan. Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal dimana berbeda dengan tokoh dalam sebuah novel yang bisa berupa aku dan dia atau doktor faust. Kata ganti perorangan hilang dan diganti universal yakni ilmuwan. Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis dalam argumentasi kita. Pernyataan ilmiah yang kita gunakan harus mencatat beberapa hal yakni kita identifikasi orang membuat pernyataan tersebut, media komunikasi ilmiah dimana pernyataan tersebut di sampaikan, lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan waktu penerbitan dilakukan.
31. Teknik Notasi Ilmiah
Kalimat yang kita kutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Catatan kaki mulai langsung dari pinggi atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir asalka dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pertama ditambah kata et al. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamanya dengan singkatan p ( pagina ) atau hlm. ( halaman ). Jika kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dapat ditulis pp.1-5 atau hlm 1-5. jika nama pengaranganya tidak ada langsung dituliskan nama bukunya atau Anom ( anoniymous ) didepan nama buku tersebut. Sebuah buku yang ada diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah bukut tersebut sedangkan kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya. Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op.cit ( opere citato: dalam karya yang telah dikutip ), loc. cit ( loco citato: dalam tempat yang telah dikutip dan ibid ( ibidem : dalam tempat yang sama ).
Pengetahuan dimulai denga rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang ita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.
Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: apakah sebenarnya yang asaya ketahui tentang ilmu? Apakah cirri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mempelajari ilmu? Apakah kegunaannya sebenarnya?
Demikian juga berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui: Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya saya ketahui dalam kehidupan ini? Dibatas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti? Kemanakah saya harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kegunaan ilmu?
Apakah Filsafat?
Ada tiga karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Yang kedua adalah sifat mendasar. Yang ketiga adalah sifat spekulatif.
Bidang Telaah Filsafat
Selaras dengan dasarnya yang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya menjawab sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok: terjawab masalah yang satu, diapun mulai merambah pertanyaan lain.
Cabang-Cabang Filsafat
Cabang-cabang filsafat antara lain: Epistemologi ( filsafat pengetahuan ). 2. Etika ( fisalfat moral ). 3. Estetika ( Filsafat seni ). 4. Metafisika. 5.Politik ( filsafat pemerintahan ). 6 Filsafat Agama. 7. Filsafat ilmu 8. Filsafat pendidikan. 9 Filsafat Hukum. 10. Filsafat sejarah. 11. Filsafat matematika.
Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemology ( filsafat pengetahuan ) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu ( pengetahuan ilmiah ). Filsafat ilmu merupakan telaah scara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti:
Obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera yang membuahkan pengetahuan? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan landasan ontologism
II. DASAR-DASAR PENGETAHUAN
2. Penalaran
Penalaran merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai kegiatan berpikir, penalaran mempunyai irri-ciri tertentu yaitu: pertama, adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Atau dapat juga dikatakan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Ciri yang kedua adalah proses berpikirnya bersifat analitik.
Perasaan adalah suatu penarikan kesimpulan yang tidak berdasarkan penalaran.
Intuisi adalah suatu kegiatan berpikir yang nonanalitik yang tidak mendasarkan diri pada pola pikir tertentu.
3. Logika
Logika dapat di defenisikan sebagai pengkajian untuk berpikir secara sahih. Logika ada dua yaitu: logika induksi dan logika deduksi. Logika Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari kasus yang bersifat individual. Sedangkan logika deduksi merupakan cara berpikir di mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif menggunakan pola berpikir silogisme. Disusun dari dua buah pertanyaan dan sebuah kesimpulan.
4. Sumber pengetahuan
Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme sedangkan mereka yang mendasarkan diri kepada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan empirisme.
Kaum rasionalis beranggapan bahwa pengetahuan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak sedangkan kaum empirisme pengetahuan manusia didapatkan lewat bukti konkret. Selain rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yaitu intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Suatu masalah dalam pikiran namun menemui jalan buntu, tiba-tiba saja muncul di benak kita yang lengkap dengan jawabannya dan kita merasa yakin bahwa itulah jawabannya namun kita tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya kita sampai kesana. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan.
Wahyu pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada para nabi dan rasul-rasulnya.
5. Kriteria Kebenaran
Paham Koherensi.
Sesuatu yang dianggap benar apabila pernyataan dan kesimpulan konsisten dengan pernyataan dan kesimpulan yang terdahulu yang telah dianggap benar. Teori ini disebut teori koherensi. Atau dapat disimpulkan bahwa teori koherensi adalah suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar
Paham Korespondensi ( Bertrand Russell ( 1872-1970 )
Bagi penganut teori korespondensi, suatu pernyataan benar adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi ( berhubungan ) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.
Paham Pragmatisme ( Charles S. Peirce 1839-1914 ).
Bagi kaum pragmatisme kebenaran adalah suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia.
III. ONTOLOGI : HAKIKAT APA YANG DIKAJI
6. Metafisika
Apakah hakikat kenyataan ini yang sebenar-benarnya? Metafisika dapat diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki apa hakikat dibalik alam nyata ini. Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah.
7. Asumsi
Determinisme, probabilistik dan pilihan bebas merupakan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini akan sulit bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton ( 1788-1856 ) dari doktrin Thomas Hobbes ( 1588-1679 ) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran ini merupakan lawan dari fatalisme yang menyatakn bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang ditetapkan lebih dahulu.
8. Peluang
Berdasarkan teori keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian. Yang ada adalah kesimpulan yang probabilistik.
9. Beberapa asumsi dalam ilmu
Suatu permasalahan kehidupan tidak bisa dianalisis secara cermat dan saksama hanya oleh satu disiplin keilmuan saja. Dalam mengembangkan asumsi kita harus perhatikan beberapa hal. Pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keaadaan yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan asumsi yang kedua adalah asumsi yang mendasari telaah moral.
10. Batas-Batas Penjelajahan Ilmu
Ilmu memulai penjelajahan pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahanya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.
IV. EPISTEMOLOGI : CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
11. Jarum Sejarah Pengetahuan
Konsep dasar pengetahuan waktu dulu adalah kriteria kesamaan bukan perbedaan. Tetapi setelah berkembangnya abad penalaran pada pertengahan abad ke 17 konsep dasarnya berubah dari kesamaan kepada perbedaan berbagai pengetahuan yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan konsekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan. Pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan berdasarkan apa yang diketahuai, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.
12. Pengetahuan
Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu. Termasuk didalamnya adalah ilmu. Setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri yang spesifik mengenai apa ( ontologi ), bagaimana gaimana ( epistemologi ) dan untuk apa ( aksiologi ). Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman kita. Usaha untuk mengetahui gejala ualam sudah dimulai sejak dulu kala melalui mitos. Tahap selanjutnya yaitu dengan mengembangkan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis dan berakar pada pengalaman berdasarkan akal sehat yang didukung oleh metode mencoba-coba. Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahan yang disebut seni terapan. Akal sehat dan coba-coba mempunyai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam. Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempertanyakan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Lalu berkembang lagi kearah empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didasarkan kepada kenyataan pengalaman.
13. Metode Ilmiah
Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah. Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah adalah sebagai berikut yaitu: pertama, perumusan masalah, Kedua, Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara faktor yang saling mengait dan membentuk konstelasi permasalahan, ketiga. Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Keempat, pengujian hipotesis. Kelima. Penarikan kesimpulan.
14. Struktur Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan yang di proses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan dan dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pada hakikatnya pengetahuan ilmiah mempunyai tiga fungsi yakni menjelaskan, merencanakan dan mengontrol. Sebuah teori pada umumnya terdiri dari hukum-hukum. Hukum pada hakikatnya merupakan pernyataan yang menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam suatu kaitan sebab akibat. Makin tinggi keumuman konsep maka makin tinggi teoritis konsep tersebut. Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori dan hukum harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi atau secara idealnya harus bersifat universal. Dalam ilmu sosial untuk meramalkan menggunakan metode proyeksi, pendekatan struktural, analisis kelembagaan atau tahap-tahap perkembangan. Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui dinamakan penelitan murni atau penelitian dasar. Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah yang telah diketahui untuk memecahkan masalah kehidpan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan.
15. V. SARANA BERPIKIR ILMIAH
Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut memungkinkan melakukan penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika, statistika.
16. Bahasa
Bahasa dapat dicirikan sebagai serangkaian bunyi, lambang dimana rangkaian bunyi ini membentuk suatu arti tertentu. Rangkaian bunyi ini yang kita kenal sebagai kata melambangkan suatu obyek tertentu. Bahasa mengalami perkembangan oleh karena disebabkan pengalaman dan pemikiran manusia yang juga berkembang. Dengan bahasa manusia dapat berpikir secara teratur namun juga dapat mengkomunikasikan apa yang sedang ia pikirkan kepada orang lain. Tanpa bahasa maka mustahil bisa berpikir secara teratur dan dengan bahasa kita bisa melanjutkan nilai-nilai kepada generasi berikutnya. Berbahasa dengan jelas adalah makna yang terkandung dalam kata-kata harus diungkapkan secara tersurat untuk mencegah pemberian makna yang lain. Berbahasa dengan jelas artinya juga mengungkapkan pendapat atau pikiran secara jelas.
Karya ilmiah pada dasarnya merupakan kumpulan pernyataan yang mengemukakan informasi tentang pengetahuan maupun jalan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan tersebut
17. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika hanya kumpulan rumus-rumus yang mati. Matematika mempunyai kelebihan dari bahasa verbal karena matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan bahasa verbal hanya bisa mengemukakan peryataan yang bersifat kualitatif. Sifat kuantitatif dari matematika meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Ilmu memberikan jawaban yang lebih bersifat eksak yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat. Matematika berfungsi sebagai alat berpikir. Matematika secara garis besarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif.
Ada beberapa aliran dalam Filsafat Matematika antara lain: Aliran Logistik ( Immanuel Kant ) Aliran Intusionis ( Jan Brouwer ) dan Aliran Formalis ( David Hilbert ).
18. Statistika
Yang menjadi dasar teori statistika adalah peluang. Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam suatu populasi. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik. Yang pada pokoknya didasarkan pada asas yang sederhana, yakni semakin besar contoh yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Statistika juga memberikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hubungan kausalitas antara dua faktor atua lebih bersifat kebetulan atau benar-benar terkait dalam suatu hubungan yang bersifat empiris. Sebagai bagian dari perangkat metode ilmiah maka statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan secara kebetulan.
VI. AKSIOLOGI : NILAI KEGUNAAN ILMU
19. Ilmu dan Moral
Untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Kearah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Sejak pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perpektif yang berbeda. Sejak Copernikus ( 1473-1543 ) mengajukan teori tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa bumi yang berputar mengelilingi matahari dan bukan sebaliknya seperti apa yang diajarkan oleh ajaran agama maka disinilah timbul interaksi antara ilmu dan moral ( yang bersumbe dari ajaran agama ). Para ilmuan berusaha untuk menegakkan ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana semboyan : ilmu yang bebas nilai.
20. Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan\
Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui. Raja Charles II dari Inggris mendirikan the Royal Society yang bertindak selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat waktu itu. Para ilmuwan pada waktu itu bersuara mengenai toleransi beragama dan pembakaran tukang-tukan sihir. Sikap sosial seorang ilmuwan adalah konsisten dengan proses penelaahan keilmuwan yang dilakukan. Ilmu terbebas dari nilai. Ilmu itu sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberikan nilai. Dalam menghadapi masalah social, seorang ilmuwan yang mempunyai latarbelakang pengetahuan yang cukup harus menempatkan masalah tersebut pada proporsi ang sebenarnya dan menjelaskanya lepada masyarakat dalam bahasa yang dapat dicerna. Dengan kemampuan yang dimiliki oleh seorang ilmuwan maka harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogiyanya mereka safari. Dibidang etika, tanggungjawab seorang ilmuwan bukan lagi memberikan informasi tetapi memberikan contoh.
21. Nuklir dan Pilihan Moralnya.
Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penemuanya untuk menindas bangsa lain meskipun yang menggunakan itu adalah bangsanya sendiri. Einstein waktu itu memihak Sekutu karena anggapanya bahwa sekutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Jika sekutu kalah maka yang akan muncul adalah rezim Nazi yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpaku tangan. Dia harus memilih sikap: berpihak kepada kemanusiaan atau tetap bungkam?. Seorang ilmuwan tak boleh memutarbalikan penemuwannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun diatas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan fakta-fakta pengujian.
22.Revolusi Genética
Revolusi genética merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai obyek penelaahan itu sendiri. Memperlakukan manusia sebagai kelinci pencobaan adalah sikap yang tidak bermoral dan bertentangan dengan hakikat ilmu.
VII. ILMU DAN KEBUDAYAAN
23. Manusia dan Kebudayaan
Kebudayaan didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor pada tahun 1871 dimana dalam bukunya primitive culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Yang menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Disamping nilai ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh pancaindera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Disamping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan.
24. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional
Ilmu merupakan pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Dalam rangka pengembangan kebudayaan ilmu mempunyai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terlenggaranya pengembangan kebudayaan nasional. Kedua, ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.
Dua dasar moral bagi kaum ilmuwan adalah meninggikan kebenara dan pengabdian secara universal. Tujuh nilai ilmiah yang terpancar dari hakikat keilmuwan yakni: kritis, rasional, logis, obyektif, terbuka, menjunjung kebenaran dan pengabdian universal. Peranan ketujuh nilai ini adalah dalam hal bangsa mengahadapi permasalahan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan membutuhkan pemecahan permasalahan secara kritis, rasional, logis dan terbuka. Sedangkan sifat menjunjung kebenaran dan pengabdian universal akan merupakan aktor yang penting dalam pembinaan bangsa dimana seseorang lebih menitikberatkan kebenaran untuk kepentingan golongan dibandingkan kepetingan golongan. Bukan saja seni namun ilmu dalam hakikatnya yang murni bersifat mempersatukan.
25. Dua Pola Kebudayaan.
Ada dua pola kebudayaan yang terbagi kedalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Raiso de’etre yang menjadi argumentasi pembagian jurusan ini adalah asumsi yang pertama mengemukakan bahwa manusia mempunyai bakat yang berbeda dalam pendidikan matematika yang mengharuskan kita mengembangakan pola pendidikan yang berbeda pula. Asumsi yang kedua adalah yang menganggap bahwa ilmu sosial kurang memerlukan pengetahuan matematika. Asumsi kedua ini sekarang ini tidak relevan lagi karena pengembangan ilmu sosial membutuhkan bakat-bakat matematika yang baik untuk menjadikanya pengetahuan yang bersifat kuantitatif.
VIII. ILMU DAN BAHASA
26. Tentang Terminologi: Ilmu, Ilmu Pengetauan dan Sains
Seluruh bentuk dapat digolongkan dalam kategori ketahuan ( knowledge ) di mana masing-masing bentuk dapat di cirikan oleh karakter obyek ontologis, landasan epistemologis dan landasan aksiologi masing-masing. Salah satu bentuk knowledge ditandai dengan: 1. Obyek Ontologis yaitu pengalaman manusia yakni segenap ujud yang dapat dijangkau lewat pancaindra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra; 2. Landasan epistemologis yaitu metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico-hyphotetico-verifikasi; 3. Landasa aksiologi: kemaslahatan manusia artina segenap ujud ketahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.
27. Quo Vadis?
Terminologi Ilmu untuk science dan pengetahuan untuk knowledge. Secara defacto dalam kalangan dunia keilmuwan terminology ilmu sudah sering dipergunakan seperti dalam metode ilmiah dan ilmu-ilmu social atau ilmu-ilmu alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah bahwa kita terpaksa meninggalkan kata ilmu pengetahuan dan hanya menggunakan kata ilmu saja untuk sinonim science dalam bahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk science dan pengetahuan untuk knowledge
28. Politik Bahasa Nasional
Bahasa mempunyai dua fungsi yang pertama sebaga sarana komunikasi dan kedua sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi pertama dapat disebut sebagai fungsi komunikatif dan fungsi kedua sebagai fungsi kohesif atau integratif. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dengan alasan utama yaitu fungsi kohesif bahasa Indonesia sebagai sarana yang mengintegrasikaan berbagai suku kedalam satu bangsa yakni Indonesia
IX. PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
29. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Langkah pertama dalam penelitian ilmiah adalah mengajukan masalah yang berisi: latarbelakang dari suatu masalah. Kemudian melakukan identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Langkah kedua yaitu : pengajuan Hipotesis. Dalam hipotesis mengkaji mengenai teori-teori ilmiah yang dipergunakan dalam analisis, pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan, penyusunan kerangka berpikir dengan mempergunakan premis-premis dan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan, lalu merumuskan hipotesis. Setelah melakukan perumusan hipotesis maka langkah berikutnya menguji hipotesis secara empiris melalui penelitian dan kemudian hasil penelitian dapat dilaporkan dalam kegiatan sebagai berikut: 1. menyatakan variabel-variabel yang diteliti. 2. Menyatakan teknik analisa data. 3. Mendeskripsikan hasil analisis data. 4. memberikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data. 5. Menyimpulkan pengujian hipotesis apakah ditolak atau diterima. Langkah selanjutnya setalah kegiatan laporan hasil penelitian adalah Ringkasan dan Kesimpulan. Kesimpulan pengujian hipotesis dikembangkan menjadi kesimpulan penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri. Kesimpulan penelitian ini merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian yang terdiri dari masalah, kerangka teoritis, hipotesis, metodologi penelitian dan penemuan penelitian. Seluruh laporan penelitian disarikan dalam sebuah ringkasan yang disebut abstrak. Dalam laporan penelitian dilampirkan daftar pustaka dan riwayat hidup peneliti.
30. Teknik Penulisan Ilmiah
Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan serta teknik notasi. Penulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif artinya bahwa sipenerima pesan mendapatkan kopi yang benar-benar sama dengan prototipe yang disampaikan sipemberi pesan. Komunikasi ilmiah harus bersifat impersonal dimana berbeda dengan tokoh dalam sebuah novel yang bisa berupa aku dan dia atau doktor faust. Kata ganti perorangan hilang dan diganti universal yakni ilmuwan. Pembahasan secara ilmiah mengharuskan kita berpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah sebagai premis dalam argumentasi kita. Pernyataan ilmiah yang kita gunakan harus mencatat beberapa hal yakni kita identifikasi orang membuat pernyataan tersebut, media komunikasi ilmiah dimana pernyataan tersebut di sampaikan, lembaga yang menerbitkan publikasi ilmiah tersebut beserta tempat domisili dan waktu penerbitan dilakukan.
31. Teknik Notasi Ilmiah
Kalimat yang kita kutip harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Catatan kaki mulai langsung dari pinggi atau dapat dimulai setelah beberapa ketukan tik dari pinggir asalka dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang yang lebih dari tiga orang hanya ditulis nama pertama ditambah kata et al. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu disebutkan halamanya dengan singkatan p ( pagina ) atau hlm. ( halaman ). Jika kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dapat ditulis pp.1-5 atau hlm 1-5. jika nama pengaranganya tidak ada langsung dituliskan nama bukunya atau Anom ( anoniymous ) didepan nama buku tersebut. Sebuah buku yang ada diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah bukut tersebut sedangkan kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya. Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op.cit ( opere citato: dalam karya yang telah dikutip ), loc. cit ( loco citato: dalam tempat yang telah dikutip dan ibid ( ibidem : dalam tempat yang sama ).
Subscribe to:
Posts (Atom)