Thursday, January 20, 2011

Makna Situasional/Kontekstual dan Makna Tekstual dalam Penerjemahan

Ketika memahami sebuah teks pemahaman kita tidak mungkin hanya berhenti pada makna referensial dan organisasional karena pesan sebuah teks lahir dari suatu situasi kemunikasi yang spesifik. Larson (1984) mengatakan bahwa situasi di mana sebuah kata digunakan juga sangat penting terhadap makna keseluruhan sebuah kata.

Makna juga kemudian muncul secara berbeda tergantung siapa yang berbicara, siapa yang diajak bicara dan dalam situasi seperti apa teks itu muncul.

Kemudian lebih jauh makna sebuah teks maupun ujaran juga dipengaruhi oleh latar belakang kultural serta status sosial masing-masing yang terlibat dalam proses komunikasi tersebut. Ungkapan “White as a snow” akan sulit di pahami oleh seseorang yang hidup di wilayah yang tidak mengenal salju. Seorang penerjemah harus berpikir keras mencari sifat apa yang disimbolkan dari kata salju dan kemudian mencari padanannya yang sedekat mungkin sesuai dengan kultur bahasa target. “Putih seputih kapas” mungkin padanan yang paling mendekati untuk bahasa di mana masyarakatnya mempunyai basis kultur agraris. Untuk bahasa dengan basis kultur yang berbeda mungkin “putih seputih awan” menjadi padanan yang tepat. Seorang penerjemah harus menyadari sebuah kata atau ungkapan oleh konteks situasi atau budaya (Larson, 1984:131)

Makna sebuah kata juga ditentukan oleh hubungannya dengan unit-unit lain pada sebuah teks. Suryawinata (2003) mangatakan bahwa makna tekstual adalah makna yang timbul dari stuasi atau konteks di mana frasa, kalimat atau ungkapan tersebut dipakai. Bahkan perbedaan genre suatu teks pun ikut menentukan makna seperti yang dikatakan Nababan (2003) bahwa makna tekstual berkaitan dengan isi suatu teks atau wacana dan perbedaan jenis teks dapat pula menimbulkan makna suatu kata menjadi berbeda.

Kata bear, misalkan, ketika muncul pada teks yang berbeda akan memperoleh makna yang berbeda pula. Seperti yang dicontohkan oleh Machali (2000):

1) I can’t bear it anymore

2) She can’t bear children, since her womb was removed during a cancer operation.

3) He shot a bear among the trees.

Pada contoh nomer satu di atas nampak kata ‘bear’ berarti ‘tahan’ atau lengkapnya ‘Saya tidak tahan lagi’. Sementara pada kalimat kedua ‘bear’ berarti ‘melahirkan’, dalam konteks melahirkan bayi. Bahkan pada kalimat ketiga kata yang sama ‘bear’ berfungsi sebagai kata benda yang berarti ‘beruang’. Seorang penerjemah yang tidak memperhatikan bagaimana sebuah kata muncul bersama kata-kata lainnya di dalam teks akan mengalami kesulitan untuk menentukan makna yang tepat sebuah kata. Bahkan pada kasus-kasus tertentu bisa berakibat fatal bagi proses penerjemahan.

2 comments:

3sd said...

thanks very much.

Rahman said...

Mmtp