Wednesday, September 29, 2010

Komunikasi Interpersonal

Komunikasi Interpersonal
Oleh Andika Hendra Mustaqim
I. Pendahuluan
Komunikasi interpersonal dalam kehidupan manusia sudah menjadi kebutuhan, layaknya kita mengkonsumsi makanan setiap hari. Bahkan, jika manusia mampu menahan lapar, manusia normal pada umumnya sendiri sangat sulit untuk menahan diri untuk berkomunikasi dalam pergaulan masyarakat. Karena itu, komunikasi tak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia, bahkan sudah menjadi satu kesatuan yang utuh.
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal atau nonverbal. Komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi yang hanya dua orang, seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, guru-murid dan sebagainya (Mulyana, 2000: 73)
Komunikasi interpersonal adalah "interaksi tatap muka antar dua atau beberapa orang, di mana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung, dan penerima pesan dapat menerima dan menanggapi secara langsung pula". Kebanyakan komunikasi interpersonal berbentuk verbal disertai ungkapan-ungkapan nonverbal dan dilakukan secara lisan. Cara tertulis diambil sejauh diperlukan, misalnya dalam bentuk memo, surat atau catatan. (Hardjana, 2003: 85)
Daam buku Inter-personal Skills, Astrid French mengatakan, “kecakapan interpersonal adalah segala sesuatu yang kita gunakan ketika kita berkomunikasi langsung dengan orang lain.” Pada kenyataannya, apapun yang kita katakan dan lakukan, meninggalkan kesan serta pengaruj pada diri seseorang. Singkatnya, pesan-pesan yang kita komunikasikan bisa saja membantu atau menghambat sebuah hubungan. (Elfiky, 2009: 83)
Dari pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa komunikasi interpersonal adalah interaksi yang dilakukan antar sesama manusia sehingga ada respon yang disampaikan secara verbal maupun nonverbal. Tentunya, komunikasi interpersonal dilakukan karena memiliki tujuan yakni untuk saling mendekatkan satu sama lain.
Jika diibaratkan, sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara, mereka akan selalu menjalani komunikasi interpersonal. Jika lewat dalam satu hari tak saling kontak, mereka seperti ada sesuatu yang hilang. Itu semua karena mereka ingin saling dekat satu sama lain.
Sementara itu, Redding yang dikutip Muhammad (2004:159-160) mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi atau pemeriksaan dan wawancara. Dengan demikian, apa yang dilakukan manusia dalam berkomunikasi dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari dapat digolongkan sebagai komunikasi interpersonal.
II. Pendahuluan
A. Faktor-Faktor Komunikasi Interpersonal
Menurut Rakhmat (2007: 80) mengemukakan faktor-faktor yang dapat menyebabkan komunikasi interpersonal terdiri dari: (1) persepsi interpersonal, (2) konsep diri, (3) atraksi interpersonal, dan (4) hubungan interpersonal. Dalam makalah ini, akan dibahas satu persatu hal tersebut.
1. Persepsi Interpersonal.
Ada faktor-faktor situasional yang mempengaruhi persepsi interpersonal yakni deskripsi verbal, petunjuk prosemik, petunjuk kinesik, petunjuk wajah, petunjuk paralinguistik, dan petunjuk artifaktual. (Rakhmat, 2007:82-89)
Selain itu, menurut Rakhmat (2007: 89-91) persepsi interpersonal juga dipengaruhi oleh faktor-faktor personal seperti pengalaman, motivasi, dan kepribadian.
Pengalaman adalah guru terbaik, demikian pepatah berujar. Menurut penulis, pengalaman telah membentuk sebuah suatu cara pandang seseorang dalam kehidupan, dan diaplikasi dengan dalam berkomunikasi. Semisal, jika seseorang yang pernah kecewa dengan seseorang perempuan yang cerewet, maka dia akan berhati-hati jika akan menjalin komunikasi ketika berkenalan dengan perempuan tipe tersebut.
Dalam hal motivasi yang dilatarbelakangi oleh faktor eksternal dan internal dalam diri manusia juga memegang peranan penting. Misalnya, seorang pegawai yang ingin cepat mendapatkan promosi, maka motivasi yang dimilikinya adalah menjalani komunikasi yang baik dengan atasannya. Kalau kepribadian, itu dikaitkan dengan watak manusia itu sebenarnya.
Setelah itu, bergabungnya faktor personal dan situasional maka akan mengarah pada proses persepsi interpersonal. Nah, proses tersebut yang dijelaskan oleh Rakhmat (2007:92-96) terdapat stereotyping, implicit personality theory, atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak.
Setelah itu, proses pengelolaan pesan. Peralatan lengkap yang kita gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner). (Rakhmat: 2007:96) Tak bisa disangkal, menurut penulis, orang yang ingin mencari eksistensi diri dalam pergaulan akan melakukan hal tersebut. Semuanya dapat diskenariokan dalam berkomunikasi.
2. Konsep Diri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri antara lain orang lain dan kelompok rujukan. Konsep diri mempengaruhi komunikasi interpersonal dengan membuat yang dipenuhi sendiri, membuka diri, percaya diri, dan selektivitas.
3. Atraksi Interpersonal.
Menurut Rakhmat (2007: 111-113), faktor-faktor personal yang mempengaruhi atraksi interpersonal meluputi kesamaan karakteristik personal, tekanan emosional, harga diri yang rendah, dan isolasi sosial. Secara singkat, dalam kesamaan karakteristik personal ditinjau dari Teori Cognitive Consistency (Fritz Heider) menyebutkan bahwa orang akan mencari, berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya, kita cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita, dan jika kita menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita hal ini supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten. Kalau tekanan emosional, dimana bila orang berada dalam keadaan yang mencemaskannya atau harus memikul beban emosional, ia menginginkan kehadiran orang lain. Sedangkan, isolasi sosial dimana mahluk social, manusia mungkin tahan hidup terasing beberapa waktu, tetapi tidak untuk waktu yang lama.
Dalam pandangan penulis, kesamaan karekteristik personal akan sangat nyata terlihat dalam kelompok gosip, pertemanan, dalam skala besar adalah organisasi. Mereka berkumpul karena ada rasa senasib, sepenanggungan, dan seperjuangan. Orang yang tertekan secara emosional pun cenderung membutuhkan sebuah ajang atau wadah, yakni berupa kelompok kecil di pergaulan. Jika sudah mentok, isolasi diri untuk sementara waktu menghindari tekanan adalah solusi terbaik. Bagi pegawai kantoran, umumnya akan mengambil cuti berlibur.
Belum cukup faktor personal semata, tetapi atraksi sosial juga didukung faktor-faktor situasional yang meliputi daya tarik fisik, ganjaran, familiarity, kedekatan, dan kemampuan. (Rakhmat: 2007:114-117). Daya tarik fisik, dalam penelitian Dion, Berscheid dan Alster menyimpulkan penilaian pada orang-orang yang memiliki wajah yang cantik mereka cenderung menilai akan lebih berhasil dalam hidupnya dan dianggap memiliki sifat-sifat yang baik. Kemudian, Ganjaran dimana kita menyenangi orang yang memberikan ganjaran kepada kita berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal-hal yang meningkatkan harga diri kita. Kalau, familiarity yakni sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan baik. Orang cenderung tertarik dengan orang yang sudah akrab dengan mereka.Selanjutnya adalah kemampuan dengan banyak orang cenderung menyenangi orang lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan dirinya. Kemudian, kedekatan atau proximity, dimana orang cenderung menyenangi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan, persahabatan akan lebih mudah tumbuh diantara tetangga yang saling berdekatan (Whyte, 1956).
Penulis melihat faktor situasional sangat terlihat ketika dalam komunikasi dalam dunia kerja. Seorang karyawan lelaki cenderung menjalani komunikasi dengan perempuan yang cantik apalagi baik hati dan suka mentraktir. Jika seorang karyawan tersebut umumnya akan menghindari kawan yang kerap mengkritiknya. Ada kencederungan, karyawan itu akan menjalin komunikasi dengan orang yang telah dikenalnya dalam membentuk kelompok kecil. Kelompok tersebut biasa sebagai ajang curahan hati dan menjalankan misi tertentu dalam komunikasi kelompok.
4. Hubungan Interpersonal.
Menurut Arnold W. Goldstein (1975) dalam (Rakhmat, 2007: 120) hubungan interpersonal ada tiga yaitu: (1) makin baik hubungan interpersonal seseorang maka semakin terbuka individu mengungkapkan perasaannya; (2) makin baik hubungan interpersonal seseorang maka semakin cenderung individu meneliti perasaannya secara mendalam beserta penolongnya (psikolog); (3) makin baik hubungan interpersonal seseorang maka makin cenderung individu mendengarkan dengan penuh perhatian dan bertindak atas nasehat penolongnya.
Sementara itu, menurut Coleman dan Hammen (1974: 224-231) dalam Rakmat (2007:120-124) menyebutkan empat buah model. (1) model pertukaran sosial (social exchange model) yakni memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang dengan konsep ganjaran, biaya, laba, dan tingkat perbandingan. Dalam kehidupan sehari-hari, penulis berpandangan bahwa model tersebut umumnya terjadi dalam pergaulan antar sesama pengusaha dan pedagang.
(2) Model peranan (role model) yakni memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara dengan dukungan setiap orang memainkan peranannya sesuai dengan naskah. Kalau penulis sendiri memandang, model ini biasanya diterapkan jika kebutuhan komunikasi diterapkan secara profesional, layaknya seorang yang bekerja di dunia public relation.
(3) Model permainan (the games people play model) dengan acuan dalam hubungan interpersonal, kita menampilkan salah satu aspek kepribadian kita (orang tua, orang dewasa, anak) dan orang lain membalasnya dengan salah satu aspek tersebut. (4) Model interaksional (interactional model) yang memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem yang memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Nah, model tersebut biasanya terjadi dalam lingkungan militer ataupun segala sesuatu yang menyangkut birokrasi pemerintahan.
Dalam hubungan interpersonal, menurut Rakhmat (2007: 124-129), memiliki tahap-tahap. Pertama adalah pembentukan hubungan interpersonal atau dikenal dengan tahap perkenalan. Dalam tahap ini, masing-masing pihak berusaha “menggali” secepatnya identitas, sikap, dan nilai pihak yang lain.
Kedua adalah peneguhan hubungan interpersonal karena hubungan tersebut tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan keseimbangan (equilibrium). Ada empat faktor yang amat penting dalam memelihara keseimbangan ini: keakraban, kontrol, respons yang tepat, dan nada emosional yang tepat.
Ketiga adalah pemutusan hubungan interpersonal yang umumnya disebabkan konflik. Dalam analisis R.D Nye (1973) dalam bukunya Conflict among Humas, disebutkan ada lima sumber konflik. (1) Kompetisi – salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorban orang lain; misalnya menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan orang lain. (2) Dominasi – salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang itu merasakan hak-haknya dilanggar. (3) Kegagalan – masing-masing berusaha menyalahkah yang lain apabila tujuan bersama tidak tercapai. (4) Provokasi – salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui menyinggung perasaan orang lain. (5) Perbedaan nilai – kedua belah pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut. (Rakhmat, 2007:129)
Untuk menggambar tahapan dalam komunikasi, penulis memberikan gambaran seseorang lelaki yang jatuh cinta dengan kekasih barunya. Misalnya, si A jatuh cinta dengan si B. Karena sudah berpengalaman, si A pun mendekati si B dengan mudahnya. Pertama, tentunya mengajak berkenalan, mulai bertanya tentang data pribadi dan nomer ponsel. Dalam proses berkenalan, terjadi interaksi untuk saling mengetahui terutama dari pihak A. Jika sudah waktunya tepat, si A pun menyatakan rasa cintanya. Jika diterima, maka tahap penguatan komunikasi dilanjutnya, misalnya saling berkunjung ke rumah masing-masing, dan berlibur bersama. Namun, ternyata di tengah jalan hubungan cinta itu, si A kecewa dengan si B karena terlalu materialis. Putus adalah jalan terbaik bagi si A karena ingin mencari kekasih lainnya yang terbaik baginya. “Dari pada “makan hati” terus!” kata si A berulang kali di dalam hati.

B. Membangun Komunikasi Interpersonal yang Efektif
Menurut Rahkmat (2007:129-133), ada beberapa yang menumbuhkan hubungan
interpersonal dalam komunikasi interpersonal meliputi percaya (trust), sikap sportif, dan sikap terbuka.
a. Percaya (trust). Secara ilmiah, “percaya” didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh resiko (Griffin, 1967:224-234). Dengan adanya percaya dapat meningkatkan komunikasi interpersonal karena membuka saluran komunikasi, memperjelas pengiriman dan penerimaan informasi, serta memperluas peluang komunikan untuk mencapai maksud tertentu.
b. Sikap suportif. Sikap suportif adalah adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi seseorang bersikap defensif apabila tidak menerima, tidak jujur, tidak empatis. Dengan sikap defensif komunikasi interpersonal akan gagal.
c. Sikap terbuka (open mindedness). Sikap terbuka amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatisme, sehingga untuk memehami sikap terbuka, kita harus mengidentifikasi lebih dahulu kharakteristik orang dogmatis.
Ketiga hal tersebut jika diterapkan dalam komunikasi interpersonal dalam keseharian kita, maka semuanya akan berjalan lancar. Misalnya, seorang pria (si A) yang jatuh cinta dengan seorang gadis (si B). Tentunya, diawali dengan percaya. Jika si B percaya dengan si B dalam berkomunikasi, maka si B akan merasa aman. Rasa aman akan menimbulkan kenyamanan dalam berkomunikasi sehingga tak ada halangan lainnya. Dilanjutkan, sikap suportif antara si B dan si A. Keduanya saling menerima apa adanya, dan tidak tuntutan yang memberatkan. Ditambah dengan sikap keterbukaan yakni adanya rasa ikhlas dalam menjalani komunikasi tersebut.
Menurut Devito (1997:259-264) menyebutkan efektivitas komunikasi interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).
Keterbukaan bakal terjadi jika komunikator interpersonal yang efektif harus terbuka kepada orang yang diajaknya berinteraksi. Aspek keterbukaan yang kedua mengacu kepada kesediaan komunikator untuk bereaksi secara jujur terhadap stimulus yang datang. Kemudian, empati dalam pandangan Henry Backrack (1976) menyebutkan empati sebagai ”kemampuan seseorang untuk ‘mengetahui’ apa yang sedang dialami orang lain pada suatu saat tertentu, dari sudut pandang orang lain itu, melalui kacamata orang lain itu.”
Kalau, sikap mendukung (supportiveness) dengan catatan memperlihatkan sikap mendukung dengan bersikap (1) deskriptif, bukan evaluatif, (2) spontan, bukan strategik, dan (3) provisional (syarat), bukan sangat yakin. Selanjutnya, sikap positif, dengan (1) menyatakan sikap positif dan (2) secara positif mendorong orang yang menjadi teman kita berinteraksi. Sedangkan, kesetaraan dimana dalam setiap situasi, barangkali terjadi ketidaksetaraan. Terlepas dari ketidaksetaraan ini, komunikasi interpersonal akan lebih efektif bila suasananya setara.
Dalam pandangan Elfiky, membangun komunikasi interpersonal yang efektif melalui beberapa hal (2009:85-134). Pertama, sistem representasi, dalam sistem tersebut sebagai manusia, kita berinteraksi melalui pancaindera kita. Kelima indera kita mengacu pada sistem representasi, penamaan, mengatur, menyimpan, dan menghubungkan kita dengan alat penyaring persepsi kita. Sistem ini terdiri dari lima subsistem: visual, auditori, olfaktori (penciuman). Gustatoru (pengecapan) dan kinestetik.
Kedua, predikat (pilihan kata) adalah kata-kata dan frase-frase deskriptif, kata kerja utama, kata keterangan dan kata sifat yang dipilih seseorang ketik ebrkomunikasi. Pilihan kata dan frase tertentu menunjukkan kepada kita tipe pribadi orang tersebut, sistem representasi yang lebih dominan.
Ketiga, eyes accessing cues (petunjuk berdasarkan gerakan mata), hal ini didasar karena setiap manusia pasti akan menggerakkan mata ketika menjawab pertanyaan seseorang. Keempat, strategi membangun keselarasan meliputi menyesuaikan, melangkah, dan memimpin.
Kelima adalah 3V yang ditemukan oleh seorang Profesor dan penulis buku The Silent Message, Albert Meharabien. 3V terdiri dari Verbal yakni aspek lisan yang mencakup 7% dari keseluruhan komunikasi; Vokal bernilai lebih 38%, jika warna suara Anda dimaknai berbeda dari pesan yang disimbolkan oleh kata-kata, makan pesan vokal lebih kuat efeknya daripada pesan verbal; Visual yang mewakili 55% dari proses komunikasi keseluruhan, jika aspek verbal dan vokal digabungkan maka tidak akan mampu menandingi hebatnya pengaruh ekspresi wajah dan proses komunikasi.
Keenam adalah meta model yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder yang bertujuannya untuk memperoleh informasi dengan menciptakan hubungan antara orang-orang dan pengalaman masa lalu.
Selanjutnya, adapun menurut Muhammad (2004: 165-168), komunikasi interpersonal mempunyai 6 tujuan yakni menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membentuk dan menjaga hubungan yang penuh arti, berubah sikap dan tingkah laku, untuk bermain dan kesenangan, dan untuk membantu.
Penulis sangat sepakat dengan pendapat. Pasalnya, suatu hal yang menarik, belajar tentang komunikasi interpersonal. Kenapa? Kita belajar tentang kehidupan! Inti dari kehidupan adalah komunikasi! Akhir dari kehidupan adalah matinya komunikasi interpersonal!
Menurut penulis, komunikasi interpersonal juga memiliki tujuan utama yakni mencari eksistensi diri. Sudah menjadi kodrat manusia itu ingin dihargai sebagai pribadi yang utuh. Kemudian, manusia juga ingin menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Manusia juga mencari pelarian dalam permasalahannya dengan jalan komunikasi interpersonal.
Hanya manusia mampu berkomunikasi interpersonal dengan baik, maka dia akan hidup dalam arti hidup sebenarnya di dunia ini. Hanya manusia mampu berkomunikasi interpersonal dengan baik, maka dia mendapatkan kebahagiaan sehati bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Hanya manusia mampu berkomunikasi interpersonal dengan baik, maka dia akan menjadi pribadi seutuhnya yang mampu menjadi manusia sebenarnya di tempat yang benar dan waktu yang tepat.
III. Kesimpulan
Jadi, manusia dan komunikasi interpersonal bagaikan novelis dan imajinasi, pengusaha dan uang, pustakawan dan buku, petani dan cangkul, guru dan ilmu pengetahuan, dokter dan stetoskop, serta apoteker dan obat. Baik manusia dan komunikasi tak bisa melepaskan diri satu lain. Jika keduanya terlepas, maka dunia tak menganggapnya manusia itu memiliki nama.
Alangkah baiknya jika manusia mengelola komunikasi interpersonal dari bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur kembali. Tujuannya adalah menjadikan hal itu sebagai alat untuk mencapai kebahagian dalam diri sendiri dan membuat hidup kita bermanfaat bagi orang lain melalui komunikasi interpersonal.
Bab IV Daftar Pustaka
Devito, Joseph. (1997). Komunikasi Antar manusia. (Alih Bahasa Agus Maulana). Jakarta : Professional Book
Elfiky, Ibrahim. (2009). Terapi Komunikasi Efektif dengan Metode Praktis Neuro-Linguistic Programming (NLP. (Alih Bahasa Zubaedah). Jakarta: Hikmah
Hardjana, Agus M. (2003) Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal. Penerbit Kanisius
Muhammad, Arni. (2004). Komunikasi organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Rakhmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi (Edisi Revisi). Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Catatan:
Makalah ini dapat di akses di
www.nyongandikahendra.blogspot.com
www.ltunj2010.wordpress.com

No comments: