Thursday, April 30, 2009

Analisis Program Tahunan, Semester dan Alokasi Waktu


Pengembangan kurikulum mencakup pengembangan program tahunan, program semester, program modul atrau pook bahasan, program mingguan, dan harian, program pengayaan, program bimbingan konseling, pengembangan sillabus, dan penyusunan rencana pembelajaran.

Program Tahunan

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru matapelajaran yang bersangkutan sebagai pedoman bagi pengembangan program-program selanjutnya, seperti program semester, program mingguan, dan program harian atau program pembelajaran setiap pokok bahasan

Program tahunan memuat penjabaran alokasi waktu tiap-tiap standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk tiap semester dan tiap kelas selama satu tahun pelajaran. Program tahunan selanjutnya dijabarkan secara rinci pada program semester. Program tahunan dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran dimulai, karena merupakan pedoman bagi pengembangan program-program berikutnya. Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, rang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan (Mulyana, 2004 : 95).

Program Semester

Program semester adalah program yang berisikan garis-garis besar mengenai hal-hal yang hendal dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan. Isi dari program semester adalah tentang bulan, pokok bahasan yang hendak disampaikan, waktu yang direncanakan, dan keterangan-keterangan.

Program Modul atau Pokok Bahasan

Program modul adalah program yang dikembangkan dari setiap kompetensi dan pokok bahasan yang akana disampaikan yang merupakan penjabaran dari program semester dan berisi lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja, lunci lembar kerja, lembar soal, lembar jawaban, dan kunci jawaban. Dengan program modul diharapkan peserta didik dapat belajar secara mandiri.

Program semester merupakan penjabaran dari program tahunan. Program semester memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar beserta alokasi waktu , dan penjabaran alokasi waktu setiap bulannya selama satu semester. Memuat jumlah jam dan kegiatan pembelajaran selama satu semester, minggu efektif, dan hari libur.

Program Mingguan dan Harian

Program mingguan dan harian merupakan penjabaran dari program semester dan program modul yang dimaksudhkan untuk mengetahui tujuan-tujuan yang telah dicapai dan yang perlu diulang bagi setiap peserta didik dan juga untuk mengidentifikasi kemajuan belajar setiap peserta didik sehingga dapat diketahui peserta didik yang mendapatkan kesulitan dalam setiap modul yang dikerjakan dan peserta didik yang memiliki kecepatan belajar di atas rata-rata kelas.

Alokasi Waktu

Kurikulum satuan pendidikan pada setiap jenis dan jenjang diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pada setiap tahun ajaran. Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.

Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan.

Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam pembelajaran untuk seluruh matapelajaran termasuk muatan lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar nasional, dan hari libur khusus.

Contoh Program Tahunan dan Semester

Alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan lainnya.

Tabel 11. Alokasi Waktu pada Kelender Pendidikan

No Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan

1. Minggu efektif belajar Minimum 34 minggu dan maksimum 38 minggu Digunakan untuk kegiatan pembelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan

2. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Satu minggu setiap semester

3. Jeda antarsemester Maksimum 2 minggu

Antara semester I dan II

4. Libur akhir tahun pelajaran Maksimum 3 minggu Digunakan untuk penyiapan kegiatan dan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran

5. Hari libur keagamaan 2 – 4 minggu Daerah khusus yang memerlukan libur keagamaan lebih panjang dapat mengaturnya sendiri tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

6. Hari libur umum/nasional Maksimum 2 minggu Disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah

7. Hari libur khusus Maksimum 1 minggu Untuk satuan pendidikan sesuai dengan ciri kekhususan masing-masing

8. Kegiatan khusus sekolah/madrasah Maksimum 3 minggu Digunakan untuk kegiatan yang diprogramkan secara khusus oleh sekolah/madrasah tanpa mengurangi jumlah minggu efektif belajar dan waktu pembelajaran efektif

B. Penetapan Kalender Pendidikan

1. Permulaan tahun pelajaran adalah bulan Juli setiap tahun dan berakhir pada bulan Juni tahun berikutnya.

2. Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya keagamaan, Kepala Daerah tingkat Kabupaten/Kota, dan/atau organisasi penyelenggara pendidikan dapat menetapkan hari libur khusus.

3. Pemerintah Pusat/Provinsi/Kabupaten/Kota dapat menetapkan hari libur serentak untuk satuan-satuan pendidikan.

4. Kalender pendidikan untuk setiap satuan pendidikan disusun oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan alokasi waktu sebagaimana tersebut pada dokumen Standar Isi ini dengan memperhatikan ketentuan dari pemerintah/pemerintah daerah.

Contoh Program Tahunan dan Semester

44. Mata Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah Aliyah (MA)

A. Latar Belakang

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini.

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.

Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Selain itu, perlu ada pembahasan mengenai bagaimana matematika banyak diterapkan dalam teknologi informasi sebagai perluasan pengetahuan peserta didik.

B. Tujuan

Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah

2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika

3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh

4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah

5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

C. Ruang Lingkup

Mata pelajaran Matematika pada satuan pendidikan SMA/MA meliputi aspek-aspek sebagai berikut.

1. Logika

2. Aljabar

3. Geometri

4. Trigonometri

5. Kalkulus

6. Statistika dan Peluang.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar

Kelas X, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

1. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan bentuk pangkat, akar, dan logaritma

1.1 Menggunakan aturan pangkat, akar, dan logaritma

1.2 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang melibatkan pangkat, akar, dan logaritma

2. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan fungsi, persamaan dan fungsi kuadrat serta pertidaksamaan kuadrat

2.1 Memahami konsep fungsi

2.2 Menggambar grafik fungsi aljabar sederhana dan fungsi kuadrat

2.3 Menggunakan sifat dan aturan tentang persamaan dan pertidaksamaan kuadrat

2.4 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan yang berkaitan dengan persamaan dan pertidaksamaan kuadrat

2.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat

2.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan persamaan dan/atau fungsi kuadrat dan penafsirannya

3. Memecahkan masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan pertidaksamaan satu variabel

3.1 Menyelesaikan sistem persamaan linear dan sistem persamaan campuran linear dan kuadrat dalam dua variabel

3.2 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear

3.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dan penafsirannya

3.4 Menyelesaikan pertidaksamaan satu variabel yang melibatkan bentuk pecahan aljabar

3.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel

3.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel dan penafsirannya

Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Logika

4. Menggunakan logika matematika dalam pemecahan masalah yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor

4.1 Memahami pernyataan dalam matematika dan ingkaran atau negasinya

4.2 Menentukan nilai kebenaran dari suatu per-nyataan majemuk dan pernyataan berkuantor

4.3 Merumuskan pernyataan yang setara dengan pernyataan majemuk atau pernyataan berkuantor yang diberikan

4.4 Menggunakan prinsip logika matematika yang berkaitan dengan pernyataan majemuk dan pernyataan berkuantor dalam penarikan kesimpulan dan pemecahan masalah

Trigonometri

5. Menggunakan perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan masalah

5.1 Melakukan manipulasi aljabar dalam perhitungan teknis yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri

5.2 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri

5.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan perbandingan, fungsi, persamaan dan identitas trigonometri, dan penafsirannya

Geometri

6. Menentukan kedudukan, jarak, dan besar sudut yang melibatkan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi tiga

6.1 Menentukan kedudukan titik, garis, dan bidang dalam ruang dimensi tiga

6.2 Menentukan jarak dari titik ke garis dan dari titik ke bidang dalam ruang dimensi tiga

6.3 Menentukan besar sudut antara garis dan bidang dan antara dua bidang dalam ruang dimensi tiga

Program Ilmu Pengetahuan Alam

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Statistika dan Peluang

1. Menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah

1.1 Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive

1.2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya

1.3 Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data, serta penafsirannya

1.4 Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah

1.5 Menentukan ruang sampel suatu percobaan

1.6 Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya

Trigonometri

2. Menurunkan rumus trigonometri dan penggunaannya

2.1 Menggunakan rumus sinus dan kosinus jumlah dua sudut, selisih dua sudut, dan sudut ganda untuk menghitung sinus dan kosinus sudut tertentu

2.2 Menurunkan rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus

2.3 Menggunakan rumus jumlah dan selisih sinus dan kosinus

Aljabar

3. Menyusun persamaan lingkaran dan garis singgungnya

3.1 Menyusun persamaan lingkaran yang memenuhi persyaratan yang ditentukan

3.2 Menentukan persamaan garis singgung pada lingkaran dalam berbagai situasi

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

4. Menggunakan aturan sukubanyak dalam penyelesaian masalah

4.1 Menggunakan algoritma pembagian sukubanyak untuk menentukan hasil bagi dan sisa pembagian

4.2 Menggunakan teorema sisa dan teorema faktor dalam pemecahan masalah

5 Menentukan komposisi dua fungsi dan invers suatu fungsi 5.1 Menentukan komposisi fungsi dari dua fungsi

5.2 Menentukan invers suatu fungsi

Kalkulus

6. Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah

6.1 Menjelaskan secara intuitif arti limit fungsi di suatu titik dan di takhingga

6.2 Menggunakan sifat limit fungsi untuk menghitung bentuk tak tentu fungsi aljabar dan trigonometri

6.3 Menggunakan konsep dan aturan turunan dalam perhitungan turunan fungsi

6.4 Menggunakan turunan untuk menentukan karakteristik suatu fungsi dan memecahkan masalah

6.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi

6.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi dan penafsirannya

Program Ilmu Pengetahuan Alam

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Kalkulus

1. Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah

1.1 Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu

1.2 Menghitung integral tak tentu dan integral tentu dari fungsi aljabar dan fungsi trigonometri yang sederhana

1.3 Menggunakan integral untuk menghitung luas daerah di bawah kurva dan volum benda putar

Aljabar

2. Menyelesaikan masalah program linear

2.1 Menyelesaikan sistem pertidaksamaan linear dua variabel

2.2 Merancang model matematika dari masalah program linear

2.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah program linear dan penafsirannya

3. Menggunakan konsep matriks, vektor, dan transformasi dalam pemecahan masalah 3.1 Menggunakan sifat-sifat dan operasi matriks untuk menunjukkan bahwa suatu matriks persegi merupakan invers dari matriks persegi lain

3.2 Menentukan determinan dan invers matriks 2 x 2

3.3 Menggunakan determinan dan invers dalam penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel

3.4 Menggunakan sifat-sifat dan operasi aljabar vektor dalam pemecahan masalah

3.5 Menggunakan sifat-sifat dan operasi perkalian skalar dua vektor dalam pemecahan masalah.

3.6 Menggunakan transformasi geometri yang dapat dinyatakan dengan matriks dalam pemecahan masalah

3.7 Menentukan komposisi dari beberapa transformasi geometri beserta matriks transformasinya

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

4. Menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah

4.1 Menentukan suku ke-n barisan dan jumlah n suku deret aritmetika dan geometri

4.2 Menggunakan notasi sigma dalam deret dan induksi matematika dalam pembuktian

4.3 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret

4.4 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret dan penafsirannya

5. Menggunakan aturan yang berkaitan dengan fungsi eksponen dan logaritma dalam pemecahan masalah 5.1 Menggunakan sifat-sifat fungsi eksponen dan logaritma dalam pemecahan masalah

5.2 Menggambar grafik fungsi eksponen dan logaritma

5.3 Menggunakan sifat-sifat fungsi eksponen atau logaritma dalam penyelesaian pertidaksamaan eksponen atau logaritma sederhana

Program Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Statistika dan Peluang

1. Menggunakan aturan statistika, kaidah pencacahan, dan sifat-sifat peluang dalam pemecahan masalah

1.1 Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive

1.2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta penafsirannya

1.3 Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak, dan ukuran penyebaran data, serta menafsirkannya

1.4 Menggunakan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah

1.5 Menentukan ruang sampel suatu percobaan

1.6 Menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

2. Menentukan komposisi dua fungsi dan invers suatu fungsi

2.1 Menentukan komposisi fungsi dari dua fungsi

2.2 Menentukan invers suatu fungsi

Kalkulus

3. Menggunakan konsep limit fungsi dan turunan fungsi dalam pemecahan masalah

3.1 Menghitung limit fungsi aljabar sederhana di suatu titik

3.2 Menggunakan sifat limit fungsi untuk menghitung bentuk tak tentu fungsi aljabar

3.3 Menggunakan sifat dan aturan turunan dalam perhitungan turunan fungsi aljabar

3.4 Menggunakan turunan untuk menentukan karakteristik suatu fungsi aljabar dan memecahkan masalah

3.5 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi aljabar

3.6 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan ekstrim fungsi aljabar dan penafsirannya

Program Ilmu Pengetahuan Sosial

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Kalkulus

1. Menggunakan konsep integral dalam pemecahan masalah sederhana

1.1 Memahami konsep integral tak tentu dan integral tentu

1.2 Menghitung integral tak tentu dan integral tentu dari fungsi aljabar sederhana

1.3 Menggunakan integral untuk menghitung luas daerah di bawah kurva

Aljabar

2. Menyelesaikan masalah program linear

2.1 Menyelesaikan sistem pertidaksamaan linear dua variabel

2.2 Merancang model matematika dari masalah program linear

2.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah program linear dan penafsirannya

3. Menggunakan matriks dalam pemecahan masalah 3.1 Menggunakan sifat-sifat dan operasi matriks untuk menunjukkan bahwa suatu matriks persegi merupakan invers dari matriks persegi lain

3.2 Menentukan determinan dan invers matriks 2 x 2

3.3 Menggunakan determinan dan invers dalam penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

4. Menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah

4.1 Menentukan suku ke-n barisan dan jumlah n suku deret aritmetika dan geometri

4.2 Merancang model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret

4.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan deret dan menafsirkan solusinya

Program Bahasa

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Statistika dan Peluang

1. Melakukan pengolahan, penyajian dan penafsiran data

1.1 Membaca data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta pemaknaannya

1.2 Menyajikan data dalam bentuk tabel dan diagram batang, garis, lingkaran, dan ogive serta pemaknaannya

1.3 Menghitung ukuran pemusatan, ukuran letak dan ukuran penyebaran data, serta menafsirkannya

Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Statistika dan Peluang

2. Menggunakan kaidah pencacahan untuk menentukan peluang suatu kejadian dan penafsirannya

2.1 Menggunakan sifat dan aturan perkalian, permutasi, dan kombinasi dalam pemecahan masalah

2.2 Menentukan ruang sampel suatu percobaan

2.3 Menentukan peluang suatu kejadian dan menafsirkannya

Program Bahasa

Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

1. Menyelesaikan masalah program linear

1.1 Menyelesaikan sistem pertidaksamaan linear dua variabel

1.2 Merancang model matematika dari masalah program linear

1.3 Menyelesaikan model matematika dari masalah program linear dan menafsirkan solusinya

2. Menggunakan matriks dalam pemecahan masalah 2.1 Menggunakan sifat-sifat dan operasi matriks untuk menunjukkan bahwa suatu matriks persegi merupakan invers dari matriks persegi lain

2.2 Menentukan determinan dan invers matriks 2 x 2

2.3 Menggunakan determinan dan invers dalam penyelesaian sistem persamaan linear dua variabel

Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar

Aljabar

3 Menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah

3.1 Menentukan suku ke-n barisan dan jumlah n suku deret aritmetika dan geometri

3.2 Memecahkan masalah yang berkaitan dengan deret dan menafsirkan solusinya

Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)


Semua guru profesional dituntut terampil mengajar tidak semata-mata hanya menyajikan materi ajar. Guru dituntut memiliki pendekatan mengajar sesuai dengan tujuan instruksional. Menguasai dan memahami materi yang akan diajarkan agar dengan cara demikian pembelajar akan benar-benar memahami apa yang akan diajarkan. Piaget dan Chomsky berbeda pendapat dalam hal hakikat manusia. Piaget memandang anak-akalnya-sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus-menerus.

Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) menuntut keterlibatan mental siswa terhadap bahan yang dipelajari. CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pendekatan CBSA menuntut keterlibatan mental vang tinggi sehingga terjadi proses-proses mental yang berhubungan dengan aspek-aspek kognitif, afektif dan psikomolorik. Melalui proses kognitif pembelajar akan memiliki penguasaan konsep dan prinsip.

Konsep CBSA yang dalam bahasa Inggris disebut Student Active Learning (SAL) dapat membantu pengajar meningkatkan daya kognitif pembelajar. Kadar aktivitas pembelajar masih rendah dan belum terpogram. Akan tetapi dengan CBSA para pembelajar dapat melatih diri menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka. Tidak untuk dikerjakan di rumah tetapi dikerjakan dikelas secara bersama-sama.

Dasar-Dasar Pemikiran Pendekatan CBSA

Usaha penerapan dan peningkatan CBSA dalam kegiatan Belajar Mengajar (KBM) merupakan usaha “proses pembangkitan kembali” atau proses pemantapan konsep CBSA yang telah ada. Untuk itu perlu dikaji alasan-alasan kebangkitan kembali dan usaha peningkatan CBSA dasar dan alasan usaha peningkatan CBSA secara rasional adalah sebagai berikut:

1. Rasional atau dasar pemikiran dan alasan usaha peningkatan CBSA dapat ditinjau kembali pada hakikat CBSA dan tujuan pendekatan itu sendiri. Dengan cara demikian pembelajar dapat diketahui potensi, tendensi dan terbentuknya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimilikinya. Pada dasarnya dapat diketahui bahwa baik pembelajar. materi pelajaran, cara penyajian atau disebut juga pendekatan-pendekatan berkembang. Jadi hampir semua komponen proses belajar mengajar mengalami perubahan.

Perubahan ini mengarah ke segi-segi positif yang harus didukung oleh tindakan secara intelektual, oleh kemauan, kebiasaan belajar yang teratur, mempersenang diri pada waktu belajar hendaknya tercipta baik di sekolah maupun di rumah. Bukankah materi pelajaran itu banyak, bervariasi dan ini akan memotivasi pembelajar memiliki kebiasaan belalar. Dalam hubungannya dengan CBSA salah satu kompetensi yang dituntut ialah memiliki kemampuan profesional, mampu memiliki strategi dengan pendekatan yang tepat.

2. Implikasi mental-intelektual-emosional yang semaksimal mungkin dalam kegiatan belajar mengajar akan mampu menimbulkan nilai yang berharga dan gairah belajar menjadi makin meningkat. Komunikasi dua arah (seperti halnya pada teori pusaran atau kumparan elektronik) menantang pembelajar berkomunikasi searah yang kurang bisa membantu meningkatkan konsentrasi. Sifat melit yang disebut juga ingin tahu (curionsity) pembelajar dimotivasi oleh aktivitas yang telah dilakukan. Pengalaman belajar akan memberi kesempatan untuk rnelakukan proses belajar berikutnya dan akan menimbulkan kreativitas sesuai dengan isi materi pelajaran.

3. Upaya memperbanyak arah komunikasi dan menerapkan banyak metode, media secara bervariasi dapat berdampak positif. Cara seperti itu juga akan memberi peluang memperoleh balikan untuk menilai efektivitas pembelajar itu. Ini dimaksud balikan tidak ditunggu sampai ujian akhir tetapi dapat diperoleh pembelajar dengan segera. Dengan demikian kesalahan-kesalahan dan kekeliruan dapat segera diperbaiki. Jadi, CBSA memberi alasan untuk dilaksanakan penilaian secara efektif, secara terus-menerus melalui tes akhir tatap muka, tes formatif dan tes sumatif.

4. Dilihat dari segi pemenuhan meningkatkan mutu pendidikan di LP’TK (Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidik) maka strategi dengan pendekatan CBSA layak mendapat prioritas utama. Dengan wawasan pendidikan sebagai proses belajar mengajar menggarisbawahi betapa pentingnya proses belajar mengajar yang tanggung jawabnya diserahkan sepenuhnya kepada pembelajar. Dalam hal ini materi pembelajar harus benar-benar dibuat sesuai dengan kemampuan berpikir mandiri, pembentukan kemauan si pembelajar. Situasi pembelajar mampu menumbuhkan kemampuan dalam memecahkan masalah secara abstrak, dan juga mencari pemecahan secara praktik.

Hakikat Pendekatan CBSA

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada siswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.

Hakekat dari CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:

o Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan

o Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan

o Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap

Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.

Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkan menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar.

Prinsip-Prinsip Pendekatan CBSA

Prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :

* Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direncanakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.

* Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.

* Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang oleh guru.

* Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.

* Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.

b. Dimensi Guru

* Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.

* Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.

* Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.

* Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara serta tingkat kemampuan masing-masing.

* Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.

c. Dimensi Program

* Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.

* Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep maupun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.

* Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

d. Dimensi situasi belajar-mengajar

* Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.

* Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

5. Rambu-Rambu Pendekatan CBSA

Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.

a. Berdasarkan pengelompokan siswa

Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru harus disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.

b. Berdasarkan kecepatan Masing-Masing siswa

Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

c. Pengelompokan berdasarkan kemampuan

Pengelompokan yang homogin dan didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satu kelompok maka hal ini mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.

d. Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat

Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.

e. Berdasarkan domein-domein tujuan

Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:

§ Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah:

1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta.

2) Domein afektif, aspek sikap.

3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.

§ Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah:

1) Keterampilan intelektual.

2) Strategi kognitif.

3) Informasi verbal.

4) Keterampilan motorik.

5) Sikap dan nilai.

CBSA dapat diterapkan dalam setiap proses belajar mengajar. Kadar CBSA dalam setiap proses belajar mengajar dipengaruhi oleh penggunaan strategi belajar mengajar yang diperoleh. Dalam mengkaji ke-CBSA-an dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar, Ausubel mengemukakan dua dimensi, yaitu kebermaknaan bahan serta proses belajar mengajar dan modus kegiatan belajar mengajar. Ausubel mengecam pendapat yang menganggap bahwa kegiatan belajar mengajar dengan modus ekspositorik, misalnya dalam bentuk ceramah mesti kurang bermakna bagi siwa dan sebaliknya kegiatan belajar mengajar dengan modus discovery dianggap selalu bermakna secara optimal. Menurutnya kedua dimensi yang dikemukakan adalah independen, sehingga mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus ekspositorik sangat bermakna dan sebaliknya mungkin saja terjadi pengalaman belajar mengajar dengan modus discovery tetapi tanpa sepenuhnya dimengerti oleh siswa. Yang penting adalah terjadinya asimilasi kognitif pengalaman belajar itu sendiri oleh siswa.

Pengayaan

Memang, kita tidak perlu memperdebatkan dengan UN – Ujian Nasional. Memang, Sejak awal 1950-an, pemerintah menjadi penyelenggara tunggal ujian akhir. Kebijakan ini terus berlangsung sampai awal 1970-an. "Revolusi" pendidikan kembali terjadi ketika pemerintah membebaskan sekolah menyelenggarakan ujian sendiri sejak 1972.

Sebenarnya, yang harus diperdebatkan adalah bagaimana kurikulum pendidikan nasional. Salah satu kurikulum yang pernah populer adalah program Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Metode CBSA merangsang anak berpikir mandiri, mampu menemukan persoalan, dan dibahas bersama. Harapannya agar siswa mampu memahami persoalan secara komprehensif. Namun, mereka yang terbiasa ber-CBSA terbentur UN. Di depan lembar soal, mereka cuma diminta memilih, bukan menganalisis masalah dan menemukan jawabannya. Dalam penerapan metode belajar aktif yang benar, siswa dan guru sama-sama aktifnya.

Kalau ditilik lebih dalam, sebenarnya metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM (pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya dikalangan praktisi pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat anak mau menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.

Sebuah lelucon mengenai metode belajar aktif di sekolah dasar. “Metode belajar aktif yang terjadi adalah guru bermalas-malasan, sedangkan yang aktif justru muridnya. Murid diminta untuk mencatat, menyalin dan dibebani banyak sekali pekerjaan rumah. Dengan demikian ada kesalahan dalam menerjemahkan pendekatan pembelajaran. Tidak mungkin tercapai nuansa PAKEM apabila siswa dalam hal ini malah terbebani sedangkan guru juga tidak tentu arah dalam melaksanakan dan merencanakan pembelajaran dikelas.

Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik. Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.

Guru sebagai pihak yang;

* merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan di dalam kelas.

* membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai adalah belajar dengan bekerja sama)

* membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.

* Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang setara dan seimbang

* Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut psikomotorik)

* Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek

* Membuat portfolio pekerjaan siswa.

Siswa menjadi pihak yang;

* menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir

* melakukan riset sederhana

* mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang.

* memecahkan masalah (problem solving),

* belajar mengatur waktu dengan baik,

* melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)

* mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action.

* Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan, mendengarkan guest speaker)

* Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok.

Belajar dari Renald Kasali

Ada artikel yang menarik yang masih berkaitan dengan CBSA, yaitu PCL yang ditulis Rhenald Kasali di harian Seputar Indonesia. Begini kutipan lebih lengkap;

Banyak hal telah berubah, namun kita tetap saja melakukan hal yang sama berulang-ulang. Itulah yang terjadi dengan kita dalam berbagai hal, mulai dari membuat kopi, mengambil jalan menuju tempat bekerja, menulis surat, memimpin rapat, memimpin kantor, melakukan presentasi, sampai mengajar (untuk para guru dan dosen). Kita mengulangi segalanya dalam bentuk kebiasaan (habit) dan ketika harus diubah, rasanya sulit sekali.

Rasa sulit itu sama seperti seseorang yang merubah letak jam tangannya dari tangan kiri ke tangan kakan atau sebaliknya. Hal seperti itulah yang juga dialami oleh para guru dan dosen dalam mengajar. Semua orang di sini terbiasa mengajar dengan cara “menyuapi” anak didiknya. Dalam bahasa ilmiah cara itu kita sebut lecturing atau “memberi kuliah”. Murid mendengarkan, guru berbicara.

Murid Tak Mendengarkan

Tak seorang pun menyadari bahwa cara-cara lama itu sudah tidak efektif lagi. Di berbagai sekolah dan universitas murid-murid cenderung tidak mendengarkan gurunya. Mereka semakin asyik dengan diri mereka masing-masing. Kalaupun guru atau dosennya galak, mereka hanya bisa diam sebentar karena takut. Mereka mencatat namun pikiran mereka ada di tempat lain. Ada di handphone, internet, black berry, facebook, video game, musik, taman, dsb.

Dalam berbagai kesempatan kita juga pernah menyaksikan pidato-pidato para pejabat dan presiden yang ditinggal ditur oleh audience. Bukannya apa-apa, mendengar itu memang meletihkan. Apalagi kalau yang berbicara hanya membaca, memberi pesan yang kurang menarik, nada suaranya datar, wajahnya terlalu serius, dan tak menjalin interaksi. Rasanya ingin sekali kita cepat-cepat meninggalkan ruangan, menuju taman di depan, berbicara dan tertawa dengan teman-teman.

Inilah sebuah zaman yang kita sebut dengan era partisipatif. Di era ini, semua orang ingin berpartisipasi dan terlibat. Ingin berbicara apa saja, yang penting bisa ikutan. Celakanya sedikit sekali guru dan pemimpin yang mau memperhatikan hal ini dan merubah cara penyampaian mereka.

Sekitar 7 tahun yang silam, bersama-sama dengan teman-teman yang baru kembali dari Harvard, saya memperkenalkan metode baru dalam pengajaran yang kelak berdampak luas dalam teknik presentasi. Metode itu kita sebut dengan PCL (Participant Centered Learning). Pusat pembelajaran atau peresentasi itu ada si kelapa para partisipan, audience, bukan di tangana presenter, pemimpin, guru atau dosen.

Belakangan ini kampus-kampus mulai memperkenalkan metode SCL atau Student Centered Learning dan PBL atau Problem-Based Learning. Setelah saya pelajari, ternyata maksud dan tujuan kedua metode itu sebenarnya sama saja dengan PCL, yaitu mendorong keterlibatan audience. Hanya bedanya di level pendidikan yang lebih tinggi, audience tidak ingin diperlakukan sebagai student. Mereka ingin diperlakukan sebagai subjek, yaitu partisipan.

Monalisa Smile

Anda mungkin masih ingat dengan film Monalisa Smile yang dibintangi oleh Julia Roberts. Film ini selalu saya pakai dalam membantu memahami metode PCL. Dalam film itu diceritakan tentang seorang guru yang habis dikerjai murid-muridnya yang pintar dan aktif.

Saat pertama melakukan presentasi, Julia Roberts mengalami kegagalan. Semua slides yang ia presentasikan diambil dari buku dan celakanya semua audience-nya sudah membaca isi buku itu. Setiap slide baru dipresentasikan, murid-muridnya angkat tangan dan mempu menerangkan isinya sebelum sang guru menyelesaikan penjelasannya. Julia Roberts benar-benar mati akal, gugup dan menjadi terlihat bodoh.

Bagian film itu selalu kami diskusikan dan saya katakan pada para mahasiswa, seperti itulah audience yang saya inginkan. Semua harus sudah membaca dan siap. Sebab, seperti yang pernah dikatakan Plato, guru hanya akan datang kalau murid-muridnya siap.

Tapi benarkah mereka membaca sebelum masuk kelas? Bisakah kita memaksa mreka? Anda benar! Tradisi kita memang bukan tradisi membaca, sudah begitu, kalau ada satu audience yang kelihatan tahu dan membaca, maka ia selalu menjadi sasaran olok-olok teman-temannya. Mengapa begitu? Karena sebagian besar orang tidak membaca. Jadi mereka tidak ingin kelihatan bodoh, hanya karena ada temannya yang jalan lebih cepat.

Namun demikian, hal ini ternyata bukan hanya merupakan kesalahan audience (murid). Kesalahan terbesar justru ada di tangan presenter atau guru/dosen. Mengapa harus membaca kalau semua ini akan diceritakan secara penuh oleh guru atau dosennya? Bahkan, Bapak/ Ibu guru sudah memilihkan bagian-bagian yang penting-penting dari isi buku. Toh ujian tertulisnya semua bersumber dari catatan kuliah/kelas, bukan dari buku.

Kenyataan ini berbeda benar dengan yang dilakukan di negara-negara barat. Di sana, seorang guru atau dosen bukanlah seorang ‘tukang cekok’ yang memaksakan obat ke mulut anak didiknya. Tugas pendidik adalah membuat anak-anak didiknya senang belajar, gemar membaca dan berpikir kritis. Jadi di kelas, seorang guru tidak lagi memaparkan isi buku melainkan membentuk pikiran dan menjaga antusiasme audiencenya. Akibatnya, anak-anak didiknya mampu berpikir kritis, terbebas dari belenggu-belenggu dogmatis dan mampu berpikir “out of the box”.

Dunia Partisipatif

Dalam bagian lain dari film Monalisa Smile yang juga saya gunakan, Julia Roberts telah mengubah cara menyampaikan materi. Kali ini ia yang pegang kendali. Sadar yang dididik siswa-siswa pandai, maka ia menyodorkan bahan-bahan kehidupan. Slides presentasinya itu tidak ada di silabus atau di buku. Semua audience tercengang dan berkata, “Apa itu?” Ia menjawab, “Kalian yang terangkan pada saya, apa itu?”

Audience mulai binggung karena selama ini terbiasa berpikir buku teks. Mereka semua ribut, beda pendapat, mencari standar. Itulah saatnya seorang guru membentuk murid-muridnya.

Bagian film kedua ini saya tujukan kepara para pemimpin, guru, dosen, dan calon-calon presenter. Saya selalu mengatakan inilah guru dan pemimpin yang dibutuhkan bangsa ini. Guru yang membebaskan anak-anak didiknya dari belenggu-belenggu, dan guru yang menumbuhkan antusiasme.

Dalam berbagai kesempatan, tampak jelas, masalah terbesar pendidikan bangsa ini bukan berada di tangan para anak didik, rakyat, atau umat yang malas membaca, melainkan ada di tangan para pemimpin, guru-guru, dan para elit yang terlalu asyik dengan pikiran-pikirannya sendiri dan terbiasa mencekoki anak kecil. Mereka lupa bahwa rakyatnya dan anak-anak didiknya telah berubah. Inilah zaman partisipatif, zaman dimana semua orang sudah terkait satu dengan yang lain, yang menuntut antusiasme, kesetaraan dan tentu saja pemimpin yang mau mendengarkan. Itulah esensi dari PCL yang artinya Participant Centered Learning.

foto: google.com

Tuesday, April 28, 2009

Studi ke Belanda, Melanjutkan Cita-Cita Munir

Tak terasa, dunia terus berputar dan waktu terus menggelinding. Kenangan terhadap almarhum Munir, tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) pun terus berjalan seiring dengan jarum jam. Tak terasa telah empat tahun sudah, Munir telah meninggalkan kita.

Hanya ingin sedikit menguak kenangan kita saja. Ketika itu Senin malam (6/9/2004), Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk mengejar cita-cita kuliah di Belanda. Namun tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, atau pada Selasa pagi (7/9/2004), Munir tak sadarkan diri.

Laporan media-media menunjukkan bahwa Munir meninggal diracun dalam penerbangan pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta ke Amsterdam. Sejauh ini, Suciwati, istri Munir, dan teman-teman kontras dan aktivias LSM lainnya terus berjuang untuk mengetahui siapa dalang pembunuhan pejuang HAM tersebut.

Sebenarnya, saya hanya mengetahui perjuangan Munir dari televisi dan koran. Saya juga kaget ketika Munir menjadi korban. Kadang, saya tak habis pikir ada pihak yang mengasosiasikan Munir dengan ancaman atau rencana pembunuhan. “Awas lho, entar di-munirkan,” demikian akrab di kalangan teman-teman NGO (Non Governmental Organization). Masya Allah...

Secara langsung, saya tidak pernah bertemu dengan Munir ketika masih hidup. Saya hanya pernah sekali bertemu dengan istri Munir, Suciwati di sebuah forum 100 hari peringatan kematian Munir di kampus Brawijaya tahun 2004. Ketika itu, saya masih kuliah.

Pada acara yang digelar Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu, Suciwati menceritakan dengan detail kronologis kematian sang suami. Acara itu tak berlangung lama. Salah satu teman saya, Agustinus Mujiraharjo, sontak berdiri setelah acara itu selesai. Dia mengambil satu tangkai bunga mawar merah.

“Untuk apa gus?” tanyaku padanya. “Aku mau kasih bunga mawar merah ini pada Suciwati,” jawab Agustinus. Agustinus tanpa canggung pun menyerahkan bunga mawar itu pada istri Munir. Tanpa obrolan, Suciwati hanya tersenyum atas simpati. Sayangnya, ketika itu, saya hanya terdiam dan termangu melihat aksi Agustinus tersebut.

Perjuangan Munir

Dari beberapa koran dan buku yang pernah saya baca tentang Munir, dia merupakan tokoh yang cukup kontroversi. Pria keturunan Arab ini lahir di Malang, pada Rabu, 8 Desember 1965. Dia meraih gelar sarjana hukum di Universitas Brawijaya Malang pada 1989.

Pada 1989, Munir masuk ke LBH Malang sebagai sukarelawan, lalu memutuskan total sebagai orang LBH. Pada tahun 1995, Munir mendapat promosi menjabat sebagai Direktur LBH Semarang selama tiga bulan. Lalu ditarik ke YLBHI, Jakarta, merangkap sebagai Koordinator Kontras pada 1998.

Saat menjadi ketua Kontras, namanya paling diingat ketika membela para aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.

Aktivitas Munir yang sangat berani itu kemudian mengantarnya memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000), sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif bidang pemajuan HAM dan Kontrol Sipil terhadap Militer di Indonesia. Yang mengharukan, Man of the Year 1998 versi majalah Ummat itu tidak tergoda untuk memiliki semua hadiah yang didapatkannya itu. Majalah Asiaweek pada Oktober 1999 menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru.

Cita-Cita Munir

Yang perlu dicatat, Munir tewas dalam pesawat yang akan mengantarkannya studi di Belanda. Munir berencana kuliah di Universitas Utrecht atas undangan lembaga dana Belanda ICCO. Jelas, sekali bahwa cita-cita Munir untuk kuliah di Belanda tidak tercapai. Memang takdir yang berkata lain ketika manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan....

Walaupun nama Munir sebelum meninggal telah menginternasional, tetap saja semangatnya untuk terus belajar dan mengkaji ilmu tak pernah berhenti. Munir tidak pernah merasa puas untuk belajar dan terus belajar, tanpa mengenal usia. Munir paham bahwa dengan ilmu, manusia akan terasa kecil karena luasnya ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pulalah, kita bisa berbagi dengan orang lain.

Jelas sekali, kuliah hukum di Utrecht hanya satu dari banyak sekali cita-cita sang Almarhum. Tentunya, cita-cita Munir dalam kehidupannya, yang pernah saya tahu, adalah bermanfaat bagi orang lain. “Hidup kami bersama Munir sangat bahagia. Ukuran kami bukan materi, melainkan seberapa besar hidup ini berguna bagi orang lain,” kata Suciwati istri Alm Munir seperti dikutip dari Harian Suara Merdeka. Sungguh mulia cita-cita sang Munir.

Kenapa Munir bercita-cita kuliah di Belanda. Saya pribadi tak mengetahui itu. Browsing bersama prof google pun, saya tak menemukannya. Hanya saja, berdasarkan cerita teman-teman saya di NGO, Belanda dikenal sebagai gudang ilmu para aktivis Indonesia. Belanda dikenal menampung para aktivis yang sering menyuarakan suara hati masyarakat tanpa kenal lelah dan takut. Saya pikir, Munir memilih Belanda, disebabkan karena faktor tersebut.

Ditambah lagi, sistem pendidikan di Belanda sangat membuka kesempatan untuk mengembangkan pemikiran dan kreativitas dalam konteks ilmu pengetahuan. Sangat kontas dengan pendidikan di Indonesia yang lebih mengarah pada teacher mainstream. “Guru atau dosen adalah segalanya di depan kelas,” pendapatku. Para aktivis dan orang yang bergelut dengan dunia sosial sangat menolak ide seperti. Saya pikir termasuk Munir.

Dalam buku study in holland terbitan NESO, dijelaskan dengan gamblang. Mungkin ini adalah jawaban kenapa Munir memilih kuliah di Belanda. “Sistem pengajaran di Belanda

Menghargai pendapat dan keyakinan individu merupakan landasan negara Belanda yang mampu memperkokoh akar masyarakat negara ini yang dikenal dengan keragaman dan masyarakat yang pluralistik. Ini juga merupakan landasan utama dari metode pengajaran yang diberlakukan di universitas Belanda. Gaya pengajaran yang demikian memberikan perhatian dan kebebasan bagi siswa untuk mengembangkan pendapat dana kreativtas dalam aplikasinya.”

Terus, kuliah di Belanda lebih mudah. Karena 1.391 program berbahasa inggris. Belanda merpakan negara non berbahasa inggris pertama yang menawarkan program studi berbahasa inggris. Lebih dari 1.391 program berbahasa inggris untuk berbagai bidang yang ditawarkan universitas Belanda. Jadi Belanda memang t o p....dalam hal pendidikan.

Apalagi, pendidikan tinggi Belanda telah diakui reputasinya di duia. Hal ini tercipta melalu sistem nasional dan jaminan mutu. The Times Higher Education Supplement menempatkan 11 universitas di Belanda sebagai bagian dari 200 universitas terpopuler di dunia. Belanda juga diakui dunia intrnasional sebagai pencetus sistem problem-based learning yang mengajarkan siswa untuk dapat menganalisis dan memecahkan masalah secara mandiri dengan menitikberatkan pada belajar mandiri dan disiplin.

Yang membedakan dengan Indonesia, Sistem pendidikan tinggi di belanda tersedia dua jenis pendidikan regular yang utama yaitu universitas riset dan university of applied sciences. Di Belanda ada 14 universitas riset, tiga diantaranya memiliki spesialisasi di bidang teknik. Pada prinsipnya, universitas tersebut melatih mahasiswa menjadi ilmuwan dan pakar di salah satu bidang, namun banyak program studi juga mengarah ke lingkungan profesional. Sedangkan university of applied sciences lebih berorientasi ke praktek, mahasiswa langsung diarahkan untuk meraih jenjang karir di bidangnya.

Sumber

Harian Suara Indonesia

Harian Suara Merdeka

Study in holland

Foto:

Daylife

Eurostep

nuffic

Thursday, April 23, 2009

Studi di Belanda, Antara Geert Wilders dan Nasi Goreng

Mendengar nama Belanda, masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Pertama yang benci tetapi rindu, dan kedua adalah mereka yang rindu tetapi dengan tanda tanya. Bisa dimaklumi, kalau benci tapi rindu, kebencian atau kedengkian masyarakat Indonesia dengan negara bekas penjajah itu. Kedua, mereka yang menganggap sejarah adalah masalah lalu, tetapi Belanda selalu menyimpan tanda tanya.

Nah, tanda tanya itu semakin menjadi-jadi pada awal 2008. Tepatnya ketika fim “Fitna” yang dirilis pada 27 Maret 2008 lalu dan beredar luas di internet, terutama situs Youtube. Kebencian sebagian masyarakat Indonesia terhadap Belanda meluap karena pembuat film tersebut merupakan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders.

Dendam masa lalu yang selama ini terpendam, meledak hanya karena sebuah film. Anehnya, pelampias dendam itu tidaklah tepat. Demonstrasi besar-besaran mengecam Wilders pun disangkut pautkan dengan Belanda. Bahkan, saya masih ketika salah satu organisasi Islam berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta dengan dengan melempari telur busuk. Lepas dari pro dan kontra film Fitna, saya tidak sepakat dengan demonstrasi yang terbilang anarkhis tersebut.

Bukannya kapok! Baru-baru ini, Geert Wilders pun berencana membuat sekuel film Fitna kembali. Seperti dilaporkan, harian terkemuka Inggris, Guardian, anggota parlemen yang dikenal sangat Islamfobia itu berencana membuat sekuel film Fitna yang berisi hujatan dan penistaan terhadap ajaran Islam.

Kabarnya, film baru itu bakal ditayangkan ke publik pada tahun depan. Parahnya lagi, Wilders mendapatkan bantuan dari sineas dari New York dan Hollywood untuk membuat film itu. “Kita harus menyerang lebih keras lagi, lebih ofensif,” tutur Wilders. Wah..wah... kalau film tersebut dirilis, di Indonesia bakal makin heboh menghujar Wilders yang diasosiasikan Belanda. Kita tunggu aja, tanggal mainnya....

Yang perlu diperhatikan sebenarnya, mengecam atau tidak suka dengan Wilders dan filmnya bukan dengan cara demonstrasi. Apalagi, kalau membakar bendera negara segala...wah parah kalau begitu. Walaupun saya tidak menyetujui apa yang dilakukan Wilders, saya tak perlu ikut demonstrasi. Padahal, ketika kuliah dulu, saya paling rajin ikut demonstrasi di kampus. Sering bentrok dengan polisi, keren bo. Sekarang, taubat lah...

Justru yang masih menjadi tanda tanya tentang Wilders adalah sosoknya. Saya ingin sekali bertemu dengannya. Bukannya untuk melempar telur busuk atau tomat mentah ke mukanya. Tapi, saya ingin berdiskusi dengan Wilders tentang kenapa dia membuat film Fitna. Walaupun, media-media Belanda dan Eropa telah mengupasnya detail. Harapannya, saya ingin mendengarkan langsung dari mulutnya mengenai film itu.

Untuk bisa mewawancarai Wilders, wah...harus pergi ke Belanda dung... ya jelas lah! Masa pake tabungan sendiri, wah nggak cukup! Hutang ke bank, nggak kuat membayar kreditnya. Kalau minta uang ke orang tua, wah malu...apalagi, panen di kampung halaman gagal total karena dimakan tikus. Nah, karena itu lah saya mengikuti lomba kompetiblog, siapa kira rejeki berpihak padaku, amien....

Jika saya berhasil mewawancarai Wilders, pertanyaan pertama saya adalah why are you hate Islam? Setelah itu, saya justru akan menguasai pembicaraan. Saya ingin menjelaskan tentang Islam yang ada di Indonesia atau saya kenal dengan nama Islam Nusantara itu berbeda dengan Islam di negara lain. Saya ingin mengatakan pada Wilders, Islam di Indonesia sangat menghargai perbedaan. “Why you can do like Indonesian?,” pertanyaan pungkasnya.

Wilders memang masih menjadi fenomena. Dengan mencuatnya kasus Wilders, tidak akan berdampak dengan minta orang Indonesia belajar ke Belanda. Saya pikir, dengan adanya kasus Wilders akan semakin banyak orang yang ingin mengkaji lebih dalam mengenai Belanda. Kenapa? Belanda merupakan salah satu tangga untuk meraih masa depan yang lebih baik, dan itu telah menjadi pandangan bagi para pemburu beasiswa.

Berangkat kembali dari kasus Wilders yang juga mendapatkan kecaman dari dalam negerinya sendiri. Ini merupakan sebuah keunikan dan keberagaman. Yah, masyarakat Belanda, saya kira, sama seperti masyarakat Indonesia. Yaitu, multikultur.

Dalam buku ‘tinggal dan studi 2009/2010’ yang saya peroleh gratis dari NESO, menuliskan bahwa ‘sejak beberapa dasawarsa yang lalu sejarah negara ini menyebabkan banyak warga dari negara lain yang hidup di Belanda.’ Hanya saja, bedanya multikultur di Belanda lebih mengarah pada bangsa, sedangkan di Indonesia lebih mengarah pada suku.

“Beragamnya budaya menyebabkan Belanda menjadi negara pertemuan ilmu pengetahuan, ide-ide dan budaya dari seluruh dunia,” demikian ditulis dalam buku panduan study in holland.

, kenapa di Indonesia juga kaya akan budaya, tetapi kok tidak menjadi pusat ilmu pengetahuan. Nah, untuk bisa menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya, alangkah baiknya jika belajar dari Belanda. Saya yakin, dalam beberapa dekade kedepan, Indonesia bakal bersaing dengan Belanda. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, tingal memoles sumber daya manusianya saja.

Hal yang lain yang menjadikan Belanda menarik, selain karena faktor Wilders, adalah faktor kepribadian warganya. Ketika saya bekerja menjadi pemandu wisatawan di Bali, saya memiliki tamu wisatawan asal Belanda. Mereka sangat enak diajak komunikasi. Sedikit tegas, tetapi tidak mudah tersinggung seperti orang Jerman. Walaupun baru pertama kali kenal, mereka langsung cair dan bisa menjadi teman yang asyik. Dalam hatiku, mungkin mereka berpikir kasihan pada orang Indonesia yang pernah dijajah kakek buyut mereka.

Hal yang masih berkaitan dengan Wilders, walaupun dia sempat membuat kekacauan di Belanda. Tetapi, Belanda tidak kacau. Ini merupakan bukti bahwa Belanda merupakan negara yang aman. Beberapa teman saya yang pernah kuliah di Belanda bilang, Belanda merupakan negara yang paling aman. Jarang sekali terjadi tindak kekerasan dan kriminal di jalanan. Wah makin yakin belajar di Belanda dung....

Belanda sangat berbeda dengan AS. Padahal, minat mahasiswa Indonesia belajar di Negeri Paman Sam lebih tinggi dibandingkan minat ke Negeri Kincir Angin. Mulai dari aksi penembakan yang sering diberitakan di televisi dan koran berulang kali terjadi AS. Bahkan, Pemerintah China pada Maret 2008 lalu pernah menuduh AS tidak mampu menangani kemiskinan, dan memerangi kejahatan.

Laporan Xinhua menyebutkan, sebanyak 25 juta penduduk AS diatas usia 12 tahun ke atas terlibat kejahatan pada 2006. Kejahatan rata-rata per 24,6 orang menjadi korban kejahatan di Amerika per 1.000 orang. Sedangkan sebanyak 159,5 dari 1.000 juga menjadi korban pencurian dan perampokan. Setiap 22,2 detik selalu terjadi satu tindak kejahatan. Setiap 30,9 menit di Amerika dilaporkan terdapat satu orang tewas di bunuh.

Pemerkosaan di AS terjadi setiap 5,7 menit. Parahnya lagi sekitar 30.000 orang tewas karena senjata api di Negeri Paman Sam itu setiap tahun. Wah kok serem sekali, lebih baik kuliah di Belanda saja....aman coy...(kata Budi Anduk, Tawa Sutra).

Tema kali ini lepas dari kaitannya dengan Wilders. Saya akan membahas tentang makanan khas Belanda! Kuliner, mak nyus....seperti kata Bondan Winarno. Tapi, sepengetahuan saya kuliner Belanda tidak terlalu mendunia. Berbeda dengan Prancis. Jangan-jangan, orang Belanda tidak suka memasak, seperti orang Indonesia atau bangsa lainnya. Yah...berarti kalau ke Belanda, makannya Cuma kentang, sup, dan salad. Membosankan dung.... masa ke Belanda hanya untuk makan nasi goreng...hahahaha.

Meningat saya adalah orang desa yang merantau ke kota. Saya pingin sekali mengetahui sistem pertanian di Belanda. Dari buku panduan study in holland menyebutkan, Belanda mengekspor produk-produk pertanian ke seluruh dunia. Wah keren dung.... apalagi, seperlima ekspor belada adalah produk makanan dan bunga. Padahal, Indonesia mengekspor beras saja baru kemarin sore. Kita, sebagai bangsa Indonesia harus malu. Dengan negara yang luas, tetapi pertaniannya justru memble.

Saya ingin mengetahui lebih dekat bagaimana mekanisasi pertanian di Belanda. Dukungan dari para peneliti dan ilmuwan dalam hal pertanian sehingga kualitas dan kuantitas produk lebih terjaga. Walaupun, ilmu-ilmu cukup sulit diterapkan di kampung halaman saya nantinya. Maklum, sistem pertanian di kampung halaman saya masih tradisonal. Unsur mekanisasinya belum sepenuhnya dijalankan.

Yah...kepanjangan ya tulisan ini...tak apa lah yang penting memberikan manfaat. Yang penting, bagi Anda yang ingin studi ke Belanda, tetap semangat! Sampai ketemu di Belanda ya...amien...

Kredit foto:

guardian.jpg

hickerphoto.jpg

bbc

Referensi:

Guardian

Xinhua

Seputar-Indonesia

Tinggal dan studi 2009/2010 study in holland